POJOKSULSEL, MAKASSAR - Ruang kepemimpinan Kantor Urusan Agama (KUA) di Sulawesi Selatan kembali diisi seorang perempuan. Kali ini, Nurfadhilah Haris dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala KUA.

Pelantikan Nurfadhilah Haris menambah daftar perempuan yang dipercaya memimpin Kantor Urusan Agama di Sulawesi Selatan, sekaligus menjadi bagian dari perubahan wajah pelayanan keagamaan di KUA.

Nurfadhilah Haris menjadi perempuan ketiga di Sulawesi Selatan yang menduduki jabatan Kepala Kantor Urusan Agama. Ia diangkat sebagau Kepala KUA Sanggalangi, Toraja Utara.

Sebelumnya, Kementerian Agama telah mengangkat dua perempuan di lingkup Kanwil Kemenag Sulsel sebagai Kepala KUA.

Rapika dan Pitriani. Keduanya bertugas di Kabupaten Luwu dan mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang dipercaya menduduki posisi tersebut di Sulsel.

Baca Juga: Ada Siswa Spanyol Belajar Setahun di MAN 1 Makassar, Ternyata Ini Tujuannya

Bagi Nurfadhilah, jabatan baru itu bukan sekadar soal posisi. Ada pengalaman panjang di belakangnya yang menjadi bekal untuk menjalankan amanah.

Selama tujuh tahun, ia mengabdikan diri di Kantor Kemenag Toraja Utara. Perjalanannya dimulai sejak 2019, ketika bertugas di KUA Rantebua, kemudian berlanjut di KUA Kecamatan Sanggalangi.

Di tempat itulah Nurfadhilah bersentuhan langsung dengan masyarakat. Ia tidak hanya berhadapan dengan urusan administrasi pelayanan, tetapi juga berhadapan dengan beragam karakter, kebutuhan, dan dinamika kehidupan masyarakat.

Pengalaman itu pula yang membuatnya berani menerima kepercayaan baru.

"Kalau diberi amanah, berarti ada kepercayaan. Kita harus berani menjalankannya. Kepala kantor juga memberikan motivasi dan meyakinkan bahwa saya bisa," kata Nurfadhilah.

Baca Juga: Eks Anggota Paskibraka Nasional 2023 Asal Sulsel-Sulbar Lolos Akmil dan Akpol, Ini Orangnya

Bagi dia, kepercayaan tidak cukup dibalas dengan rasa bangga. Amanah harus diterjemahkan menjadi kerja nyata.

Karena itu, Nurfadhilah memilih melihat jabatan barunya sebagai ruang untuk terus belajar, bukan tanda bahwa proses belajar telah selesai.

Tujuh Tahun di Toraja Utara Jadi Bekal

Ada satu pengalaman yang paling membekas selama Nurfadhilah bertugas di Toraja Utara. Hidup berdampingan di tengah masyarakat dengan latar belakang keyakinan yang beragam.

Selama tujuh tahun, ia merasakan langsung bagaimana pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan beriringan dengan kehidupan yang harmonis.

Perbedaan keyakinan, menurutnya, bukan penghalang untuk membangun komunikasi dan hubungan yang baik.

“Walaupun kita berbeda keyakinan, alhamdulillah toleransinya tinggi. Selama tujuh tahun di sana, saya merasakan kerukunan itu. Itu menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi saya,” ujarnya.

Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap tugas di Kementerian Agama.

Baca Juga: Kementerian Agama RI Sorot Perubahan MAN 3 Makassar, Tanaman Hidup Jadi Perhatian Khusus

Baginya, bekerja di Kemenag bukan semata soal menyelesaikan urusan administrasi. Ada tanggung jawab yang lebih besar, yakni hadir di tengah masyarakat, memahami perbedaan, dan memberikan pelayanan dengan pendekatan yang manusiawi.

Nilai itu yang ingin dibawa Nurfadhilah ke tempat tugas barunya.

Ia sadar, memimpin KUA bukan pekerjaan yang bisa dilakukan seorang diri. Kepemimpinan membutuhkan kemauan mendengar, kesediaan belajar dari orang lain, dan kemampuan membangun kerja bersama.

“Menurut saya, kita tidak harus langsung tahu semuanya. Kita belajar sambil berjalan, belajar dari yang sudah berpengalaman, kemudian memperbaiki apa yang sudah ada dan menambahkan hal-hal yang bisa membuatnya lebih baik,” tuturnya.

Sikap tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Nurfadhilah sebagai perempuan yang kini dipercaya menempati ruang kepemimpinan.

Baca Juga: Pulihkan Lahan Kritis di Kolaka, Jaelani Bagikan Ratusan Bibit Produktif Gratis

Baginya, kesempatan memimpin bukan tentang membuktikan bahwa perempuan harus bekerja sendiri atau mengetahui segala hal. Justru, kepemimpinan tumbuh dari keberanian mengambil tanggung jawab, kesediaan belajar, serta kemampuan untuk mengajak orang lain bergerak bersama.

Di titik inilah perjalanan Nurfadhilah menjadi lebih dari sekadar cerita tentang pergantian jabatan. Ia menjadi gambaran tentang bagaimana pengalaman pengabdian dapat membuka ruang bagi perempuan untuk mengambil peran yang lebih besar dalam pelayanan publik.

Tujuh tahun di Toraja Utara telah memberinya pengalaman tentang masyarakat, keberagaman, toleransi, dan kerja bersama. Kini, seluruh pengalaman itu menjadi bagian dari bekal untuk menjalankan amanah sebagai Kepala KUA.

Pelantikan tersebut juga membawa perasaan yang beragam. Ada kebahagiaan karena mendapat kepercayaan, sekaligus rasa haru karena harus meninggalkan lingkungan yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup dan pengabdiannya selama bertahun-tahun.

Namun, bagi Nurfadhilah, setiap amanah memiliki waktunya untuk dijalani dan setiap perjalanan pengabdian memiliki waktunya untuk berkembang. Ia melangkah bukan dengan keyakinan bahwa dirinya telah mengetahui seluruh jawaban, melainkan dengan kesiapan untuk terus mencari, belajar, dan memperbaiki. ***