POJOKSULSEL, JAKARTA - Ajang Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2025 kembali melahirkan inovator muda Indonesia dengan ide-ide brilian yang memadukan teknologi dan kepedulian sosial.
Enam tim terbaik dari dua kategori SFT, yaitu pendidikan tinggi dan sekolah menengah, berhasil merebut gelar juara Samsung Solve for Tomorrow.
Samsung Solve for Tomorrow atau SFT mengangkat dua tema, yaitu Teknologi untuk Keberlanjutan Lingkungan (Environmental Sustainability via Technology) dan Teknologi untuk Perubahan Sosial melalui Olahraga: Untuk Pendidikan dan Masa Depan yang Lebih Baik’ (Social Change through Sport and Tech: For Education and a Better Future).
Kategori pendidikan tinggi (D3, D4, S1) menempatkan tim Labmino dari Universitas Indonesia (UI) sebagai juara pertama lewat inovasi RunSight, kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) yang membantu pelari tunanetra berlari lebih aman dengan panduan suara real-time.
Baca Juga: KPK Kawal Pemerintahan Bersih, Pemprov Sulsel dan DPRD Komitmen Perkuat Pencegahan Korupsi
Mereka disusul oleh tim Hackie Chan dari Universitas Brawijaya di posisi kedua dengan Pantara, platform digital berbasis AI untuk membantu manajemen bahan pangan segar dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sementara tim KYGB dari Universitas Bina Nusantara Alam Sutera menempati posisi ketiga berkat Gesti Talk, aplikasi penerjemah bahasa isyarat berbasis AI untuk mendukung komunikasi teman-teman tuli di ruang publik.
Adapun di kategori sekolah menengah (SMA/SMK/MA), tim Fungaes dari SMAN Unggulan M.H. Thamrin Jakarta menjadi juara pertama melalui proyek MycoSense, sistem pemantauan kualitas tanah berbasis jaringan jamur alami dan Edge-AI untuk mendukung pertanian berkelanjutan.
Posisi juara kedua diraih tim TIMSES dari MAN 2 Kota Malang lewat EcoZone, sistem pengolahan limbah cair industri pertanian berbasis electro-ozonation dan IoT.
Sedangkan tim R2045 NEST-X dari MAS International Technonatura melengkapi tiga besar dengan Kandang H.I.J.A.U, inovasi peternakan ayam otomatis berbasis smart sensor dan tenaga surya ramah lingkungan.
Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, Bagus Erlangga, mengaku bangga dengan kreativitas generasi muda Indonesia yang berhasil menunjukkan kepedulian sosial lewat teknologi.
“Mereka membuktikan bahwa teknologi yang digerakkan oleh empati bisa menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat,” ujar Bagus Erlangga.
Tahun ini, Samsung bekerja sama dengan International Olympic Committee (IOC). Dua tim dari kategori pendidikan tinggi yaitu Labmino (UI) dan KYGB (Binus), akan mewakili Indonesia di kompetisi tingkat Asia Tenggara dan Oseania (SEAO). Tim terbaik dari kawasan tersebut akan berpeluang menjadi SFT Global Ambassador di Olimpiade Musim Dingin 2026.
Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, menilai ajang ini bukan sekadar lomba, melainkan gerakan yang menumbuhkan kesadaran kemanusiaan di balik kemajuan teknologi.
“Kompetisi ini melahirkan pemenang, tapi yang lebih penting, melahirkan perubahan yang menginspirasi,” tegasnya.
Sementara itu, Gugun Gumilar, Ph.D., Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kerukunan dan Kerja Sama Luar Negeri, menilai program SFT sejalan dengan nilai pendidikan madrasah yang menumbuhkan empati dan kolaborasi.
“Samsung memberikan ruang bagi generasi muda untuk menyalurkan ide dan kepedulian sosial melalui teknologi,” ujarnya.
Baca Juga: Warga Desa Sugihwaras Polewali Mandar Ditikam OTK, Uang Rp500 Ribu Dibawa Kabur, Begini Kronologinya
Perwakilan tim Labmino, Anthony Edbert Feriyanto, mengatakan bahwa ajang ini bukan sekadar kompetisi, melainkan gerakan nyata untuk membawa perubahan.
“Kami ingin karya kami menjadi bagian dari perubahan dari Indonesia untuk dunia,” katanya.
Sementara Talita Almira Salsabila dari tim Fungaes menambahkan, pengalaman mengikuti SFT menjadi kesempatan besar untuk belajar teknologi seperti machine learning dan IoT.
“Dukungan materi dan mentoring dari Samsung dan Skilvul sangat membantu kami berkembang,” ujarnya.
***




