POJOKSULSEL, MAMUJU - Bupati Mamuju, Hj Sitti Sutinah Suhardi, tidak sedang mengantar undangan biasa. Ia tengah membangun tradisi, yang berakar pada nilai lama: sopan santun dan penghormatan pada pendahulu.

Jelang Hari Jadi Mamuju yang ke-475 pada 14 Juli 2025, Sitti Sutinah Suhardi meluangkan waktunya menyambangi para mantan Bupati Mamuju satu per satu. Tidak mengirim utusan.

Bupati Mamuju Sitti Sutinah Suhardi datang bersama Wakil Bupati Yuki Permana Putra, Sekda H. Suaib, dan sejumlah pejabat lainnya.

Baca Juga: Pemuda Desa Bonne-Bonne Diserang Gerombolan OTK Dini Hari, Motor Dirusak

Kunjungan pertama ke rumah H. Almalik Pababari (Bupati 1999–2004), yang kini duduk sebagai anggota DPD RI.

Percakapan hangat mengalir. Tak lama, tapi cukup membingkai makna.
Undangan resmi diserahkan, senyum tulus dibalas, dan kenangan masa lalu pun sejenak dihidupkan.

Destinasi kedua: rumah mantan Bupati Drs. H. Habsi Wahid, MM (2016–2021).
Kini masih aktif sebagai anggota DPRD Sulbar. Sambutan yang diberikan bahkan lebih dari sekadar formalitas.

Hasbi Wahid terkesan, Menurutnya, ini penghormatan besar. Ia menyatakan kesediaannya hadir dalam sidang paripurna DPRD yang akan membuka rangkaian HUT Mamuju.

Baca Juga: ITB Arung Palakka Bone ke Senayan, Bahas Peta Jalan Pendidikan dan UMKM

Kunjungan ditutup dengan silaturahmi yang paling personal: ke rumah Dr. H. Suhardi Duka (SDK). Mantan Bupati Mamuju dua periode. Kini Gubernur Sulbar. Juga, ayah kandung dari Bupati saat ini.

Tapi yang terasa bukan sekadar hubungan darah. Tapi kesinambungan sejarah. Dari satu pemimpin ke pemimpin berikutnya.

Dalam penjelasannya, Sutinah mengakui jika selama ini, undangan Hari Jadi Mamuju kerap dikirim lewat dinas atau protokoler.

Tapi ia merasa ada yang hilang. Ada ruang yang perlu diisi oleh kehadiran langsung, oleh rasa hormat yang lebih manusiawi.

Baca Juga: Tiga Madrasah di Bantaeng Resmi Dapat SK IJOP, Kakanwil Kemenag Turun Tangan Langsung

Momentum Hari Jadi ini hanya setahun sekali. Sudah seharusnya jadi ajang menyambung silaturahmi, mengenang jasa para pendahulu, dan mewariskan etika kepemimpinan kepada generasi berikutnya.

Tak sekadar gestur simbolik. Tapi langkah kecil yang bisa menjadi budaya baru: mengundang dengan tangan sendiri, bukan lewat tangan orang lain.

Dan Mamuju, sebagai ibu kota provinsi, tentu butuh pemimpin yang bukan hanya bisa bekerja cepat, tapi juga bisa berhenti sejenak untuk menghormati sejarah.

Di tengah hingar-bingar politik lokal, mungkin langkah sederhana ini justru menjadi penyejuk: bahwa memimpin tidak hanya tentang membangun gedung, tetapi juga tentang membangun hubungan.

Baca Juga: Suara 'Laki Banget', Ferdi Polewali Mandar Bikin Juri Tak Berkutik, 3 SO Langsung Tembus TOP 35

Dan Sutinah tahu, rumah yang kokoh adalah rumah yang tidak melupakan pondasinya.

***