PESANTREN Modern Aljunaidiyah atau yang dulunya dikenal sebagai Ma'had Hadits Biru dalam usianya yang kini sudah masuk 54 tahun diwarnai kisah epik dengan perjuangan yang luar biasa diawal pendiriannya.
Adalah Anregurutta KH Djunaid Sulaiman sebagai tokoh penggerak dengan memaksimalkan semua potensi sumberdaya sahabat dan jaringannya untuk membangun Pesantren Aljunaidiyah hingga seperti saat ini.
Dimulai dari kalimat pelecut semangat dari pondok di Pulau Jawa, menjual kalender seharga Rp5 rupiah hingga ke Sulawesi Tenggara yang bahkan sampai ke pulau pulau, dan orang orang yang berada di sekitar Anregurutta KH Djunaid Sulaiman yang dihimpun dari berbagai kalangan.
Baca Juga: Bulan K3 2024, Ceria Nugraha Indotama Perkuat Pelaksanaan K3
Perjuangan yang maha dahsyat demi terwujudnya lembaga pendidikan yang bernama Ma'had Hadits Biru atau Pesantren Modern Biru kemudian selanjutnya berubah menjadi Pesantren Aljunaidiyah.
Dikisahkan Dr KH Mujahid Said M.Ag, murid KH Djunaid Sulaiman bahwa awal munculnya ide pendirian Pesantren Aljunaidiyah saat kunjungan Anregurutta KH Djunaid Sulaiman bersama rombongan, termasuk kakak kandung KH Djunaid Sulaiman, KH Rafi Sulaiman yang dikenal dengan nama Petta Kalie ke Pesantren Modern Gontor pada awal dekade 1970-an.
Diceritakan Dr KH Mujahid Said bahwa ada pesan yang dibawa Anregurutta KH Djunaid Sulaiman dari ulama di Pesantren Gontor. "Kalau ulama Bugis tidak bisa mendirikan pesantren. Nanti kita dari Gontor yang datang bangunkan."
Baca Juga: 44 Guru Besar Unhas Terima SK Jabatan Profesor, Ini Daftar Lengkapnya!
Kalimat itulah yang kemudian menggugah hati para ulama, termasuk KH Djunaid Sulaiman, yang didampingi oleh pejabat di daerah Bone untuk membangun pesantren.
Bupati Bone H Suaib, yang saat itu, memiliki andil pendirian Ma'had Hadits atau Pesantren Modern Biru yang kemudian berubah menjadi Pesantren Aljunaidiyah. Perjalanan dari Pesantren Gontor itupula yang kemudian menjadi inspirasi nama Ma'had Hadis Biru mengikuti penamaan Pondok Pesantren Modern Gontor.
Kisah lain, sumber penamaan Ma'had Hadits, menurut Dr Muslihin Sultan, juga seorangan alumni Pesantren Aljunaidiyah, diberikan oleh Syekh Abdul Aziz Alba Albisri, yang lebih dikenbal dengan nama Syekh Alba.
Baca Juga: Zikir dan Doa Bergema di Lapangan Pemuda Kepulauan Selayar, Jemaah Memohon Pemilu 2024 Damai
Syekh Alba merupakan seorang guru utusan dari Mesir yang ditugaskan mengajar Bahasa Arab dan Islam di Bone. Harapannya, dengan nama Pesantren Alma'had Alhadits, pesantren ini bukan hanya belajar ilmu agama, tapi juga ilmu modern atau sains.
Perlu dijelaskan bahwa penambahan tulisan "Biru" pada nama Ma'had Hadits karena lokasi pondok Aljunaidiyah berada di kampung atau daerah yang bernama Biru, yang selanjutnya menjadi Kelurahan Biru.
Syekh Alba yang tinggal di Bone selama kurang lebih 4 tahun, antara tahun 1970-1974 adalah juga seorang kaligrafer. Syekh Alba inilah yang menulis kaligrafi tulisan arab yang ada di Masjid Raya Bone dan Masjid Almujahidin atau Masjid Laungge atau Masjid Tua Bone.
Bukti otentik karya Syekh Alba ini adalah masih ada tanda tulisan tangan namanya di Masjid Raya di bagian sudut kanan itu.
Lanjut diceritakan Dr KH Mujahid Said, setelah itu, salah satu pendukung dana pembangunan Pesantren Aljunaidiyah dengan cara mencetak kalender. Hasil penjualan kalender ini disalurkan untuk pembangunan Pesantren Aljunaidiyah yang saat itu masih bernama Ma'had Hadits atau Pesantren Modern Biru.
Anregurutta KH Djunaid Sulaiman pernah mengajak pemilik percetakan agar mesin cetak dibawa sementara ke pesantren di Biru. Santri-santri yang pertama dibawa ke Pesantren Aljunaidiyah adalah beberapa penghafal Alquran yang tinggal di Panti Asuhan Zubaidy Masjid Raya. Sebut misalnya, Jamaluddin Abdullah, Mursyidin, Abdul Aziz, Syarifuddin Husain.
Yang membina santri-santri baru ini, tersebut misalnya, Ustadz Huzaifah dan Ustadz Abdul Hamid.
Sebar Kalender hingga Pulau Kobaena
Kalender Pesantren Modern Biru Bone yang dicetak untuk dijual sebagai modal pembangunan pondok, diceritakan salah satu santri pertama Pesantren Aljunaidiyah, yaitu KH Mursyidin, melalui perjuangan disertai keikhlasan berbuat untuk pondok.
Baca Juga: Cavendish Tumpang Sari Kacang Tanah, Cara Petani Desa Buae Raup Untung Tunggu Panen Pisang
Diceritakan KH Mursyidin, yang kini menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Tenggara, dia dibawa oleh seorang sahabat Anregurutta KH Djunaid Sulaiman yang juga mengajar di Ma'had Hadits Biru bernama Andi Bugaib Petta Tinring.
