POJOKSULSEL, BONE – Suasana haru menyelimuti Musala Al Ikhlas Kantor Kemenag Bone, Jumat (13/6/2034). Seorang pemuda 28 tahun, Soni Tonapa, resmi mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk Islam.
Tak kuat menahan haru, suasana menjadi khusyuk saat Soni Tonapa, dengan suara pelan namun mantap, mengikuti bimbingan Kepala KUA Kecamatan Awangpone, Abdul Rahim Riduang mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai pertanda masuk Islam.
Peosesi Soni Tonapa masuk Islam disaksikan langsung oleh Plt. Kasi Bimas Islam H. Muhammad Rafi As’ad dan jajaran staf Kemenag Bone, momen sakral itu jadi awal baru dalam perjalanan spiritualnya.
Baca Juga: Sang Suami Wafat Usai Cium Hajar Aswad, Resnawati Bawa Kenangan Terakhir dari Makkah
Setelah resmi memeluk Islam, Soni mengganti nama menjadi Khaerul Soni Tonapa, sebagai lambang kelahiran kembali dalam fitrah suci. Namun, perjalanan menuju titik ini bukan perkara mudah.
Soni mengaku harus menghadapi tekanan bahkan penolakan dari keluarga terdekatnya.
Ia memilih meninggalkan kampung halaman dan hidup berpindah demi mempertahankan keyakinannya.
Baca Juga: 4.353 Pendaftar Pilih UIN Alauddin Makassar, Tiga Prodi Ini Paling Diburu Jalur UMPTKIN
Hidayah itu datang dua hari terakhir, rasanya seperti ada yang mengetuk hati terus-menerus.
Selama berbulan-bulan, ia belajar Islam secara mandiri. Tak punya guru langsung, ia memanfaatkan dakwah digital di YouTube dan media sosial lainnya untuk memahami dasar-dasar akidah, tauhid, hingga tata cara ibadah.
Keinginan terbesarnya usai masuk Islam adalah mondok. Ia ingin belajar lebih dalam soal Islam secara menyeluruh di lingkungan yang mendukung.
Baca Juga: Jemaah Haji Sulsel Rumahnya Terbakar Saat Lempar Jumrah, Anisah Naharuddin: Saya Ikhlas!
Menanggapi hal itu, Plt. Kasi Bimas Islam, H. Muhammad Rafi As’ad langsung memberi arahan sekaligus pesan mendalam.
“Orang yang masuk Islam, dia kembali pada fitrah. Tugas kita adalah menjaga kesucian itu, salah satunya lewat shalat lima waktu dan terus menuntut ilmu,” ucapnya.
Kemenag Bone juga bergerak cepat. Bersama stafnya, Saenal Abidin, Rafi langsung mendampingi proses pendaftaran Soni ke Pondok Pesantren Al-Ma’arif.
Di sanalah Soni akan menapaki fase baru kehidupannya sebagai seorang muslim.
Kisah Khaerul Soni Tonapa jadi bukti nyata bahwa hidayah bisa datang dengan cara yang tak terduga. Kepada siapa pun, kapan pun. Tinggal bagaimana kita menyambut dan menjaga cahaya itu tetap menyala.
***




