POJOKSULSEL, MAKASSAR - Profesor pertama UIN Alauddin Makassar bidang Komunikasi Politik Islam dikukuhkan sebagai guru besar tetap. Ia adalah Prof Dr Firdaus Muhammad.
Firdaus Muhammad meraih gelar profesor bidang Komunikasi Politik Islam pada usia 47 tahun.
Komunikasi Politik Islam merupakan bidang yang masih sedikit digeluti oleh akademisi di Indonesia. Hal itu menjadi tantangan Firdaus Muhammad.
Ia mulai telusur dan menulis jejak rekam ulama-ulama Sulsel dan Sulbar, dalam menyebarkan dakwah Islam.
Setidaknya dalam kurun waktu satu dekeda terakhir, ada 200-an profil ulama telah ditulisnya. Semangatnya tidak pernah surut menyampaikan ke publik terkait perjalanan dakwah ulama-ulama Sulsel dan Sulbar.
"Saya menulis Scopus Komunikasi Politik Syekh Yusuf, yang belum banyak dikaji orang," katanya sehari sebelum menerima KMA Guru Besar pada pertengahan Januari 2024.
Baca Juga: Pilkada Bone 2024: Dr Rahmatunnair, dari Santri Menuju Kursi Bupati
Prof Firdaus Muhammad juga sudah menulis 20-an buku. Ia termasuk akademisi yang produktif menulis.
Di antara bukunya yang sudah diterbitkan, yakni Komunikasi Politik Persfektif Komunikasi Islam (Teori, Startegi dan, Aplikasi) diterbitkan pada tahun 2022, Satu Abad Komunikasi NU (2022).
Ia juga pernah menulis buku berjudul Politik Profetik Reinventing Kepemimpinan Politik Rasulullah (2014).
Baca Juga: Nathan Kembali Gabung Timnas U-23 Indonesia vs Korea Selatan, Erick Akui Peran Netizen
Mantan Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, itu bertekad memperjuangkan nilai-nilai politik keislaman.
"Nilai-nilai politik keislaman itu yang harus diperjuangkan. Apalagi kan branded-nya dari UIN," kata Firdaus Muhammad saat itu kepada wartawan pojoksulsel.
Ia mengatakan, komunikasi politik Islam masih belum banyak dikaji. Padahal, topik tersebut adalah ikhtiar perjuangan meneladani kepemimpinan politik nabi, sahabat hingga para ulama.
"Memang yang harus diperjuangkan adalah meneladani kepemimpinan politiknya nabi, itu di antaranya," katanya.
Prof Firdaus Muhammad mengatakan, dalam perjalanannya yang fokus mengkaji komunikasi politik Islam, ia menemukan bahwa ulama-ulama itu mengembangkan komunikasi politik.
Baca Juga: Presiden Jokowi Resmikan Tiga Ruas Jalan Sepanjang 22,4 Km di Sulawesi Barat, Ini Titiknya
Ia menjelaskan, keberhasilan Islam itu dikembangkan melalui jalur politik. Tapi bukan politik pragmatis. Melainkan politik sebagai alat untuk dakwah.
Komunikasi politik yang dikembangkan para ulama, lanjut Prof Firdaus Muhammad, berupa jalan kekuasaan untuk pengembangan dakwah. Mulai dari nabi, sahabat, hingga ulama Sulsel Syekh Yusuf.
"Bukan agama diperalat untuk kekuasaan. Tetapi jalan kekuasaan untuk pengembangan dakwah.di antaranya mulai nabi, sahabat, Syekh Yusuf," katanya.
Baca Juga: UTBK SNBT 2024, Unhas Siapkan 21 Lokasi Ujian, Libatkan 1.000 Dosen Sebagai Pengawas
Sebagai pengampuh mata kuliah komunikasi politik, Firdaus Muhammad dikenal sebagai pengamat dari UIN Alauddin Makassar.
Pikiran-pikirannya mulai mewarnai publik terkait situasi komunikasi politik di Sulsel hingga nasional.
Kiprahnya sebagai pengamat mendapat perhatian dari Rektor UIN Alauddin Makassar.
Pada momentum pengukuhannya sebagai guru besar tatap, Rektor UIN Alauddin Makassar mengungkapkan kebanggannya pada sosok Firdaus Muhammad.
Prof Hamdan Juhannis menyebut Prof Firdaus adalah pengamat politik andal yang dimiliki UIN Alauddin Makassar.
Kecakapan Prof Firdaus menjadi kesyukuran bagi istri dan anak-anaknya. Begitu juga dengan keluarga besarnya.
"Banggalah kita UIN Alauddin memiliki Prof Firdaus," ujar Guru Besar Sosiologi itu.
Baca Juga: Musrembang Tematik Pemprov Sulsel Digelar 25 April Mendatang, Fokus Bahas 3 Isu Penting Ini
Pada kesempatan yang sama, Prof Hamdan Juhannis menyebut Prof Firdaus Muhammad sebagai sosok luar biasa.
Hal itu karena Prof Firdaus Muhammad menulis secara khusus buku untuk pengukuhannya yang berjudul Garis Takdir Menjadi Guru Besar. ***