"Saat itu saya hanya santri. Yang atur penjualan kalender pesantren dan bawa saya itu Petta Tinring," kata KH Mursyidin.
Mulailah Andi Bugaib Petta Tinring dan Mursyidin remaja melakukan perjalan menyeberang lautan ke Sulawesi Tenggara (Sultra) membawa 2.500 eksamplar kalender Pesantren Modern Biru memakai kapal kayu.
Baca Juga: Bappeda Lakukan Konsultasi Publik Bahas RPJPD Kota Parepare Tahun 2025-2045
Dari pelabuhan Bajoe, Andi Bugaib Petta Tinring dan Mursyidin tiba di Pelabuhan Kolaka. Mulailah Andi Bugaib Petta Tinring dan Mursyidin melakukan perjalanan di Kolaka sebagai penjual kalender. Di pasar-pasar dan orang Bugis yang ditemuinya.
"Kalau saya tidak salah ingat, kalender itu dijual dengan harga 5 rupiah. antara harga itu, 12 rupiah atau 25 rupiah, saya kurang ingat," kata KH Mursyidin.
Petualangan Andi Bugaib Petta Tinring dan KH Mursyidin dari Bone ke Sultra menjual kalender untuk biaya pembangunan Pesantren Aljunaidiyah dibenarkan anak Andi Bugaib Petta Tinring yang bernama Andi Murni Bugaib.
"Saya juga dulu ppernah terlibat di pesantren sebagai tenaga kesehatan," kata Andi Murni Bugaib.
Diceritakan Andi Murni Bugaib, ayahnya Andi Bugaib Petta Tinring menjadi salah satu sahabat Anregurutta KH Djunaid Sulaiman yang bersama sama berkiprah membangun Pesantren Aljunaidiyah di awal.
Disebutkan, ada beberapa orang sahabat KH Djunaid Sulaiman yang diajak dan bergabung, selain Andi Bugaib Petta Tinring yang berlatar belakang polisi, juga ada bernama Syamsuddin (berlatar belakang TNI), H Arafah Ramadan (pengusaha), Ustaz Nur Laha, dan Bueti Abbas yang saat itu menjabat sebagai kepala Kantor Agama Bone.
Nah, lanjut kisah penjualan kalender yang dituturkan KH Mursyidin. Berdua bersama Andi Bugaib Petta Tinring mereka menyisir pusat keramaian dan rumah rumah warga menjual kalender. Termasuk Kendari hingga Pomala'a.
"Waktu mau ke Boapinang, saya naik perahu karena kalender terlalu banyak. Pakai perahu kecil perjalana sekitar tiga hari. Sementara Petta Tinring melalui jalur darat, pakai motor ke Boapinang," kisah KH Mursyidin.
Penjualan kalender terus mereka lakukan. Perjalanan penjualan kalender Pesantren Aljunaidiyah, kala itu masih bernama Pesantren Modern (Ma'had Hadits) Biru berlanjut ke Pulau Kobaena.
Baca Juga: Respons Terbaru Andi Amar Soal Rumor Akuisisi PSM Makassar: Tunggu Tanggal Mainnya Aja!
KH Mursyidin dan Andi Bugaib Petta Tinring tinggal di Kobaena selama kurang lebih 1,5 bulan. Andi Bugaib Petta Tinring menawarkan atau menjual kalender kepada kepala kepala desa di Kobaena.
"Lama di Kobaena. Saya lumayan pintar main tenis meja, di Kobaena tidak ada yang kalahkan saya," kenang KH Mursyidin.
Setelah menelusuri Kobaena menjual kalender Pesantren Aljunaidiyah, Andi Bugaib Petta Tinring dan Mursyidin menumpang kapal pembawa sapi dari Kobaena ke daratan besar di Kolaka.
Perjalanan mereka berdua mengembara menjual kalender, Andi Bugaib Petta Tinring dan Mursyidin, selama tiga bulan akhirnya kembali berlabuh di Pelabuhan Bajoe.
Baca Juga: Bupati Maros Chaidir Syam Resmikan Gedung PKK dan Dharma Wanita Persatuan
"Saya kembali ke pondok, selanjutnya Petta Tinring menghadap ke Gurutta Puang Aji Junaide. Petta Tinring mengajar pancasila di pesantren. Saya kurang ingat persis tahun berapa," kata KH Mursyidin.
Perjalan menjual kalender bersama Andi Bugaib Petta Tinring, yang sudah meninggal beberapa tahun lalu, begitu membekas di hati KH Mursyidin. KH Mursyidin mengatakan, saat itu yang ada hanya perjuangan dengan bekerja ikhlas. "Apa yang diperintahkan Gurutta (KH Djunaid Sulaiman) kita kerjakan dengan ikhlas," kata KH Mursyidin.
Perjalan keduanya menjual kalender menyeberangi lautan untuk biaya membangun Pesantren Modern Biru, tentu tidak membayangkan bahwa apa yang mereka perjuangkan bisa bertahan hingga hari ini. Pesantren Aljunaidiyah kini sudah memasuki usia 54 tahun dengam fasilitas yang luar biasa.
Baca Juga: Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin Bentuk Komite Ekonomi Sulawesi Selatan
Pertarungan hari ini tentunya bukan lagi pada penjualan kalender hingga menyabung nyawa menyeberangi lautan, tapi bagaimana Pesantren Aljunaidiyah bisa bertarung memperbaiki kualitas dan fasiltas demi mewujudkan mimpi besar pada pendirinya.
Alfatiha untuk pada Gurunda yang sudah berjuang ikhlas meletakkan pondasi dasar Pesantren Aljunaidiyah.(***)
