POJOKSULSEL, PONOROGO – Tonggak sejarah baru pendidikan tinggi keagamaan di Ponorogo resmi tercipta. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo kini bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri atau UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, berdasarkan Surat Keputusan Presiden yang diserahkan oleh Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar, kepada Rektor Prof. Dr. Hj. Evi Muafiah, M.Ag., di Jakarta, Senin (26/5/2025).
Transformasi kelembagaan ini bukan sekadar perubahan nama. Lebih dari itu, UIN Kiai Ageng Muhammad Besari siap menjadi pusat keunggulan akademik dan moral, membuka program studi yang lebih beragam dan inklusif, serta memperkuat peran dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Rekam jejak UIN Kiai Ageng Muhammad Besari atau UIN Ponorogo tidak lahir tiba-tiba. Kampus ini memiliki sejarah panjang sejak berdirinya Akademi Syari’ah Abdul Wahhab (ASA) pada 1 Februari 1968, buah pemikiran visioner KH. Syamsuddin dan KH. Chozin Dawoedy. Akademi tersebut kemudian dinegerikan menjadi Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel pada 1970, dan terus bertransformasi seiring waktu.
Baca Juga: Sosok Prof Saprodin, Dirreskrimsus Polda Sulbar Pimpin Penggerebekan Oli Ilegal di Gudang Pupuk
Pada 1997, lembaga ini menjadi STAIN Ponorogo melalui Keppres No. 11 Tahun 1997, lalu berubah menjadi IAIN Ponorogo pada 2016 berdasarkan Perpres No. 75 Tahun 2016. Kini, perubahan besar kembali terjadi. Kampus yang telah menapaki usia ke-55 tahun ini resmi menyandang status universitas keagamaan negeri.
Rektor UIN Kiai Ageng Muhammad Besari, Prof. Evi Muafiah, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada semua pihak yang turut mewujudkan alih status tersebut. Ia menyebut transformasi ini sebagai amanah besar yang harus dijawab dengan kerja nyata.
“Terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto, Menteri Sekretaris Negara, Menteri PAN-RB, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Keuangan, Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar, serta seluruh jajaran Kemenag. Ini bukan akhir, tapi awal dari langkah besar UIN Ponorogo menuju universitas kelas dunia,” ungkapnya.
Baca Juga: Pemprov Sulsel Gelontorkan DBH Rp222 M Digelontor, Ini Respons Munafri Arifuddin
Ia menegaskan, alih status membuka peluang lebih luas untuk menghadirkan fakultas-fakultas baru, memperkaya program studi, serta memperluas akses pendidikan bagi masyarakat.
“Kami siap menjadi motor perubahan dan mencetak generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga berintegritas dan religius,” tegasnya.
Sebagai UIN baru, kampus ini diharapkan mampu menjawab tantangan zaman, khususnya di era disrupsi digital dan globalisasi.
Baca Juga: SELAMAT! MAN IC Gowa Sabet Juara Umum Olimpiade PPKn, Ini Nama-Nama Pemenangnya
Dengan nama besar Kiai Ageng Muhammad Besari yang lekat dengan tradisi keilmuan dan spiritualitas, UIN Ponorogo membawa semangat lokal yang berpijak kuat pada nilai-nilai Islam dan kebangsaan.
“Semoga alih status ini membawa keberkahan dan menjadi jalan bagi kemajuan pendidikan tinggi keagamaan di Indonesia,” pungkas Prof. Evi Muafiah.
***




