POJOKSULSEL.com - Korpala Unhas dilibatkan dalam Ekspedisi Bajau Sulawesi yang berlangsung pada Bulan November - Desember 2024 lalu.

Ekspedisi Bajau Sulawesi yang melibatkan Korpala Unhas ini menempuh pelayaran sejauh 2.000 kilometer.

Berikut ini adalah tulisan Ashrullah Djalil, Anggota Aktif Korpala Unhas K133 20 549, yang ikut serta dalam Ekspedisi Bajau Sulawesi.

MASYARAKAT Bajau dalam beberapa tulisan disebutkan sebagai orang laut, nomand laut (Nomaden Laut), gipsi laut, dan sebagainya.

Baca Juga: MK Perintahkan Pilkada Palopo PSU, Calon Wali Kota Trisal Tahir Didiskulifikasi

Istilah itu merujuk pada kehidupan masyarakat yang sepenunya menggantungkan kehidupan pada laut.

Orang laut dapat disematkan kepada masyarakat yang seluruh aspek dalam unsur kehidupan berorentasi pada laut.

Di antaranya, sistem religi, sistem sosial atau organisasi sosial, pengetahuan, kesenian, teknologi, Bahasa, serta ekonomi itu terpengaruh dari lingkungan laut. Dalam istilah lain dikenal dengan istilah budaya maritim.

Etnis Buton, Makassar, Bugis, Madura, Mandar dan Bajau merupakan Masyarakat yang dikenal dengan Budaya maritimnya.

Lima di antaranya tinggal di darat dan Masyarakat bajau yang sepenuhnya tinggal di laut (sekarang banyak yang sudah tinggal di darat sebut saja ‘adaptasi’).

Klaim sejarah mengafirmasi bahwa memang etnis-etnis ini memiliki Budaya maritim yang megah. Jika kita menyebut ‘pelaut ulung’ tentu mata akan tertuju pada beberapa etnis diatas.

Baca Juga: CitraCosmetic dan Wardah Sukses Gelar Color Expert Class Flawless Complexion All Day

Tapi apakah sejarah berhak untuk melabeli kelompok masyarakat?, bagaimana jika label pelaut ulung tersebut hanya berlaku untuk orang-orang di masa lampau?, apakah label pelaut ulung tersebut masih relevan untuk dikalungkan sekarang ini ?

Perahu yang digunakan dalam Ekspedisi Bajau yaitu perahu sandeq. Dua perahu yang digunakan pada Ekspedisi ini bernama Perahu Riset Nusa Pustaka dan Palippis Indah. Sandeq merupakan salah satu jejak kebudayaan maritim yang masih bertahan hingga sekarang.

Nelayan mandar menggunakan sandeq untuk berburu ikan terbang atau dalam istilah lokal Montangga/Matallo.

Nelayan mandar tidak memandang sandeq sebagai objek atau alat untuk keberlangsungan hidup, sandeq dianggap sebagai subjek selayaknya manusia yang memiliki perasaan. Ini tentu membingungkan bagaimana bisa benda bisa memiliki perasaan?

Ritual dan kepercayaan terhadap hal mistis sangat lekat dengan Budaya maritim tak terkecuali Masyarakat mandar.

Proses Pembuatan perahu, Sebelum Melaut, dan dalam perjalanan selama di laut sarat akan ritual dan aturan-aturan yang berbasiskan kepercayaan. Semua ritual dan larangan tersebut tidak hanya dimaksudkan untuk keselamatan pelayaran tetapi juga berfungsi sebagai gagasan berwawasan lingkungan.

Anggapan bahwa sebuah benda bukan sekedar benda mati akan membawa kita pada sesuatu yang lebih luas tentang keberlanjutan lingkungan.

Baca Juga: Wakil Bupati Maros Pilih Diskusi Santai di Kantin Pada Hari Pertama Bertugas

Anggapan mistis terhadap apa yang dilakukan oleh Masyarakat maritim memang tidak bisa dituliskan dalam kaidah ilmiah yang kita pahami sekarang juga tidak bisa diajarkan di dalam ruang kelas perlu pengalaman untuk memahaminya jadi jika tidak berbaur dengan Masyarakatnya anggapan ‘mistis’ tersebut akan terus menerus meracuni perspektif Masyarakat.
Contoh paling kerennya bisa kita lihat pada seorang tokoh terkenal Tan Malaka. Mungkin Tan Malaka dengan logika Mistkanya tidak berlaku di Pambusuang atau mungkin saja dia menulis buku madilog yang naif itu tidak berdasarkan data lapangan?.

