POJOKSULSEL, GOWA - Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Hamdan Juhannis kembali menyampaikan perenungan pada acara pengukuhan guru besar tetap UIN Alauddin Makassar di Auditorium Kampus II, Jalan HM Yasin Limpo, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Rabu (26/8/2026).

Tiga guru besar tetap UIN Alauddin Makassar yang dikukuhkan Prof Hamdan Juhannis, yaitu Prof Andi Susilawaty, Prof Muhammad Sabir Maidin, dan Prof Rahmawati.

Pada acara pengukuhan besar UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis mengawali perenungan tentang kehidupan yang ia ibaratkan seperti sebuah buku catatan.

Menurut Prof Hamdan Juhannis, kehidupan memiliki tiga lembar utama. Lembar pertama adalah kelahiran yang telah ditentukan dan dicatat Tuhan.

Baca Juga: Sulsel 100 Persen Terapkan Manajemen Talenta, Tasming Hamid Ikuti Ekspose Tahap II

“Lembar pertama tentang kelahiran. Tuhan sudah menulis semua tentang kelahiran,” kata Prof Hamdan.

Sementara lembar kedua dibiarkan kosong. Menurut dia, lembar tersebut menjadi ruang bagi manusia untuk menuliskan sendiri perjalanan kehidupannya.

“Tuhan membiarkan lembar kedua itu kosong supaya kita bisa mencatatnya sendiri,” ujarnya.

Baca Juga: Wali Kota Tasming Hamid Pantau Pengerukan Sungai di Lapadang Pero, Target Kurangi Risiko Banjir

Karena itu, Prof Hamdan Juhannis mengingatkan agar lembar kehidupan tersebut diisi dengan sesuatu yang memiliki dampak dan nilai.

“Catatlah dengan hal-hal dalam hidup kita ini yang berdampak, yang bermakna, yang bernilai,” tuturnya.

Sedangkan lembar ketiga, kata dia, merupakan kematian yang juga telah menjadi ketetapan Tuhan.

Baca Juga: Wali Kota Tasming Hamid Pantau Pengerukan Sungai di Lapadang Pero, Target Kurangi Risiko Banjir

“Lembar ketiga adalah kematian, juga sudah dicatat secara lengkap oleh Tuhan Sang Pencipta,” katanya.

Selain analogi buku kehidupan, Prof Hamdan Juhannis juga menyampaikan perenungan melalui istilah kaleng kehidupan.

Ia mengajak setiap orang mengisi kaleng kehidupan dengan sesuatu yang bernilai. Menurutnya, seseorang tidak perlu selalu menunjukkan pencapaian dengan cara berlebihan.

“Isi kaleng dengan sesuatu yang bernilai. Tidak perlu mengisinya dengan cara show-off, suara keras, mendengung, ribut, penuh bunyi-bunyian. Tidak perlu,” ujar Prof Hamdan.

Ia menilai kehidupan tidak harus dijalani dengan banyak suara untuk menunjukkan keberadaan atau nilai seseorang.

Baca Juga: Relawan Universitas Muslim Indonesia Datang ke Pengungsian Gempa Manggarai, Puluhan Warga Diperiksa

“Kita memaknai hidup ini tanpa kita harus bersuara keras,” tegasnya. ***