LOS ANGELES, Amerika Serikat (AS), kota yang meski jauh dari Makassar, namun sangat akrab bagi penikmat serial TV khususnya generasi X.

Kota Los Angeles telah menjadi bagian dari ingatan kolektif melalui berbagai serial TV yang menemani masa kecil dan remaja generasi era 80-an hingga 90-an.

Mulai dari serial CHIPS alias California Highway Patrols di TVRI di tahun 1980-an, hingga Baywatch yang menjadikan stasiun RCTI sebagai idola baru TV Swasta di tahun 1995, bersama dengan serial Knight Rider, MacGyver, Beverly Hills 90210 dan Melrose Place hingga Renegade juga turut menghiasi layar kaca kita. Semua berlatar Los Angeles.

Baca Juga: Yasir Ingin Musrenbang Kecamatan Mariso Hasilkan Program Berbasis Kebutuhan Warga

Lewat layar kaca, kita familiar dengan kawasan Pasific Palisades, Beverly Hills, Hollywood Hills, Malibu, Santa Monica dan Pasadena. Kota ini tergambar dengan citra yang menyimpan pesona alam dan kehidupan urban yang memikat.

Namun, kini Los Angeles tidak hanya dikenal melalui layar kaca, tetapi juga lewat peristiwa kebakaran besar yang terjadi sejak Selasa (7/1). Di balik gemerlapnya, kota ini juga menghadapi tantangan alam, salah satunya adalah kebakaran hutan dan semak akibat cuaca ekstrem.

Meski Los Angeles berada jauh disana, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik baik dari perspektif komunikasi empati, literasi media hingga pelajaran tentang mitigasi bencana. Hal ini mampu meringankan dampak bencana alam dan mempercepat proses pemulihan psikologi korban.

Baca Juga: Andi Amran Sulaiman Motivasi Ratusan Wisudawan UNM: Mau Sukses? Berani Lakukan 3 Hal Ala Mentan

Mitigasi Bencana

Los Angeles adalah contoh nyata bagaimana kota modern bisa rentan terhadap bencana alam. Kebakaran besar terjadi di sana dipicu oleh kombinasi cuaca ekstrem, angin kencang, kondisi kekeringan parah dan dampak perubahan iklim.

Kota Makassar juga memiliki potensi bencana yang bisa terjadi kapan saja, seperti gempa bumi, banjir, kekeringan, gelombang pasang, kebakaran sampai potensi tsunami. Maka, mitigasi bencana diperlukan untuk meminimalisir dampak bencana.

Pelajaran dari kebakaran Los Angeles adalah pentingnya manajemen bencana pemerintah dan lembaga terkait. Di antaranya soal edukasi dan pelatihan kepada warga sejak dini tentang potensi bencana dan cara menyelamatkan diri.

Baca Juga: Kenalkan Lima Wakil Rektor ITB yang Baru Dilantik. Ada Perempuan

Selain itu membangun sistem teknologi peringatan dini, sistem monitoring untuk mendeteksi dan memprediksi potensi bencana, menyiapkan fasilitas evakuasi dan menyediakan informasi yang mudah diakses masyarakat.

Komunikasi yang efektif adalah kunci dalam mengelola bencana, karena dapat membantu menyelamatkan nyawa, mengurangi dampak, dan menjaga ketertiban masyarakat.

Pemerintah dianggap perlu membangun strategi komunikasi yang tanggap, jelas, dan terpercaya. Bukan mencari kambing hitam penyebab bencana atau lempar tanggungjawab.

Komunikasi Empati

Di era digital, media sosial memegang peranan penting dalam membangun solidaritas global. Peristiwa kebakaran Los Angeles menjadi viral di berbagai platform, memicu simpati dari masyarakat dunia. Di sini, narasi yang dibangun melalui konten digital sangat menentukan.