Perjalanan Dimulai

Pelepasan Ekspedisi Bajau Sulawesi secara seremonial dilakukan di Pantai Palippis pada pagi hari 23 November 2024.

Setelah acara pelepasan selesai perahu dua perahu yang di gunakan pada ekspedisi ini menuju arah timur dengan tujuan Baoje.

Secara administratif Bajoe terletak di desa Rea Kecamatan Binuang Sulawesi Barat. Bajoe dijadikan sebagai Etape dalam ekspedisi ini karena secara toponimi sudah tergambarkan kaitannya dengan perjalanan yang dilakukan.

Pantai Bajoe telah ditanggul dengan tujuan melindungi daratan dari air pasang yang sampai ke pemukiman.

Hal ini cukup menarik kerana manfaat dari tanggul yang dipasang hanya dirasakan oleh manusia Tidak dengan Pantai dan laut sekitarnya. Tanggul akan menyebabkan pengurangan garis Pantai, yang disebabkan sedimen yang dibawa oleh ombak terhalang oleh tanggul.

Mengurangnya garis pantai juga diikuti dengan ekosistem disekitarnya menjadi rusak. Yang pada ujungnya berdampak pada Lokasi penangkapan ikan nelayan.

Sandeq dan Eksistensinya

Hal serupa juga terjadi di pambusuang, menurut Ridwan hadirnya tanggul di Pambusuang tidak hanya mengubah ekosistem laut tetapi juga berdampak pada pada kebudayaan sandeq.

Memang penyebab mulai hilangnya kebudayaan perahu sandeq di Masyarakat pambusuang tidak hanya disebabkan oleh berdirinya tanggul.

Tetapi setidaknya tanggul yang dibangun oleh Pemkab Sulbar turut andil dalam memperkeruh pemahaman masyarakat tentang perahu sandeq.

Beberapa orang di Pambusuang yang memiliki perahu sandeq harus melabuhkan perahunya di tempat yang lumayan jauh dari pambusuang.

Dalam beberapa kesempatan Pua Pia yang menjadi kapten kami ketika berlayar mengeluhkan anak muda yang mulai kehilangan pengetahuan tentang sandeq dan bagaimana melayarkannya.
Kanne kawan dan guru kami selama pelayaran juga bercerita tentang bagaimana proses yang ia lalui sampai bisa menjadi seorang pasande’.

Ada peraturan tak tertulis diatas perahu ketika berlayar, ketika malam tiba sawi yang masih muda harus berjaga, dengan istrahat yang terbilang sedikit ia juga harus mempersiapkan hal-hal penunjang ketika matahari terbit seperti memasak makanan dan air panas, karena punggawa dan sawi lain yang telah memiliki pengalaman harus bertugas seharian.

Baca Juga: RSKDGM Sulsel Sambut Mahasiswa Stikes Amanah Makassar untuk Praktik, Perkuat Pendidikan Kesehatan Gigi

Penjagaan malam hari dan menyiapkan konsumsi bukanlah hal yang sulit jika dibantingkan dengan mengemudi ditengah ombak seharian. Sesekali sawi muda akan diberikan tanggung jawab untuk mengemudi untuk mengasah keahliannya.

Kanne telah melaut sejak usia 15 tahun dan mahir dalam pelayaran pada usia 19/20 tahun. Untuk menjadi pesande kanne melalui proses panjang dan cukup melelahkan diatas perahu, tapi itu memang perlu dilakukan karena di laut kaki tidak berpijak di tanah dan tidak ada pegangan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Uraian tentang tanggul dan proses panjang untuk menjadi pasande’ memberikan kita Gambaran bagaimana sandeq mulai meredup. itu baru dua faktor masih banyak lagi konstruksi Masyarakat yang membantu mempercepat punahnya kebudayaan sandeq ini. yang jelas Masyarakat mulai enggan dengan sandeq karena dalam penggunaannya lebih melelahkan dibanding perahu bermesin tanpa layar, dan Pemerintah Sulawesi Barat mencoba menghilangkan habitat asli sandeq dengan Langkah tanpa pertimbangan yang telah diambil.

(Bersambung)

***