POJOLSULSEL, MAKASSAR– Nama Ahmad Farid AS kini menjadi buah bibir di kalangan pecinta ilmu agama. Santri berusia 16 tahun asal Desa Bonne-Bonne, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, ini sukses menorehkan prestasi membanggakan pada ajang Seleksi Tilawatil Quran dan Hadis (STQH) IX tingkat Provinsi Sulawesi Barat atau STQH Sulbar 2025.
Bagaimana tidak, Ahmad Farid dinobatkan sebagai Juara I Lomba Hafalan 500 Hadis Tanpa Sanad, mengungguli peserta dari berbagai daerah di ajang SQH Sulbar 2025.
Prestasi Ahmad Farid di STQH Sulbar 2025, maka ia secara otomatis akan menjadi wakil Sulawesi Barat di STQH Nasional.
Baca Juga: Di Hadapan Mahasiswa Unhas, Mentan Amran Beberkan Kunci Indonesia Jadi Negara Superpower
Tak hanya itu, pemuda kelahiran Wonomulyo, 7 Desember 2008 ini juga sudah menghafal 30 juz Al-Quran. Sebuah pencapaian luar biasa di usia yang masih sangat belia.
Saat ini, Ahmad Farid menimba ilmu di Pondok Pesantren Ahlul Qur’an Rea Barat, tempat ia memperdalam hafalan dan pemahaman agama. Kesehariannya sederhana, namun semangat belajarnya luar biasa.
Bakat keagamaannya sudah tampak sejak kecil saat ia masih duduk di bangku SDN Inpres 028 Ugi Baru, tempat ia selalu meraih peringkat terbaik.
Baca Juga: Selamat! Alumni Polbangtan Gowa Tembus CPNS 2024, Ini Daftar Nama dan Instansinya
Meski telah mengukir banyak prestasi, Ahmad Farid tak ingin berhenti sampai di sini. Ia bercita-cita menjadi pendakwah dan pendidik Islam yang aktif di tengah masyarakat.
Prestasi Ahmad Farid mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat. Kepala Biro Pemerintahan dan Kesra, Arianto, menyampaikan kebanggaannya secara langsung di akhir acara.
“Keberhasilan Ahmad Farid menghafal 500 hadis dan 30 juz Al-Qur’an adalah bukti kualitas generasi muda Sulawesi Barat yang berkarakter dan berakhlak mulia. Ini menjadi inspirasi besar bagi generasi muda lainnya,” ujar Arianto dikutip dari laman resmi Pemkesra Sulbar.
Baca Juga: Jangan Abaikan! Ini 7 Aturan Penting UMPTKIN 2025 yang Wajib Diikuti
Pemprov Sulbar, lanjut Arianto, akan terus mendukung pengembangan pendidikan agama dan pembinaan generasi Qur’ani.
Ia berharap, pencapaian Ahmad Farid mampu memicu semangat santri lain untuk ikut berprestasi, baik di tingkat daerah, nasional, maupun internasional.
“Teruslah berkarya, tetap rendah hati, dan jadilah generasi yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan daerah,” kayanya.
Ahmad Farid kini bukan hanya kebanggaan keluarga dan pesantren, tapi juga simbol harapan akan bangkitnya generasi muda Qur’ani di Sulawesi Barat.
Dengan prestasi dan kerendahan hatinya, ia membuktikan bahwa santri juga bisa bersinar di panggung provinsi bahkan nasional.
***




