POJOKSULSEL, GOWA - Seminar Komunikasi Lintas Agama dan Budaya digelar mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi (IKOM) UIN Alauddin Makassar di Lecturing Theater (LT) Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Kamis (2/7/2026).

Kegiatan bertajuk “Persatuan untuk Perbedaan: Membangun Persaudaraan di Tengah Diversitas” ini menjadi bagian dari evaluasi akhir mata kuliah Komunikasi Lintas Agama dan Budaya bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar angkatan 2024 .

Dosen pengampu Komunikasi Lintas Agama dan Budaya UIN Alauddin Makassar, Jalaluddin B, mengatakan seminar tersebut dirancang sebagai metode pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) untuk memperluas pemahaman mahasiswa terhadap realitas sosial di masyarakat.

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori di ruang kelas, tetapi juga perlu melihat langsung dinamika komunikasi antaragama dan budaya di kehidupan sehari-hari.

"Mahasiswa perlu memahami realitas sosial secara lebih utuh, termasuk dari perspektif kelompok minoritas," ujarnya dikutip dari laman resmi UIN Alauddin.

Baca Juga: Kisah Araya dan Rusdi Mengejar Mimpi Kuliah di Unhas, Harapan Besar Bertumpu pada KIP Kuliah

Kegiatan ini dibuka oleh Sekretaris Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Muh. Said, yang mengapresiasi model evaluasi pembelajaran melalui seminar tersebut.

Ia menilai pendekatan ini mendorong mahasiswa lebih aktif berdialog, berpikir kritis, serta memahami keberagaman secara lebih mendalam.

Seminar menghadirkan dua narasumber, yakni Nurfadillah selaku dosen Universitas Sawerigading, dan Zulfikarni Bakri yang merupakan aktivis masyarakat adat.

Nurfadillah membahas nilai sipammase-mase dalam komunitas Bissu di Kabupaten Pangkep yang menekankan sikap saling mengasihi sebagai dasar membangun hubungan sosial yang harmonis.

Sementara itu, Zulfikarni menjelaskan kearifan lokal masyarakat adat Kajang Dalam (Ilalang Embayya) di Kabupaten Bulukumba yang menjunjung tinggi tanggung jawab kolektif dalam menjaga perilaku dan hubungan sosial di dalam maupun luar komunitas.

Baca Juga: Chaidir Syam Resmi Pimpin Dekopinda Maros, Pasang Target Besar Ini Majukan Koperasi

Diskusi berlangsung interaktif dengan mahasiswa yang aktif membahas isu komunikasi lintas budaya, posisi kelompok minoritas, hingga pentingnya penggunaan bahasa yang inklusif dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam sesi penutup, Jalaluddin menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang tidak menstigma kelompok tertentu.

Ia mencontohkan perlunya pemilihan istilah yang lebih menghargai martabat manusia dalam penyebutan kelompok sosial maupun komunitas adat. ***