POJOKSULSEL, MAKASSAR - Penampilan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Nomor urut 1 Danny Pomanto – Azhar Arsyad (DIA) pada Debat Kedua Pilgub Sulsel, Minggu (10/11), menyita perhatian publik.

Sala satunya dari tokoh masyarakat Toraja, Prof. Dr. Ir. Daud Malamassam, M.Agr. Ia mengatakan, Danny-Azhar secara kualitas memenangkan Debat Kedua Pilgub Sulsel.

“Debat Kedua Pilgub Sulsel usai sudah, dengan kemenangan telak dan sangat gemilang utk Paslon Nomor 1 DiA. Kata-kata penutupnya atau closing statemennya juga sangat excellent dan komprehensif,” ucap Prof Daud, Senin (11/11/2024).

Baca Juga: Agama Lewat Perilaku: Sebuah Perenungan Tolstoyan

“Nampak sekali bahwa Pak DP (Danny Pomanto) sangat memahami kondisi dan kebutuhan masyarakat Sulawesi Selatan,” sambung Prof Daud Malamassam .

Karena itu, Prof Daud Malamassam mengajak kepada masyarakat untuk sama-sama mengubah nasib Sulawesi Selatan, dengan meletakkan pilihannya kepada Danny-Azhar.

“Jadi jika masyarakat Sulsel ingin merubah nasib menjadi lebih baik, maka pilihannya adalah Paslon Nomor urut 1 DiA,” jelas Prof Daud Malamassam.

Baca Juga: Terbanyak di Indonesia, Universitas Hasanuddin Miliki 420 Guru Besar. Berikut Rinciannya

Prof Daud Malamassam berharap agar masyarakat Sulawesi Selatan menggunakan akal sehatnya menentukan pilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, dengan mencoblos pasangan nomor urut 1 Pilgub Sulsel.

“Semoga para pemilih dianugerahi akal sehat, saat memilih pada tanggal 27 November 2024, dan memilih DiA untuk Sulsel yang lebih baik bagi semua, Amin,” harap Prof Daud Malamassam.

Tokoh Toraja ini menuturkan, dirinya sudah bertanya ke beberapa kerabatnya terkait pandangan hasil debat kedua Pilgub Sulsel.

Baca Juga: Kenalkan Tiga Anggota Baru Dewan Profesor Unhas. 2 di Antaranya Guru Besar Perempuan

Hasilnya, mereka mengatakan bahwa penampilan Danny-Azhar di debat tersebut sudah seperti guru yang menyampaikan materinya ke siswa.

“Semua orang yang saya tanya mengatakan bahwa Pak Danny hebat, ibarat Guru (Paslon 1) bertanding dengan Murid (Paslon 2). Jadi kalau ada orang yang memberi penilaian terbalik, maka hanya ada 2 kemungkinan,” ujar Prof Daud Malamassam.

“Pertama, orang itu tidak mengikuti debat. Kedua, orang itu tidak paham tentang apa yang diperdebatkan,” pungkas Prof Daud Malamassam.(***)