POJOKSULSEL, ENREKANG - Tim peneliti Program Pendanaan Riset Indonesia Bangkit MoRA The Air Funds UIN Alauddin Makassar menggelar survei lapangan di Kawasan Adat Kaluppini, Kabupaten Enrekang, 1-6 April 2026.
Penelitian tim MoRA UIN Alauddin Makassar bertajuk "Manifestasi Trilogi Kerukunan dalam Sistem Ruang dan Relasi Sosial Masyarakat Adat Kaluppini", yang menyoroti bagaimana nilai spiritual, sosial, dan alam menyatu dalam harmoni kehidupan.
Trilogi kerukunan yang dimaksud dalam penelitian ini mencakup hubungan manusia dengan Sang Pencipta, hubungan antar sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam lingkungan. Ketiga aspek ini dinilai menjadi fondasi utama bagi masyarakat Kaluppini dalam mempertahankan eksistensi mereka sebagai salah satu komunitas adat di Sulawesi Selatan.
Baca Juga: Wamenag Pastikan Ditjen Pesantren Segera Diundangkan, Kemenag Siapkan Struktur Baru
"Kami menemukan bahwa tata ruang di Kaluppini tidak hanya sekadar pembagian wilayah fisik, tetapi merupakan manifestasi dari nilai-nilai luhur. Ada ruang yang disakralkan untuk ritual, ruang sosial untuk bermasyarakat, dan ruang produksi yang dikelola dengan aturan adat ketat," ujar Zulkarnain selaku ketua tim peneliti MoRA UIN Alauddin Makassar.
Dalam observasi lapangan, tim peneliti mencatat bahwa relasi sosial di Kaluppini sangat dipengaruhi oleh struktur kepemimpinan adat yang kuat. Hal ini menciptakan stabilitas komunal dan kohesi sosial yang tinggi.
Penelitian ini juga mendokumentasikan bagaimana masyarakat adat Kaluppini membangun sistem ruang terpadu sebagai pusat ritual adat.
Baca Juga: 56 Persen Siswa MAN IC Gowa Lolos PTN Ternama, 45 Siswa MAN 3 Kota Makassar Tersebar di 9 Kampus
Pembagian peran dalam upacara adat, seperti Pangewaran atau Maccera To Manurung, menjadi bukti nyata bagaimana trilogi kerukunan diimplementasikan secara kolektif.
Ritual adat di Kaluppini merefleksikan keseimbangan kosmologi Tuhan, manusia dan alam. Aturan-aturan adat mencakup penggunaan lahan dan pemanfaatan hasil bumi, pantangan-pantangan terkait alam khususnya di kawasan hutan adat (ongko) yang secara langsung merupakan bentuk nyata dari ekoteologi.
"Hasil dari kajian ini diharapkan dapat menjadi rujukan ilmiah dalam pengembangan kebijakan berbasis kearifan lokal. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk memperkuat posisi masyarakat adat Kaluppini dalam mempertahankan hak-hak wilayah dan identitas budayanya di tengah tantangan globalisasi" tandas Dosen Prodi Arsitektur UIN Alauddin Makassar tersebut. ***




