‎‎POJOKSULSEL, MAROS - Gerakan pembudayaan minat baca di Kabupaten Maros mendapat perhatian khusus dari Pengurus Pusat Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB).
‎
‎Dukungan Pemerintah Kabupaten Maros (Pemkab Maros) di bawah kepemimpinan Bupati Chaidir Syam dinilai menjadi salah satu kekuatan penting dalam mendorong tumbuhnya gerakan literasi di tengah masyarakat.
‎
‎Tak hanya mengandalkan pemerintah dan institusi pendidikan, gerakan literasi di Maros berkembang melalui kolaborasi berbagai elemen masyarakat.

Aktivis literasi, pustakawan, akademisi, TNI, ulama, pendidik, penulis, KNPI, majelis taklim, guru PAUD hingga jurnalis turut terlibat.

Baca Juga: 89 Ribu Warga Makassar Terima 2.676 Ton Beras, KDKMP Untia Jadi Titik Penyaluran Bantuan Pangan
‎
‎Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat GPMB, Nuradi Indrawijaya, menyebut keterlibatan lintas sektor tersebut sebagai sebuah terobosan yang layak menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.
‎
‎Hal itu disampaikan Nuradi dalam diskusi virtual menyambut 25 tahun GPMB, Jumat (28/8/2026).
‎
‎Menurutnya, membangun budaya baca tidak cukup jika hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga pendidikan. Dibutuhkan gerakan bersama untuk menciptakan ekosistem literasi yang terus tumbuh dan berkelanjutan.
‎
‎“Sangat luar biasa dan sebuah terobosan bersumber dari semua pihak yang ada di Maros. Kabupaten Maros menjadi contoh di seluruh Indonesia, terutama dalam pembudayaan budaya baca,” kata Nuradi.

Baca Juga: UMI Wisuda 1.292 Lulusan di Hari Kedua, Prof Hambali Thalib Tekankan Sarjana Harus Jadi Jalan Keluar
‎
‎Apresiasi juga datang dari Arni Daeng Kanang, salah seorang kepala bidang pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kendari.
‎
‎Arni mengaku telah beberapa kali berkunjung ke Maros dan menyaksikan langsung dukungan pemerintah daerah terhadap gerakan literasi.
‎
‎“Saya menjadi penyaksi beberapa kali berkunjung ke Maros dan melihat langsung dukungan Bupati Chaidir Syam terhadap gerakan literasi,” ujar Arni.

Baca Juga: 63 Persen Program Studi Unhas Kantongi Akreditasi Unggul, 79 Prodi Dapat Akreditasi Internasional
‎
‎Ketua GPMB Maros, Bachtiar Adnan Kusuma, menegaskan bahwa literasi tidak boleh berhenti sebagai jargon atau sekadar menjadi program seremonial.
‎
‎Menurutnya, literasi merupakan bentuk pengabdian yang harus diwujudkan melalui aksi nyata. Karena itu, para pegiat literasi didorong untuk terus menghadirkan kegiatan yang kreatif dan inovatif.
‎
‎Bachtiar juga mengingatkan agar para pegiat literasi tidak merasa rendah diri dalam menjalankan gerakannya. Literasi, kata dia, harus dilakukan dengan ketulusan dan dijadikan sebagai panggilan jiwa.
‎
‎“Literasi adalah jalan Tuhan. Karena itu, tidak perlu rendah diri, terus melakukan gerakan inovatif dan kreatif, serta menjadikan literasi sebagai panggilan jiwa,” kata Bachtiar.

Baca Juga: Nasaruddin Umar Tegaskan Sikap di Tengah Dukungan Maju Ketum PBNU
‎
‎Pandangan tersebut diperkuat Prof. Dr. Hanna, M.Pd. Ia menilai gerakan literasi membutuhkan ketulusan dan konsistensi dari para relawan yang terlibat.
‎
‎“Pengabdian literasi adalah panggilan jiwa, panggilan relawan dan tidak menuntut apa-apa,” ujar Hanna.
‎
‎Diskusi virtual tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menyambut 25 tahun GPMB. Forum ini sekaligus menjadi ruang bertemunya tokoh-tokoh gerakan membaca dari berbagai daerah di Indonesia.
‎
‎Rangkaian diskusi selanjutnya akan menghadirkan tokoh literasi dari luar lingkungan internal GPMB. Kehadiran berbagai perspektif diharapkan dapat memperluas jejaring kolaborasi dan memperkuat gerakan pembudayaan minat baca di berbagai daerah.

Baca Juga: Nasaruddin Umar Tegaskan Sikap di Tengah Dukungan Maju Ketum PBNU
‎
‎Bagi Maros, apresiasi dari GPMB Pusat menjadi dorongan untuk terus memperkuat kolaborasi.
‎
‎Dukungan pemerintah daerah yang berjalan bersama gerakan masyarakat menunjukkan bahwa membangun budaya baca bukan pekerjaan satu instansi, melainkan gerakan bersama yang membutuhkan kepedulian, kreativitas dan konsistensi banyak pihak. ***