POJOKSULSEL, MAMUJU - Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) Suhardi Duka dan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas'ud, menjajaki kerjasama antarwilayah, khususnya sektor pangan dan distribusi.
Suhardi Duka mengatakan, Sulbar surplus produksi besar hingga 75 ribu ton setiap tahun. Pulau Kalimantan menjadi daerah distribusi beras dari Sulawesi Barat.
"Kami surplus di pangan kurang lebih 75.000 ton. Ini banyak lari ke Kalimantan,” kata Gubernur Suhardi Duka saat menerima kunjungan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud didamping istri Syarifah Suraidah di Rujab Gubernur Sulbar, Sabtu (28/3/20026)
Suhardi Duka mengakui bahwa distribusi beras Sulbar ke Kalimantan masih jalur antarpedagang. Ia ingin agar ke depan ada kerja sama antar pemerintah untuk jalur distribusi perdagangan beras.
Tentunya, kata dia, jika Pemprov Sulbar dan Pemprov Kaltim dapat memanfaatkan momen kerja sama sektor pangan, maka akan berdampak besar bagi kedua provinsi.
Baca Juga: Dua Remaja di Makassar Rusak Motor Warga BTN Minasa Upa Gara-Gara Emosi Diteriaki
"Jika ini bisa di manage dengan baik, antara g to g (Government to Government) kemudian mungkin bisa juga melewat BUMD masing-masing," katanya dikutip rilis Humas Pemprov Sulbar.
Tak hanya beras, Sulbar juga mulai mendorong kerjasama sektor peternakan. Dalam satu hingga dua tahun ke depan, komoditas seperti kambing diproyeksikan ikut surplus.
“Begitu juga 1 atau 2 tahun ke depan mungkin surplus di peternakan utamanya kambing,” jelasnya.
Ia menambahkan, kerja sama ini diarahkan untuk saling melengkapi kebutuhan kedua daerah.
“Kami sepakat tadi untuk saling bersinergi. Apa yang bisa kita ambil dari Kalimantan. Apa yang bisa kita bawa dari Kalimantan. Tanpa memperhitungkan defisit plus yang penting saling bermanfaat,” katanya.
Baca Juga: Erwin Sodding Tegaskan Evaluasi Berkala Jadi Tolok Ukur Tentukan Nasib PPPK
Sementara itu, Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud mengungkapkan kebutuhan beras di Kalimantan Timur masih belum terpenuhi, sementara Sulbar justru memiliki kelebihan produksi.
“Sulawesi Barat surplus daripada beras kurang lebih sekitar 75.000 ton setiap tahunan dan Kalimantan timur hari ini kita masih minus,” ujar Rudy.
Ia menyebut kebutuhan beras di daerahnya masih defisit sekitar 55 persen. Kedekatan geografis dinilai menjadi peluang untuk mempercepat distribusi.
“Jarak dari Sulawesi Barat ke Kalimantan timur kita hanya dipisahkan oleh selat saja,” ucapnya.
Untuk mendukung hal itu, salah satu opsi yang dibahas adalah penyediaan kapal cepat agar waktu tempuh bisa dipangkas.
"Kalau ke depan kita bisa mendapatkan kapal cepat yang kira kira speednya kurang lebih sekitar 25 sampai 30 knot. Mungkin untuk nyebrang ke Kalimantan timur hanya perlu waktu 4 atau 5 jam saja maksimum," jelasnya.
Kapal tersebut diharapkan menjadi sarana transportasi laut yang efektif untuk mobilisasi orang, barang, dan jasa. Rudy mengatakan ini juga dibahas, kemungkinan kapal itu nanti bisa mendapatkan subsidi bersama antara pemerintah Kaltim dan Sulbar.
"Bagaimana nanti kita mensubsidi agar kapal cepat ini untuk mobilisasi mulai dari manusia, barang dan jasa itu lebih cepat dan disingkat dari Kalimantan Timur mungkin bisa mengirim ke sini adalah untuk energi, mungkin lebih cepat," katanya.
Baca Juga: Bukan Rumahkan PPPK, Pemprov Sulsel Lakukan Evaluasi Berkala Kinerja Pegawai
"Kita membutuhkan disana bahan pangan mulai tadi disebutkan adalah beras termasuk kambing program beliau tadi," tuturnya.
Selain beras, rencana kerja sama juga mencakup komoditas lain seperti sapi, ayam petelur hingga material bangunan. Kalimantan Timur di sisi lain berpotensi menyuplai energi untuk Sulbar. ***




