PROFESOR Hamdan Juhannis (Rektor UIN Alauddin) tiba-tiba berdiri dan bercerita dengan penuh semangat, sedikit cerita nostalgia dengan beberapa alumni dan pengasuh Pesantren Aljunaidiyah Biru Bone, sambil tertawa di sela-sela kisahnya.
"Saya juga alumni hafiz Alqur’an sambil menunjuk temannya Ustaz Kamaluddin Marsus (alumni Mts Aljunaidiyah Biru 1992/pengasuh Pesantren Hafiz Quran Tonra Bone) dan katanya pernah jadi Imam Shalat di Masjid Besar di Jakarta.
Ceritanya diaminkan oleh beberapa guru besar/profesor yang berdiri di belakang beliau “layaknya pengawal rektor”. Merasa lama berkisah, kata beliau, “Sepertinya memberi kuliah ya." di hadapan beberapa pengasuh dan alumni Pondok Pesantren Aljunaidiyah di Passippo.
Lebih lanjut Prof Hamdan Juhannis mengakhiri ceritanya, bagaikan seorang pemateri seminar yang akan menutup presentasenya dengan closing statement menarik yang baru saja di beri kesempatan oleh moderator.
Baca Juga: Deretan Kemenag Daerah Raih Medali Emas di Porseni HAB ke-80 di Bone
"Kita harus menulis sejarah kita sendiri seperti saya ini, jangan menunggu sejarah kita ditulis oleh orang lain, karena orang lain juga sibuk menulis sejarahnya sendiri." Disertai dengan gaya tangan bergerak dan terangkat sedikit. Sesekali menyebut nama panggilan saya, sambil tertawa, "Kalau Lihin ini, banyak natahu juga kisah mudaku di masa pencarian. Jangan buka kartu ya."
Suasana menjadi riang gembira ala reuni alumni ketemu senior dan junior, sepertinya para mustami’ kagum bin ta’ajjub dengan ide-ide nyeletuk dari sang Profesor, penulis novel biografi “Melawan Takdir” yang terjual sampai ribuan copy sampai hari ini dan telah mengispirasi banyak orang untuk terus berjuang menuntut ilmu karena novel itu.
Waktu Novel itu viral, Pak Kiai Haji Doktor Faturrahman pernah mengomentari novel itu; "Anureku itu Hamdan. Hamdan itu sebenarnya bukan melawan takdir sebenarnya, tapi ia telah menjalani takdir."
Sedangkan ungkapan sahabatnya, Prof. Alimin (Alumni MA Aljunaidiyah-1990) juga pernah berkomentar setelah mendengar novel Prof Hamdan Melawan Takdir booming di masyarakat kampus. “Saya juga akan menulis novel dengan judul yang tak kalah heboh, Bersahabat dengan Taqdir," tutur Prof. Alimin.
Baca Juga: Kemenag Kota Makassar Borong Emas di Porseni HAB ke-80, Bulutangkis Ganda Putri Juara Lagi
Itulah salah satu suasana santai habis makan siang berjamah di kantor Yayasan Pendidikan aljunaidiyah di Kampus Passippo, bersama dengan para undangan acara Milad ke- 56 tahun Pondok Pesantren Aljunaidiyah Bone.
Olehnya itu, izinkan saya mengucap terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh para hadirin dan undangan, terutama Bapak Menteri Agama RI shahibul fadilah Anre Gurutta Prof. KH. Nasaruddin Umar, Gurutta Prof Andi Salman Maggalatung (Alumni Aljunaidiyah dan saat ini Staf Ahli Menteri Agama RI), sahabat laddeku Doktor Basnang Said (Direktur Pondok Pesantren Kemenag RI).
Gurutta Dr. Bahri Mappiasse, M.Ag. (Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan al-Junaidiyah Bone), sahabat Prof. Dr. H. Rauf Amin, MA., sahabat Prof. Dr. Muhaemin (UINAM).
Kakanda senior Dr. Abbas Langaji (Rektor UIN Palopo), sahabat Kakanda Ramli (Kakan Kemenag Mamasa Sulbar), sahabat Kepala Kemenag Wajo Dr. KH. Subhan, sahabat Prof. Dr. Muhaemin (UIN Palopo), sahabat Prof. Dr. H. Andi Aderus, Prof. Dr. H. Andi Ahru.
Begitu juga dengan para undangan mulai dari Bupati dan wakil Bupati Bone, Ketua DPRD Bone, Kapolres Bone, Dandim Bone, Camat Palakka, Petta Desa Passippo, Para pejabat Forkopimda Bone, Ketua tanfiziyah NU Bone, Ketua Muhammadiyah Bone, Ketua Lembaga-lambaga banom NU yang sempat hadir, para toko masyarakat Bone.
Para pejabat Pemerintah Daerah Bone lainnya yang tak dapat saya sebut satu persatu, para anre gurutta pengasuh pembina al-Junaidiyah, semua alumni Aljunaidiyah yang hadir maupun yang tak hadir turut semua menyukseskan acara milad pondok tercinta ke 56 tahun, dan tak lupa khusus lettingku di Pondok Biru yang bersemangat hadir; alumni Angkatan MTs 1988 dan MA 1991 PMH, okay lettingku makan malam yang penuh silaturahmi dan canda tawa.
Saya mewakili pengasuh dan alumni Aljunaidiyah mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kehadirannya, kami bersyukur dan sangat gembira terucap kata syukur alhamdulillah dan syukran jazilan ala hudurikum wa qudumikum.
Biasanya orang arab akan berkata jika kedatangan tamu yang mulia dan agung, "Tasyarrafna bihudurikum” artinya; “kami mendapat kemuliaan disebabkan kedatangan tamu yang mulia dan terhormat."
Baca Juga: Enam Paket Jalan di Sulawesi Selatan Digarap Sekaligus, Ini Skema Baru BMBK Sulsel
Sepertinya tulisan ini mirip pidato kata sambutan ketua panitia milad. Maaf sappo-sappoku!; “Saya mewakili pak Kiai Muda Ahmad Genda, MA., sebagai Kepala Mts Al-Junaidiyah juga sebagai ketua panitia Milad ke-56 kali ini."
Mungkin para pembaca bertanya, “Kok banyak yang hadir di Milad Al-Junaidiyah kali ini; para guru besar, alumni, pejabat pemerintah." Jangan heran mereka semua hadir, karena ada magnet tersendiri pada diri yang mulia Menteri Agama RI shahibul fadhilah Anre Gurutta Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.
Tentu ada banyak hikmah yang kita peroleh pada acara opening seremonial Milad Al-Junaidiyah ke 56 Tahun 2026, yang dirangkaikan dengan peringatan isra mikraj Nabi Besar Muhammad shalla Allahu wa ‘alaihi wa sallam. Seperti ungkapan Prof. Hamdan di atas "Kita harus menulis sejarah kita sendiri.".
Pada acara milad ke-56 ini adalah simbol telah lahirnya gerakan, tulisan, karya, dan lembaran sejarah dari para Anre Gurutta, yang telah menginspirasi para alumni, dan santri untuk menjadi penerus visi dan misi Pondok Pesantren Al-Junaidiyah Bone, teriring doa selalu untuk semua para Anre Gurutta ats bakti dan khidmatnya mendapat rahmat disisisnya, wa lahumul fatihah, amin. Selamat dan Sukses Milad ke-56 Pondok Pesantren Al-Junaidiyah Bone.
Penulis: Muslihin Sultan

