POJOKSULSEL, POLEWALI MANDAR - Kekeringan dan cuaca ekstrem mulai berdampak terhadap masyarakat kecil di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat.

Petani di Polewali Mandar menghadapi keterbatasan air hingga ancaman gagal panen, sementara nelayan tradisional kesulitan melaut akibat kondisi laut dan angin kencang. Itu semua adalah dampak kekeringan dan cuaca ekstrem.

Dampak kekeringan juga memicu kebakaran lahan perkebunan masyarakat. Salah satunya terjadi di Desa Karombang, Kecamatan Bulo.

Baca Juga: Gus Kikin Resmi Jadi Ketua Umum PBNU 2026–2031

Kebun kakao milik Usmar (35) terbakar dan menghanguskan sekitar 500 pohon kakao produktif di lahan seluas kurang lebih 0,5 hektare.

Kebakaran tersebut menyebabkan seluruh tanaman kakao di dalam kebun mengalami kerusakan parah dan tidak lagi dapat menjadi sumber penghasilan bagi keluarga Usmar.

Selain perkebunan, kekeringan turut berdampak pada lahan persawahan masyarakat. Ketersediaan air yang semakin terbatas berpotensi menyebabkan tanaman mengalami kerusakan hingga gagal panen apabila kondisi tersebut berlangsung lebih lama.

Baca Juga: Menag Tutup MTQ VIII KORPRI Nasional di Pangkep, Sulsel Raih Peringkat Kedua

Kondisi lahan yang kering juga meningkatkan risiko kebakaran di kawasan hutan maupun perkebunan masyarakat, termasuk lahan perkebunan kakao yang menjadi sumber penghidupan petani.

Di sisi lain, nelayan tradisional juga menghadapi persoalan akibat cuaca ekstrem.

Angin kencang dan kondisi laut yang tidak bersahabat membuat nelayan kecil kesulitan melakukan aktivitas penangkapan ikan. Nelayan yang menggunakan perahu tradisional terpaksa tidak melaut ketika kondisi laut dinilai membahayakan keselamatan.

Baca Juga: Parepare Jadi Tuan Rumah Piala Gubernur Sulsel 2026, Stadion BJ Habibie Bakal Bergeliat

Situasi tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan nelayan karena sebagian besar mengandalkan hasil tangkapan harian untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ketika tidak melaut, nelayan tidak memperoleh pendapatan. Sementara kebutuhan pangan, pendidikan anak, bahan bakar, operasional perahu dan kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi.

Anggota Dewan Daerah WALHI Sulawesi Barat sekaligus Ketua DPD KNTI Polman, Muh. Muhsin R, meminta pemerintah mengambil langkah konkret untuk melindungi masyarakat yang terdampak kondisi cuaca ekstrem tersebut.

Menurut Muhsin, petani dan nelayan merupakan kelompok yang paling rentan ketika terjadi perubahan cuaca ekstrem karena sumber penghasilan mereka sangat bergantung pada kondisi alam.

“Petani membutuhkan air untuk mempertahankan tanamannya, nelayan membutuhkan kondisi laut yang aman untuk mencari ikan,” kata Muhsin.

Baca Juga: Ramah Tamah, 312 Alumni Baru PPs UMI Dikukuhkan pada Wisuda Periode II 2026

Ia menilai pemerintah tidak boleh hanya menunggu kondisi cuaca kembali normal. Langkah pencegahan, mitigasi, perlindungan sosial dan bantuan bagi masyarakat terdampak harus segera disiapkan.

Muhsin juga mendorong pemerintah menyediakan skema bantuan langsung khusus bagi masyarakat yang terdampak kekeringan dan kebakaran.

Menurutnya, kerugian akibat kekeringan tidak hanya berupa berkurangnya hasil pertanian, tetapi juga dapat menyebabkan hilangnya sumber pendapatan masyarakat.

Baca Juga: 4 Daerah Jadi Tuan Rumah Piala Gubernur Sulsel 2026, Pembukaan di Stadion Gelora BJ Habibie Parepare

“Ketika sawah gagal panen atau pohon kakao produktif terbakar, masyarakat kehilangan sumber penghasilan. Ini harus mendapat perhatian pemerintah,” ujarnya.

Ia meminta pemerintah turun langsung ke desa-desa terdampak, termasuk wilayah pesisir, kepulauan dan kawasan pegunungan.

Pemerintah, kata dia, perlu memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat serta air untuk kebutuhan pertanian dan perkebunan.

Baca Juga: GPMB Pusat Soroti Gerakan Literasi Maros, Dukungan Bupati Chaidir Syam Dipuji

Selain itu, bantuan bagi masyarakat terdampak kekeringan dan kebakaran serta perlindungan terhadap nelayan kecil yang tidak dapat melaut juga dinilai perlu diberikan.

Muhsin turut meminta pemerintah memastikan ketersediaan BBM bersubsidi bagi nelayan kecil untuk menunjang aktivitas mereka ketika kondisi laut kembali aman.

“Kekeringan, kebakaran lahan dan cuaca ekstrem bukan hanya persoalan lingkungan. Ini juga menyangkut ekonomi, pangan, keselamatan dan keberlangsungan hidup masyarakat kecil,” tegasnya.

Ia menambahkan, ketika petani kehilangan hasil panen dan nelayan kehilangan kesempatan untuk melaut, dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga mengancam ketahanan ekonomi keluarga dan masyarakat.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu memastikan masyarakat terdampak mendapatkan perlindungan dan bantuan agar dampak cuaca ekstrem tidak semakin memperburuk kondisi ekonomi mereka.

***