Baca Juga: Target Prof Hamdan Juhannis Tercapai, Guru Besar UIN Alauddin Makassar Tambah 20

Bagaimana kisah korban yang kehilangan rumah mereka, perjuangan petugas pemadam kebakaran di garis depan dan dampak ekologi yang diakibatkan dapat menjadi materi konten yang penuh makna.

Dalam perspektif komunikasi, pendekatan storytelling yang empati mampu menyentuh hati audiens. Foto mengharukan, video perjuangan menyelamatkan hewan, hingga kisah warga yang saling membantu menjadi pengingat bahwa kita adalah bagian dari komunitas global.

Kebakaran di Los Angeles menunjukkan betapa pentingnya komunikasi empati dalam situasi krisis. Media sosial memainkan peran penting dalam menyebarkan informasi dan memobilisasi bantuan.

Baca Juga: Sidang Umum Himpuni Bakal Dihadiri Sejumlah Pejabat Negara dan Direksi BUMN di Kota Makassar

Di Kota Makassar hal serupa dapat diterapkan untuk membangun solidaritas saat menghadapi bencana. Mengedepankan sisi kemanusiaan dan empati mampu memobilisasi gerakan filantropi. Tentunya dengan narasi objektif, tidak sensasional tapi menggugah kesadaran.

Jika informasi tidak akurat dan sensasional bisa menimbulkan kepanikan dan kebingungan. Sebagai konsumen informasi, perlu sikap kritis dalam menerima informasi.

Memverifikasi sumber, membandingkan informasi dari berbagai media dan tidak langsung percaya pada berita yang viral di media sosial adalah langkah penting.

Baca Juga: Jadi Pembicara di Jepang, Danny Pomanto Beber 4 Rencana Aksi Low Carbon City Kota Makassar

Bukan malah menyajikan narasi disinformasi alias menyesatkan di media sosial atau membuat meme yang menodai rasa kemanusiaan dan solidaritas antar sesama manusia.

Dalam konteks ini, literasi media sangat diperlukan untuk memastikan kita mendapatkan atau memproduksi informasi objektif dan akurat.

Media sosial menjadi bukti bahwa platform ini telah membangun gerakan filantropi. Peristiwa Los Angeles memotivasi banyak pihak untuk berdonasi melalui platform seperti GoFundMe atau kampanye di Instagram dan X (ex twitter). Gerakan ini menunjukkan bahwa solidaritas tidak memiliki batas geografis.

Melalui kampanye kemanusiaan yang kreatif, transparan dan akuntabel sehingga menarik partisipasi dan empati masyarakat luas. Konten yang menggambarkan kebutuhan mendesak, dilengkapi informasi yang jelas tentang cara membantu mendorong lebih banyak orang untuk terlibat.

Sebagai kota dunia, pemerintah dan masyarakat perlu memanfaatkan media sosial sebagai sarana efektif menyebarkan informasi secara cepat dan luas, karena solidaritas masyarakat sangat dibutuhkan. Los Angeles menjadi bukti bagaimana warga saling membantu selama bencana berbasis informasi di media sosial.

Baca Juga: Ada Lahan Potensial 200 Ribu Hektare di Sulsel, Pemprov Gandeng Polda Tanam Jagung

Seperti halnya Los Angeles, Kota Makassar sebagai salah satu kota dunia dengan tantangan alam dan urbanisasi. Mitigasi bencana, solidaritas dan pengelolaan lingkungan yang baik menjadi solusi terbaik menghadapi tantangan tersebut.

Dengan komunikasi efektif dan narasi empati yang menyentuh, kita dapat membangun kesadaran dan kekuatan kolektif untuk selalu bersiap menghadapi bencana. Dari kebakaran Los Angeles, pemerintah dan kita tidak hanya perlu memperkuat empati, tetapi juga menciptakan kota dunia yang aman dan jauh dari bencana alam. ***

Penulis: Muhammad Idris
Dosen Ilmu Komunikasi UMI