JIKA telah tiba waktunya, ajal tidak mungkin tertunda walau sesaat. Hal itu yang terjadi pada Hari Kamis, 19 Desember 2024 pada saudara sealmamater kita Muh Tonang, yang sampai kini tercatat sebagai kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) RI Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Peristiwa itu tentu sangat mengejutkan karena disamping usia Muh Tonang masih relatif muda. Sepengetahuan kita Ia sehat wal afiat. Secara pribadi saya tidak pernah mendengar penyakit yang diidapnya. Akan tetapi, kita sadar juga bahwa kematian atau ajal tidak mengenal standar operasional.

Muh Tonang adalah alumni pesantren al-Junaidiyah Biru Bone (dulu bernama al-Ma’had Al-Hadis Biru). Muh Tonang nyantri di pondok itu selama 6 tahun MTS 1987-1990 dan MA 1990-1993.

Baca Juga: Komunitas Tangan di Atas Kickoff Pesta Wirausaha TDA 2025, Target 1.500 UMKM

Setelah tamat Ia melanjutkan pendidikan di jurusan Tafsir Hadis, Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin Ujung Pandang (Kini bernama UIN Alauddin Makassar).

Selama di Pondok, santri asal Sanrego ini biasa-biasa saja. Jika semua santri ibarat permata, Muh Tonang adalah permata yang belum menampakkan kilau dan cahayanya. Namanya tidak pernah disebut untuk sebuah capaian atau prestasi.

Muh Tonang lebih cepat dikenal karena namanya yang unik. Satu hal yang saya ingat tentang namanya. Ketika itu, saya menemaninya dalam proses pendaftaran penerimaan mahasiswa baru dari loket ke loket.

Baca Juga: Menpar Optimistis Pariwisata 2024 Lampaui Capaian Tahun Sebelumnya

Lelah dan penatnya calon santri baru yang antre itu seketika berganti menjadi gelak tawa saat mendengar nama unik dipanggil melalui toa “Muhammad Tonang”.

Kilau permata yang ber-DNA Enrekang ini nampak perlahan setelah menjadi mahasiswa. Muh Tonang terasah melalui jalur aktivis/organisasi. Ia segera bergabung di PMII ditahun pertama di Kampus.

Selain itu, bimbingan paman dan tantenya Prof Dr Harifuddin Cawidu dan Ibu Asmara juga merupakan faktor determinan kesuksesan Muh Tonang.

Baca Juga: Inilah 3 Guru Besar Perempuan Fakultas Kedokteran Unhas yang Baru Dikukuhkan

Selama kuliah di S1, Tonang tinggal di rumah sesepuh NU Sulsel itu, sampai-sampai para sahabat kerap menyematkan Tonang Cawidu.

Mendapat wadah yang cocok dan nyaman untuk mengasah kemampuan, Muh Tonang terus dan aktif berusaha meningkatkan kemampuan melalui kegiatan-kegiatan organisasi intra dan ekstra kampus.
Kemampuannya pun diperhitungkan antara lain dengan sukses menjadi sekum Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin di masanya. Setelah itu, satu persatu jabatan di organisasi diraihnya.

Berbekal pengalaman itulah Muh Tonang masuk di dunia birokrasi. Seperti diketahui, Ia memangku beberapa jabatan lingkup kanwil kemenag Sulsel sampai pada akhirnya menjadi orang nomor satu di kantor itu.

Dalam harapan dan perhitungan kita, Almarhum Muh Tonang masih dapat membuat capaian lebih tinggi, namun apa daya, Allah telah menetapkan kesempatan dan perannya sudah sampai. Beliau pergi untuk selamanya dalam situasi menjalankan tugas.

Sebagai Alumni MA PMH paling senior, saya menyatakan salut dan bangga atas capaian dan prestasi yang telah diraih oleh Adinda Muh Tonang. Saya kira, sepanjang sejarah pesantren yang didirikan oleh AGH Junaid Sulaiman, Tonang adalah alumni yang berhasil meraih prestasi tertinggi di dunia birokrasi.

Baca Juga: Polisi Tangkap 2 Pemuda Bawa Sabu 2 Kg di Trans Sulawesi, Kombes Darmawan Affandy Keluarkan Perintah

Oleh karena itu, dalam gelaran milad yang akan dilaksanakan pada bulan Januari mendatang, sebaiknya kita memberikan semacam penghargaan kepadanya.

Kita ingin Muh Tonang hadir dalam acara itu, tapi undangan panitia tidak berarti apa-apa, karena Allah lebih awal memanggilnya kembali ke Sisi-Nya. Karena itu, ketika kita tidak bisa menghadirkan raganya, kita hadirkan semangatnya. Semangat santri biasa-biasa saja menjadi alumni yang luar biasa.

Penulis:
Prof Dr Alimin
(Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)