POJOKSULSEL, MAROS - Tim Pengabdian Masyarakat Politeknik Pertanian Negeri Pangkep (Polipangkep) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Teknologi Hijau Batik di Kampung Karst Rammang-Rammang, Kabupaten Maros, Kamis (11/12/2025).

Kegiatan Pengabdian Masyarakat Polipangkep menjadi langkah strategis dalam membangun kolaborasi pentahelix untuk pengembangan produk inovatif eco batik polimasta yang memanfaatkan limbah pertanian sebagai pewarna alami ramah lingkungan.

FGD dipimpin langsung oleh Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Polipangkep, Dr. Zulfitriany Dwiyanti Mustaka, bersama anggota tim Mariani, M.P. dari Polipangkep serta Dr. Ir. Helda Ibrahim dari Universitas Islam Makassar.

Baca Juga: Update Seleksi JPT Pratama Sulbar, Gubernur Suhardi Duka Dalami Karakter Calon Pejabat

Forum diskusi ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur pemerintah daerah, dunia usaha dan industri (DUDI), masyarakat setempat, akademisi, hingga perwakilan media.

Kehadiran lintas sektor tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem pengembangan batik ramah lingkungan yang berkelanjutan.

Dalam paparannya, Zulfitriany menjelaskan bahwa FGD ini bertujuan mempertemukan seluruh pihak terkait untuk membangun komitmen bersama dalam pengembangan eco batik polimasta, sekaligus memperkenalkan produk inovatif hasil riset kepada masyarakat luas.

Baca Juga: IAIN Parepare Buka Penjaringan Bakal Calon Rektor Periode 2026–2030: Simak Tahapan Lengkapnya!

“FGD ini menjadi ruang penting untuk menyatukan gagasan dan komitmen seluruh pemangku kepentingan, agar eco batik polimasta tidak hanya berhenti sebagai produk riset, tetapi dapat berkembang menjadi produk unggulan yang bernilai ekonomi dan berkelanjutan,” ujar Zulfitriany.

Ia mengungkapkan, eco batik polimasta merupakan produk batik yang menggunakan pewarna alami berbasis limbah pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Bahan baku tersebut tersedia melimpah di Kota Makassar dan wilayah sekitarnya.

Beberapa limbah pertanian yang dimanfaatkan sebagai pewarna alami antara lain biji alpukat (Persea americana), kulit rambutan (Nephelium lappaceum), kulit manggis (Garcinia mangostana), sabut kelapa (Cocos nucifera), hingga kayu secang (Caesalpinia sappan).

Baca Juga: Siap-Siap! Tarif Tol Makassar Segera Penyesuaian, Berlaku di Lima Gerbang Utama

Pemanfaatan limbah tersebut, lanjutnya, tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Selain mengurangi limbah, inovasi ini diharapkan mampu mendorong lahirnya produk batik khas yang memiliki nilai jual tinggi serta mendukung pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. ***