POJOKSULSEL, MAKASSAR - Pakar komunikasi politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Dr Iqbal Sultan menilai fenomena kader partai menyatakan dukungan atau membelot, berbeda dengan partainya, salah satu penyebabnya karena adanya kepentingan yang lebih besar mereka perjuangkan. Baik secara pribadi maupun kelompoknya.
"Ini adalah dinamika politik. Ada kepentingan yang lebih besar, apakah itu kepentingan pribadi, kelompok kecil yang dianggap lebih besar," kata Iqbal Sultan.
Peryataan Iqbal Sultan ini terkait fenomena di Pilgub Sulsel 2024 dimana secara terbuka mantan Ketua DPD PKS Sidrap Mahmud Yusuf menyatakan dukungan kepada pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel Danny Pomanto-Azhar Arsyad (DIA).
Baca Juga: Silaturahmi Keluarga Besar Takalar Panrannuangku: Langkah Awal Menuju Raker KKTP
Iqbal Sultan mengatakan, idealnya adalah kader partai mengikuti perintah partai secara vertikal, dari atas ke bawah. Menurut Iqbal Sultan, apa yang disepakati dan diputuskan partai akan dukungan pasangan calon di Pilgub Sulsel idelanya diikuti semua kader.
"Idealnya. Partai tentu punya alasan memutuskan (mengusung calon tertentu). Partai tentu ingin medapat kebijakan pada tingkat tinggi. Pertimbangan dan alasan rasional," kata Iqbal Sultan.
Sebagaimana diberitakan, Mahmud Yusuf melawan keputusan partainya di Pilgub Sulsel 2024. Dimana PKS memberikan rekomendasi mengusung pasangan Andi Sudirman Sulaiman-Fatmawati Rusdi (Andalan Hati). Kejadian ini tentunya menjadi pertanda tidak solidnya partai pengusung tim Andalan Hati.
Baca Juga: Andi Arwin Azis Ingatkan Netralitas ASN di Hari Kesaktian Pancasila: Jangan Paksa Saya!
Diketahui, Mahmud Yusuf merupakan mantan Wakil Bupati (Wabup) Sidrap 2018-2023, menerima dan menjamu Calon Wakil Gubernur Sulsel Azhar Arsyad di kediamannya, Jl Ganggawa, Sidrap, Minggu (29/9/2024) pagi.
Sebelumnya MY adalah bakal calon Bupati Sidrap 2024, namun batal bertarung di Pilkada Sidrap.
Kali ini mantan pasangan Dolla Mando sebagai Bupati Sidrap 2018-2023 ini, mantap mengarahkan dukungan ke pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, Danny Pomanto-Azhar Arsyad.
Baca Juga: Pjs Wali Kota - Dandim 1408 Kolaborasi Antisipasi Kekeringan di Kota Makassar
"Kita all out menangkan DIA. Dengan mengumpulkan tim yang loyal yang kemarin bergerak di Pilkada Sidrap," kata Mahmud Yusuf.
Mahmud Yusuf juga mendampingi Azhar silaturahmi ke ke pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Wahid, Desa Wanio, Kecamatan Pancalotang.
"Bentuk komitmen kami mengawal DIA di Sidrap," singkatnya. Terkait PKS yang mengusung calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel nomor urut 2, Andi Sudirman-Fatmawati (Andalan Hati), bagi Mahmud Yusuf itu bukan penghalang. Bahkan dukungannya yang berseberangan dengan sikap partai yang dapat berakibat sanksi dia tak perduli.
"Saya tidak peduli. Kalau partai (PKS) mau memberi sanksi saya siap. Intinya sekarang bagaimana kami memenangkan Pak Danny - Azhar," tegasnya.
Terkait dengan perlawanan Mahmud Yusuf sebagai kader PKS yang melawan kebijakan partainya, Iqbal Sultan menilai tentu ada pertimbangan lain yang olehnya menjadi kepentingan lebih besar. Apakah pribadi atau kelompoknya.
Baca Juga: Plt Kadis Kominfo Makassar Tekankan Pentingnya Pemanfaatan Teknologi Bijak
"Inklusifitas, ada kepentingan lebih besar daripada kepentingan partai. Bisa saja seperti itu. Bisa pribadi atau kelompoknya," kata Iqbal Sultan.
Iqbal Sultan menilai, posisi Mahmud Yusuf sebagai mantan ketua PKS di Sidrap dan mantan wakil bupati, dinilai seksi. Saat ini, Mahmud Yusuf tidak memiliki cantolan, tapi memiliki basis suara yang cukup besar.
"Dinamika kepartaian adalah kepentingan. Ada janji, ada kesepakatan. Jika ada yang bergeser dari kesepakatan partainya, pasti ada kepentingan," kata Iqbal Sultan.
Di sisi lain, Iqbal Sultan menilai bahwa "kesetiaan" pada partai saat ini mengalami pergeseran. Karena bisa saja, kata Iqbal Sultan, dipengaruhi pada keinginan seseorang untuk mengembangkan dirinya di tempat lain.
Baca Juga: Daftar 16 Sekolah di Kota Makassar Raih Penghargaan Adiwiyata Mandiri dan Adiwiyata Nasional
Termasuk di kontestasi pemilihan kepala daerah, termasuk Pilgub Sulsel, ada persinggungan yang sangat dekat dengan personal. Iqbal Sultan mencontohkan misalnya hubungan emosional, kekeluargaan, kekerabatan yang memungkinkan seseorang untuk beralih dukungan.
"Mungkin akan main dua kaki dan tiga kaki bahkan. Semua karena kepentingan," kata Iqbal Sultan.
Pernyataan terbuka Mahmud Yusuf yang secara terbuka menyampaikan pernyataan membelot yang mendukung DIA di Pilgub Sulsel 2024, bisa jadi fenomena gunung es tang terjadi di tingkat kader karena terjadinya perbedaan kepentingan secara personal maupun kelompok.
Hanya saja, semua masih berjalan secara tertutup alias belum ada yang menyatakan sikap secara terang terangan seperti Mahmud Yusuf. Atau bisa juga terjadi sebaliknya.(***)
