UDARA sore Kota Makassar lebih bersahabat dibanding sebelumnya. Mendung dengan sedikit tetes air. Cukuplah membawa kesejukan bagi pengendara menembus kemacetan jalan-jalan Kota Makassar.

"Ayo kita ngopi. Di kafe saya di Toddopuli juga bisa. Atau terserah kita dimana," kata Andi Ikhwan Burhanuddin dari balik telepon kepada pojoksulsel.

Ajakan silaturrahim dan ngopi dari Andi Ikhwan Burhanuddin langsung disetujui. Skuter tua jenis Vespa Excel 150 pun langsung menuju Lagi-lagi Cafe di Toddopuli Raya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Baca Juga: Teknologi Enkapsulasi: Solusi Masa Depan dalam Bioremediasi Air Limbah Domestik

Lagi lagi Cafe dengan design urban masih tampak lengang. Beberapa meja dan kursi terlihat kosong. Hanya beberapa pengunjung yang berkelompok dalam beberapa meja.

Sebagian besar perempuan di ruangan dalam yang berpendingin ruangan, sementara pengunjung laki laki lebih memilih meja di luar yang ditata lebih terbuka. Mayoritas pengunjung kalangan anak muda.

Kafe yang didominasi baluran cat warna putih terlihat nyaman. Andi Ikhwan Burhanuddin ternyata sudah duduk menunggu di kursi bagian dalam. Mengenakan kemeja lengan panjang bermotif kotak kotak dipadu dengan jeans biru.

Baca Juga: Peringati Hari Bumi , Manajemen RS Andi Makkasau Lakukan Penanaman Pohon

Obrolan hangat pun dimulai setelah kopi hitam tersaji. Tidak terasa obrolan masuk pada teman politik, khususnya Pilkada Bone 2024. Yah, Andi Ikhwan Burhanuddin santer disebut akan maju sebagai calon bupati di Bone.

Kiprahnya sebagai mantan aparatur sipil negara (ASN) selama 32 tahun di Kabupaten Bone tentunya menjadi modal Andi Ikhwan Burhanuddin maju bertarung di Pilkada Bone 2024.

Berbagai jabatan sudah diemban. Mulai dari camat hingga beberapa dinas yang dipimpinnya. Obrolan terus berlanjut hingga terpaksa terhenti sejenak karena nasi goreng khas Lagi-lagi Cafe sudah tersaji di atas meja.

Baca Juga: DPRD Parepare Gelar Paripurna Hasil Pansus 2024

"Kita makan dulu," ajak Andi Ikhwan Burhanuddin. Di Bone, Andi Ikhwan Burhanuddin kadang di sapa dengan Puang Iwan atau Puang Bau.

"Sebaiknya jangan Ndi (panggilan adik untuk orag Bugis). Biasa sajalah. Kita semua sama. Saya kadang kurang nyaman dengan sapaan itu," kata Andi Ikhwan Burhanuddin.

Pantas, selama pertemuan, Andi Ikhwan Burhanuddin cenderung memakai sapaan yang umum. Panggilan adik atau pak. Tentunya ini bagian dari pembawaan Andi Ikhwan Burhanuddin yang senantiasa menghargai atau dalam bahasa Bugis sipakaraja (saling membesarkan) orang yang diajaknya berkomunikasi.

Usai menikmati nasi goreng, obrolan kembali dilanjutkan. Andi Ikhwan Burhanuddin kemudian menceritakan bagaimana dirinya kemudian membuka warung kopi di Kota Makassar.

Diceritakan, itu bagian dari rencana setelah pensiun. Andi Ikhwan Burhanuddin awalnya menyampaikan keinginan kepada teman temannya untuk mencari lokasi. Ditunjukkanlah lokasi di daerah Panakkukang. Setelah meninjau lokasi, tenyata cukup strategis.

Baca Juga: Peringatan Hari Bumi di Parepare, Sekda Pimpin Aksi Penanaman Ribuan Pohon

Di lokasi yang ditunjukkan itu berada di pertigaan jalan di belakang pusat perbelanjaan. Sangat strategis. Namun, Andi Ikhwan Burhanuddin secara sepihak batal melanjutkan rencana di lokasi itu setelah melihat langsung.

Tempat itu sementara dimanfaatkan pedagang kaki lima. Tentunya mereka mendirikan tenda tenda dan gerobak di situ secara liar. Tidak punya ijin. Itulah alasan Andi Ikhwan Burhanuddin membatalkan rencana di lokasi itu.

"Idi (kita) lagi sitinaja (sepantasnya) bantu mereka. Kalau kita beli lokasi itu, bagaimana dengan mereka? Meski itu tidak resmi, tapi kita liat secara kemanusiaan. Jadi saya bilang sama teman, jangan. Kita cari lokasi lain," kata Andi Ikhwan Burhanuddin.

Baca Juga: Akbar Ali Berharap Musrenbang RPJPD Parepare Hasilkan Program Pembangunan Berkelanjutan

Itulah paham bisnis yang dijalankan Andi Ikhwan Burhanuddin. Visi bisnis tidak boleh mengalahkan sisi kemanusiaan. Sisi kemanusiaan harus ditempatkan pada derajat yang paling tinggi. Termasuk sisi saling menghargai.

Dalam perjalanan pulang, kala itu, Andi Ikhwan melihat lokasi di Jalan Toddopuli Raya. Bangunan tua. Ternyata itu bangunan milik Perumnas yang memang mau disewakan. Jadilah kemudian bangunan yang sudah lama tidak pernah tidak ditempati itu disewa untuk disulap jadi kafe.

