POJOKSULSEL, MAKASSAR - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan pencapaian biodiesel B50 pada tahun 2026.

Target Mentan Andi Amran Sulaiman terkiatu biodiesel B50 sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor solar.

Menurut Andi Amran Sulaiman, kebijakan biodiesel B50 memungkinkan Indonesia tidak lagi mengimpor solar hingga 5,3 juta ton. Pasokan tersebut akan dialihkan dari Crude Palm Oil (CPO) domestik untuk kebutuhan biofuel.

"Nah, sekarang biofuel B50. B50 itu tahun ini tidak impor solar, solar dalam bentuk solar tahun ini. Itu 5,3 juta ton dari CPO kita jadikan biofuel, itu perintah Bapak Presiden," ujar Mentan Andi Amran Sulaiman di Makassar, Minggu (5/4/2026).

Ia menegaskan, program biodiesel B50 merupakan bagian dari kebijakan pemerintah dalam memperkuat kemandirian energi nasional di tengah tantangan global yang semakin kompleks.

Baca Juga: Spirit Jogja Harus Lahir Kembali, IKAJO Sulsel Formulasikan Kekuatan Alumni Tak Sekadar Temu Kangen

Untuk memastikan program berjalan optimal, Amran mengungkapkan pihaknya terus berkolaborasi dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.

“Kita kerja sama dengan Menteri ESDM, Pak Bahlil, kita kolaborasi dengan semua pihak,” katanya.

Menurutnya, sinergi lintas kementerian menjadi kunci utama dalam percepatan implementasi biodiesel B50 di Indonesia.

Selain biodiesel, pemerintah juga tengah menyiapkan pengembangan bioenergi lain berupa etanol. Amran menyebutkan bahan bakunya berasal dari komoditas lokal seperti singkong, ubi, dan tebu.

“Ke depan etanol dari singkong, dari ubi, kemudian dari tebu. Negara ini kaya sumber daya,” jelasnya.

Baca Juga: Wali Kota Parepare Apresiasi Peran IKA FKG Unhas, Tekankan Pentingnya Komunikasi dan Sinergi

Langkah tersebut dinilai sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat kemandirian energi nasional berbasis sumber daya dalam negeri.

Amran optimistis Indonesia memiliki keunggulan dalam menghadapi krisis global, terutama di sektor pangan, energi, dan air.

“Yang krisis di dunia adalah pangan, energi, dan air. Tiga-tiganya ada di Indonesia. Kalau ini kita gerakkan semua, Insyaallah Indonesia bisa menjadi negara superpower,” pungkasnya. ***