POJOKSULSEL, MAMUJU - Persoalan kemiskinan menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka (SDK) dalam evaluasi 22 tahun perjalanan Sulbar.

Data BPS September 2025 mencatat persentase penduduk miskin Sulbar sebesar 10,18 persen, atau sekitar 149,88 ribu jiwa.

SDK mengakui angka kemiskinan Sulbar telah menurun. Namun, ia menilai pekerjaan pemerintah belum selesai karena masih ada sekitar 149,88 ribu warga yang berada dalam kondisi miskin dan membutuhkan intervensi pemerintah.

"Di balik angka itu masih ada 148 ribu lebih saudara kita yang membutuhkan kehadiran pemerintah. Karena itu pekerjaan kita belum selesai," kata SDK dikutip rilis resmi Humas Pemprov Sulbar.

Ia ingin masyarakat yang berhasil keluar dari garis kemiskinan tidak kembali jatuh ke kondisi sebelumnya, tetapi mampu meningkatkan taraf hidup.

Baca Juga: Dosen Mahad Aly Non-ASN Bisa Dapat Insentif Rp1 Juta per Bulan, Cek Syarat dan Cara Ajukannya

Sejumlah intervensi pun disebut terus dilakukan, mulai bantuan sosial, paket sembako, kelompok usaha bersama, unit usaha produktif, rehabilitasi rumah tidak layak huni hingga bantuan listrik murah.

Pada sektor ketenagakerjaan, SDK menyebut Tingkat Pengangguran Terbuka Sulbar pada Mei 2026 berada di angka 2,8 persen.

Namun, ia menilai tantangan berikutnya adalah memperbesar proporsi pekerjaan formal dan menciptakan pekerjaan yang lebih produktif serta memberikan kehidupan yang lebih baik bagi pekerja.

Untuk itu, Pemprov Sulbar menjalankan program padat karya pada 334 titik pada 2026 dengan dukungan anggaran sekitar Rp50,94 miliar yang disebut menyerap sekitar 7.900 tenaga kerja. Pelatihan keterampilan kerja juga disiapkan dengan anggaran sekitar Rp1,2 miliar.

SDK juga menyinggung ketimpangan pendapatan. Berdasarkan data yang disampaikannya, Gini Ratio Sulbar pada Maret 2026 berada di angka 0,314, lebih rendah dibanding angka nasional 0,368.

Baca Juga: Bone BerAmal FC Juara Piala Gubernur Sulsel 2026, Ini Pesan Bupati Andi Asman Sulaiman

"Sulawesi Barat yang kita cita-citakan bukan hanya Sulawesi Barat yang bertumbuh tinggi. Kita ingin Sulawesi Barat yang pertumbuhannya tinggi dan hasilnya dirasakan oleh semua masyarakat,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, SDK membedah makna tema Hari Ulang Tahun (HUT) ke-22 Sulawesi Barat, “Mengabdi dan Berkarya Bersama Menuju Sulbar Maju dan Sejahtera”.

Bagi SDK, tema tersebut tidak boleh berhenti sebagai slogan dalam perayaan hari jadi provinsi. Tema itu harus diterjemahkan menjadi ukuran nyata dari kerja pemerintah dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan SDK saat memimpin upacara HUT ke-22 Sulbar di Lapangan Upacara Kantor Gubernur Sulbar, Selasa (22/9/2026).

SDK mengatakan, kata “mengabdi” harus dimaknai sebagai keberpihakan pemerintah terhadap kepentingan rakyat.

“Mengabdi berarti menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Bagi saya, mengabdi berarti menggunakan kewenangan untuk menyelesaikan masalah rakyat,” kata SDK.

Sementara “berkarya”, menurut dia, bukan sekadar menjalankan program. Setiap kebijakan pemerintah harus menghasilkan sesuatu yang bisa dilihat, diukur, dan dirasakan masyarakat.

***