Usai tandas nasi goreng, "kaum pengisap" mulai tidak nyaman dengan liur yang terasa asam. "Ayo kita pindah di luar karena sepertinya mau ki merokok," kata Andi Ikhwan Burhanuddin.

Baca Juga: Pj Akbar Ali Pindahkan Papan Nama Wali Kota ke Hadapan Wakil Ketua DPRD saat Musrenbang Kota Parepare Jadi Perhatian

Tawaran yang sangat bagus dan langsung berpindah tempat. Meja di areal belakang kafe lebih terbuka dengan lantai sebagian batu pecah. Senja beranjak malam, kafe makin ramai dengan anak anak muda di beberapa spot meja.

Ada foto yang menarik perhatian pojoksulsel saat Andi Irwan membuka buka koleksi album foto perjalanannya saat masih menjadi birokrat. Di foto itu terlihat Andi Ikhwan Burhanuddin dalam satu frame dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memasang songkok to Bone. Biasa juga disebut songkok pamiring atau songkok recca.

Ternyata itu momen acara Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) di Jakarta sekitar tahun 2017. Acara Apkasi yang disertai pameran kerajinan digelar di Jakarta Convention Centre. Ikut serta dalam pameran itu pengrajin Songkok To Bone milik Hj Rahmatang/H Edil. Kerajinan Songkok To Bone milik Hj Rahmatang menjadi wakil Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bone di ajang pameran Apkasi itu.

Pengrajin songkok to Bone (songkok recca/songkok pamiring) milik Hj Rahmatang memang dikenal sebagai salah satu pewaris pengrajin songkok to bone yang turun temurun dari H Nawire, orangtua dari Hj Rahmatang.

Stand Dinas Pariwisata Kabupaten Bone yang memamerkan Songkok to Bone lengkap dengan pengrajin dan alat pembuatnya menarik perhatian Presiden Jokowi. Mampirlah Jokowi bersama rongbongan di stand milik Pemkab Bone.

Jokowi sempat terkaget saat menunjuk salah satu songkok to Bone dan menanyakan harganya. "Itu harga lima belas (15) juta Pak," kata Andi Ikhwan Burhanuddin yang kala itu menjabat sebagai kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bone.

"Kok mahal sekali," kata Jokowi dengan keheranan. Dijelaskanlah oleh Andi Ikhwan Burhanuddin jika songkok to Bone yang ditunjuk Jokowi itu berbenang emas. Ketakjuban Jokowi semakin menjadi saat mengetahui jika benang pada songkok to Bone yang ditunjuknya itu berbenang emas.

Maka diparadekanlah bagaimana memproses songkok to bone yang berbahan dasar pelepah lontar yang dipadukan dengan benang emas. Akhirnya Jokowi memilih salah satu songkok to Bone.

"Pak Jokowi memilih songkok yang harga 800 ribu. Sempat saya bilang, ambil saja Pak. Tapi Pak Jokowi menolak. Kalau tidak dibayar, saya tak jadi ambil kata Jokowi," kisah Andi Ikhwan Burhanuddin.

Baca Juga: Chaidir Syam Tegaskan Bunda Baca Maros Tak Sekadar Simbolik, Tapi Pembinaannya Berkelanjutan

Jadilah Presiden Jokowi membeli satu songkok to Bone seharga Rp800 ribu. Jokowi berpesan agar kerajinan songkok to Bone dipertahankan dan didaftarkan di HAKI.

Hj Rahmatang yang juga sempat berbincang dengan Jokowi dipesankan agar terus mengembangkan kerajinan khas Kabupaten Bone tersebut.

Andi Ikhwan Burhanuddin mengatakan, Songkok To Bone yang juga biasa disebut saongkok recca atau songkok pamiring kini sudah di daftar di HAKI oleh Pemkab Bone. "Pemkab Bone sudah daftar dan sudah menjadi milik Bone. Karena sebelumnya ada juga daerah lain yang mau klaim," kata Andi Ikhwan Burhanuddin.

Dalam beberapa kesempatan, pojoksulsel berkunjung ke galeri Sokok To Bone milik Hj Rahmatang/H Edhyl di Bone, baik yang berlokasi di Jalan Achmad Yani maupun yang berlokasi di Cabalu, guna melihat langsung proses pembuatannya.

Baca Juga: SEJARAH MAKASSAR: Asal Usul Jalan Nusantara, Dulu Namanya De Passer Straat, Lokasi De Javasche Bank, Cikal Bakal Bank Indonesia

Harga Songkok to Bone buatan Hj Rahmatang bervariasi. Dari seratusan ribu, jutaan, hingga seratusan juta. "Coba kita pakai ini. Ini harganya lebih 100 juta," kata Hj Rahmatang dalam suatu kesempatan memakaikan songkok to Bone ber"pamiring" emas yang nyaris mencapai puncak songkok.

Songkok yang sempat saya tes pakai itu dibuat dengan sangat halus dan terlihat mewah nan elegan. "Pesanan orang dari luar Bone," kata Hj Rahmatang yang terkadang merahasiakan nama pemesan khusus songkoknya.

Foto Hj Rahmatang yang dalam satu frame dengan Presiden Jokowi dan Andi Ikhwan Burhanuddin saat pameran Apkasi menjadi foto utama di galeri Songkok To Bone milik Hj Rahmatang.

Menurut Andi Ikhwan Burhanuddin, masih banyak kerajinan khas dan potensi Bone yang bisa dimaksimalkan. Tidak hanya pada kerajinan tangan, tapi juga pada kuliner khas dan hasil pertanian.

Tentunya, itu menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus dikerjakan jika nantinya Andi Ikhwan Burhanuddin maju dalam Pilkada Bone 2024 dan diberi kepercayaan memimpim Bone lima tahun mendatang.(***)