GOWA, SULSEL.POJOKSATU.id - Derap langkah kuda terdengar di antara sejuknya udara dan rindangnya pepohonan pinus Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Di kawasan Taman Kota Bunga Malino, aktivitas berkuda menjadi salah satu pilihan wisata yang masih diminati pengunjung, Jumat (23/10/2026)..
Di balik aktivitas wisata tersebut, ada sosok Daeng Sansu, 57 tahun, yang telah lebih dari 30 tahun menjalani profesi sebagai penyedia jasa kuda hias. Selama puluhan tahun, ia setia menawarkan pengalaman berkuda kepada wisatawan yang datang menikmati suasana Malino.
Bagi Daeng Sansu, pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah. Profesi tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, sejak anaknya masih kecil hingga kini telah menyelesaikan pendidikan kuliah.
Waktu terus berjalan, tetapi Daeng Sansu masih bertahan dengan pekerjaan yang telah digelutinya selama lebih dari tiga dekade itu.
Namun, perjalanan panjang tersebut tentu tidak selalu berjalan mulus. Seperti pelaku usaha wisata lainnya, Daeng Sansu juga merasakan suka duka, terutama ketika jumlah pengunjung mengalami pasang surut.
Akhir pekan menjadi salah satu waktu yang dinantikan Daeng Sansu. Pada hari Sabtu dan Minggu, kawasan wisata Malino biasanya dipadati pengunjung yang ingin melepas penat bersama keluarga.
Keramaian juga terasa saat hari raya dan musim libur sekolah. Pada momen-momen tersebut, wisatawan yang datang memberikan peluang lebih besar bagi penyedia jasa kuda hias untuk memperoleh penghasilan.
Namun, suasana berbeda kerap dirasakan pada hari-hari biasa. Ketika kunjungan wisatawan berkurang, aktivitas berkuda pun tidak seramai saat akhir pekan atau musim liburan.
Ada kalanya ia harus menjalani hari dengan jumlah pengunjung yang minim. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan dalam mempertahankan mata pencaharian yang bergantung pada kunjungan wisatawan.
Ramai dan sepinya pengunjung menjadi bagian dari keseharian Daeng Sansu. Ia harus menjalani keduanya sebagai konsekuensi dari pekerjaan yang telah ditekuninya selama puluhan tahun.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Taman Kota Bunga Malino, menunggang kuda menjadi salah satu cara menikmati suasana alam yang berbeda.
Berlokasi di Jalan Sultan Hasanuddin, Kecamatan Tinggimoncong, pengunjung dapat menikmati sensasi berkuda dengan menunggangi kuda jinak mengelilingi kawasan wisata.
Dengan tarif Rp20 ribu untuk sekali perjalanan, wisatawan dapat menempuh jarak sekitar 300 meter sambil menikmati udara sejuk dan suasana pepohonan pinus yang menjadi ciri khas Malino.
Aktivitas ini menjadi pilihan rekreasi bagi pengunjung, termasuk keluarga yang membawa anak-anak untuk menikmati pengalaman berkuda secara langsung.
Di tengah pesatnya perkembangan pilihan wisata, keberadaan jasa kuda hias tetap menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada wisatawan di Malino.
Selain menjajakan jasa kuda hias, Daeng Sansu juga memiliki kegiatan lain, yakni berkebun ubi di daerah Kanre Api.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kesehariannya di luar aktivitas melayani wisatawan. Dengan menjalani pekerjaan di sektor wisata sekaligus berkebun, ia tetap produktif dalam menjalani kehidupan.
Lebih dari 30 tahun menekuni profesi sebagai penyedia jasa kuda hias tentu bukan perjalanan singkat. Ada masa ramai yang membawa harapan, tetapi ada pula hari-hari sepi yang menjadi tantangan tersendiri.
Bagi Daeng Sansu, Malino bukan hanya kawasan wisata dengan udara sejuk dan pemandangan alam yang memikat. Tempat ini juga menjadi ruang tempat ia menjalani kehidupan, bekerja, dan bertahan dari tahun ke tahun.
Di antara derap langkah kuda dan lalu-lalang wisatawan, kisah Daeng Sansu menggambarkan sisi lain pariwisata: tentang masyarakat lokal yang ikut menghidupkan destinasi, sekaligus menggantungkan penghidupan pada ramainya kunjungan wisatawan.






