POJOKSULSEL, MAKASSAR - Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali mengukuhkan empat dosen sebagai guru besar dalam Upacara Penerimaan Jabatan Profesor pada Rapat Paripurna Senat Akademik Terbatas di Ruang Senat Akademik Unhas, Gedung Rektorat Kampus Tamalanrea, Makassar, Jumat (17/7/2026).
Keempat pengajar Unhas yang dikukuhkan sebagai guru besar yakni Prof. Drs. Darwis, M.A., Ph.D., Prof. Dr. Muhammad Yunus, M.A., Prof. Dr. Mohamad Tahir Haning, M.Si., dan Prof. Drs. Kaharuddin, M.Hum., Ph.D.
Masing-masing guru besar baru Unhas itu membawa kajian strategis yang dinilai relevan dengan tantangan pembangunan, mulai dari dinamika geopolitik global, reformasi birokrasi, tata kelola pemerintahan, hingga pelestarian bahasa daerah.
Baca Juga: FAH UIN Alauddin Makassar Tambah Tiga Lektor Kepala, Ini Jejak Keilmuan Para Dosen Muda
1. Prof. Drs. Darwis, M.A., Ph.D. – Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia
Prof. Darwis dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
Dalam pidato ilmiahnya berjudul "Rekalibrasi Politik Luar Negeri Indonesia di ASEAN dalam Dinamika Geopolitik dan Geostrategis Indo-Pasifik", ia mengulas perubahan strategi diplomasi Indonesia di tengah persaingan global, khususnya rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok.
Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat kebijakan luar negeri yang adaptif untuk menjaga stabilitas kawasan serta mempertahankan posisi strategis di ASEAN.
Baca Juga: Data Korban KM Nurul Salsa yang Tenggelam di Selayar Berubah, 25 Orang Belum Ditemukan
2.Prof. Dr. Muhammad Yunus, M.A. – Manajemen Publik
Prof. Muhammad Yunus dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Manajemen Publik FISIP Unhas.
Ia mengangkat tema "Restrukturisasi Organisasi: Mewujudkan Birokrasi Publik yang Adaptif" dengan fokus pada kebutuhan organisasi pemerintahan untuk bertransformasi menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan sosial.
Menurutnya, restrukturisasi birokrasi bukan hanya soal perampingan struktur, tetapi juga mencakup penguatan sumber daya manusia, digitalisasi, desentralisasi kewenangan, dan kolaborasi.
3. Prof. Dr. Mohamad Tahir Haning, M.Si. – Administrasi Pembangunan
Prof. Tahir Haning resmi menyandang jabatan Guru Besar Bidang Administrasi Pembangunan FISIP Unhas.
Dalam pidatonya berjudul "Membangun Kepercayaan Publik terhadap Kebijakan Pemerintah melalui Reformasi Birokrasi di Indonesia", ia menyoroti pentingnya kepercayaan masyarakat sebagai fondasi keberhasilan pembangunan.
Ia menjelaskan, reformasi birokrasi harus diarahkan untuk menciptakan pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan mampu memberikan pelayanan yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
4. Prof. Drs. Kaharuddin, M.Hum., Ph.D. – Fonologi
Sementara Prof. Kaharuddin dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Fonologi Fakultas Ilmu Budaya Unhas.
Baca Juga: Idrus Marham Bongkar Misi Besar IKA PTKIN, Siap Jadi Mitra Strategis Pemerintah
Melalui pidato ilmiah berjudul "Korespondensi Fonem dalam Bahasa Bugis–Makassar", ia memaparkan hasil penelitian mengenai hubungan perubahan bunyi dalam dua bahasa daerah tersebut.
Kajian ini tidak hanya memperkaya ilmu linguistik, tetapi juga berkontribusi dalam upaya dokumentasi dan pelestarian bahasa daerah sebagai warisan budaya Indonesia.
Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., mengatakan keberadaan guru besar memiliki peran penting dalam memperkuat riset dan inovasi perguruan tinggi.
Baca Juga: Update Jumlah Guru Besar UIN Alauddin Makassar Hingga Juli 2026
Menurutnya, profesor harus menjadi penggerak lahirnya penelitian yang tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
"Universitas Hasanuddin harus terus menjadi pilar yang melahirkan inovasi, memperkuat ekonomi, dan berkontribusi dalam dinamika geopolitik melalui riset dan science diplomacy," ujar Prof. Jamaluddin.
***




