POJOKSULSEL, MAKASSAR - Universitas Muslim Indonesia (UMI) mulai mendorong pemerataan mahasiswa internasional di seluruh program studi. Targetnya, setiap prodi di kampus tersebut nantinya memiliki mahasiswa dari luar negeri.

Langkah itu berjalan beriringan dengan penguatan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang disiapkan untuk membantu mahasiswa internasional beradaptasi dengan kehidupan akademik dan sosial di UMI.

Target tersebut disampaikan Wakil Rektor V UMI Bidang Kerja Sama dan Promosi, Ir. Hj. Setyawati Yani, S.T., M.T., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., saat Kick-Off Program BIPA Tahun Akademik 2026/2027 bagi mahasiswa internasional yang digelar Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) UMI.

Setyawati mengatakan, UMI tidak menetapkan kuota khusus untuk mahasiswa internasional. Namun, universitas terus membuka peluang agar mahasiswa asing tidak hanya terkonsentrasi pada program studi tertentu.

“Target yang kami inginkan adalah setiap program studi memiliki mahasiswa internasional,” kata Setyawati.

Baca Juga: Sekprov Sulsel Jufri Rahman Dorong ASN Parepare Kreatif di Tengah Keterbatasan Anggaran

Menurut dia, keberadaan mahasiswa asing di berbagai prodi bukan sekadar menambah jumlah mahasiswa internasional. Interaksi tersebut diharapkan membuka ruang kolaborasi dan networking antara mahasiswa UMI dengan komunitas internasional.

“Ini menjadi bagian dari upaya mempersiapkan mahasiswa agar mampu berkompetisi secara global,” ujarnya.

Pada Tahun Akademik 2026/2027, UMI menerima mahasiswa internasional melalui sejumlah jalur. Di antaranya Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB), beasiswa internal UMI, serta jalur mandiri.

Dua mahasiswa dari Nigeria dan Sudan tercatat menerima Beasiswa KNB. Sementara penerima beasiswa penuh UMI melalui Beasiswa Hafiz dan Afirmasi Internasional berasal dari Palestina dan Sudan.

Selain itu, terdapat lebih dari 10 mahasiswa internasional yang masuk melalui jalur mandiri.

Baca Juga: Kajati Sulsel Muhammad Syarifuddin Setujui RJ Kasus Penganiayaan di Pangkep, Ini Pertimbangannya

BIPA Jadi Pintu Masuk Adaptasi

Bertambahnya mahasiswa dari berbagai negara membuat kemampuan berbahasa Indonesia menjadi salah satu kebutuhan penting dalam proses adaptasi mereka.

Karena itu, FSIKP UMI kembali menjalankan Program BIPA. Tahun ini, sekitar 30 mahasiswa internasional mengikuti program tersebut, termasuk mahasiswa dari angkatan sebelumnya.

Mereka berasal dari sejumlah negara, seperti Yaman, Sudan, Nigeria, Timor Leste, dan Palestina.

Dekan FSIKP UMI Dr. Hj. Nurjannah Abna, S.S., M.Pd., mengatakan pembelajaran BIPA diarahkan agar mahasiswa asing dapat menggunakan Bahasa Indonesia dalam aktivitas akademik maupun kehidupan sehari-hari.

“Kami mengupayakan dalam waktu sekitar empat bulan mereka sudah mampu berbahasa Indonesia dengan baik,” katanya.

Mahasiswa internasional dari angkatan sebelumnya juga diberi kesempatan mengikuti BIPA untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia.

Baca Juga: 200 Pelajar Makassar Siap Adu Panahan Tradisional di Forkot 2026, Catat Tanggalnya!

Program tersebut dilaksanakan melalui sinergi FSIKP dengan Kantor Urusan Internasional (KUI) UMI serta jajaran pimpinan fakultas.

Nurjannah menilai BIPA memiliki fungsi yang lebih luas dibanding pembelajaran bahasa. Program ini menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan kampus yang mampu mempertemukan mahasiswa dari berbagai latar belakang negara dan budaya.

“Kick-Off BIPA ini bukan sekadar membuka proses pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing, tetapi menunjukkan bagaimana UMI membangun proses pendidikan yang adaptif, inklusif, dan berwawasan internasional,” ujarnya.

Mahasiswa Asing Bakal Unjuk Kemampuan di Festival Handai

FSIKP UMI juga menyiapkan Festival Handai sebagai wadah bagi mahasiswa internasional untuk mempraktikkan kemampuan Bahasa Indonesia di luar ruang kelas.

Baca Juga: BAZNAS RI Sambut Gagasan Appi, Dorong Model Filantropi Berbasis Kelurahan di Kota Makassar

Festival tersebut direncanakan menggandeng Balai Bahasa dan diisi berbagai aktivitas serta kompetisi berbahasa Indonesia, salah satunya membaca puisi.

“Festival Handai akan menjadi ruang bagi mahasiswa internasional untuk menguji sekaligus melatih kemahiran berbahasa Indonesia melalui berbagai kompetisi,” kata Nurjannah. ***