POJOKSULSEL, MAKASSAR - Kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang kian memprihatinkan. Terjadi ketidakseimbangan alam yang membuat DAS Jeneberang tidak stabil.

Kondisi inilah yang menggerakkan hati Dr Ir H Baharuddin Burhan tergerak. Sebagai pemerhati lingkungan, Doktor Bahar, begitu sapaan akrab Dr Baharuddin Burhan, untuk berbuat.

Doktor Bahar mengatakan, saat hujan, air berlimpah memenuhi aliran Sungai Jeneberang. Penyebabnya adalah karena penyimpanan air di DAS Jeneneberang semakin berkurang.

Baca Juga: Warga Bajeng Gowa Beri Gelar Daeng Makkulle ke Danny Pomanto, Ini Makna Filosofisnya

Penahan dan penyimpan air di daerah hulu Sungai Jeneberang, kata Doktor Bahar, semaki berkurang. Akibat limpasan air, yang langsung lepas tentunya membahayakan ekosistem lain. Sedimen dan material terbawa limpasan air bah Jeneberang.

Tentunya ini sangat membahayakan. Termasuk akan menyebabkan banjir. Manusia dan lingkungan akan terganggu.

Sementara itu, papar Doktor Bahar, kondisi sebaliknya terjadi saat kemarau debit sangat jauh berkurang. Lagi lagi penyebabnya karena penyimpanan air di hulu dan sepanjang DAS Jeneberang berkurang.

Baca Juga: Lengkap Susunan Pengurus MUI Polman Masa Khidmat 2024-2029

"Kita harus melakukan sesuatu untuk melakukan langkah penyelamatan," kata Doktor Bahar.

Saat bertemu dengan Doktor Bahar di salah satu kafe di kawasan Citraland, Kabupaten Gowa, Doktor Bahar memperlihatkan foto saat melakukan penelitian di Jeneberang.

Musim kemarau, debit air jauh sangat berkurang. Hanya terlihat aliran air kecil di tengah sungai dengan hamparan material dan dua sisi sungai yang sangat lebar dalam kondisi kering.

Baca Juga: Andalan Hati Tak Datang, Danny Pomanto: Pemberantasan Korupsi Memang Seperti Menghadapi Badai

Rencananya, Doktor Bahar bersama dengan beberapa komunitas pencinta alam, seperti Korps Pencinta Alam (Korpala) Unhas, penggiat lingkungan hidup, masyarakat petani dan kelompok tani hutan, akhir pekan ini akan membuat biopori.

"Rencana awal besok kita akan bikin 100 titik di hulu Sungai Jeneberang. Di kaki Gunung Bawakaraeng," kata Doktor Bahar.

Doktor Bahar menargetkan akan membuat biopori mencapai ribuan yang akan memanjang dari hulu hingga hilir DAS Jeneberang.

Doktor Bahar yang berlatar belakang pencinta alam dan pendidikan lingkungan hidup mengatakan, biopori sangat membantu sebagai penyimpanan air. Sehingga saat musim hujan air tidak langsung lepas ke Sungai Jeneberang dan akhirnya lepas ke laut.

"Kita juga akan mengedukasi masyarakat di sekitar DAS Jeneberang untuk membuat biopori di kebun kebun mereka sebagai penyimpanan air," kata Doktor Bahar.

Baca Juga: Ketulusan Etika Moral Seorang Azhar Arsyad. Usai Disindir RMS, DIA Malah Tak Dendam

Selain itu, kata Doktor Bahar, pembuatan biopori akan sejalan dengan penghijauan atau penanaman pohon di Bawakaraeng. Setiap pohon, akan punya biopori di bawahnya.

Doktor Bahar mengatakan, manfaat biopori diantaranya, meningkatkan penyerapan air, mengurangi erosi tanah, dan meningkatkan kualitas tanah.

"Biopori juga berguna untuk dapat dijadikan tempat pengolahan sampah organik, menambah ketersediaan oksigen dalam tanah, dan mengurangi risiko banjir. Utamanya di lingkungan perkotaan," kata Doktor Bahar.

Baca Juga: Karaeng Sioja Kerajaan Marusu Panggil Danny Pomanto Sebagai Anak

Doktor Bahar mengatakan, dirinya sudah melengkapi semua peralatan pembuatan biopori, seperti bor mesin, bor tagan, cangkul, pipa paralon, dan lainnya.

"Target besok kita bikin 100 titik biopori. Jangka panjang ribuan akan kita bikin bersama masyarakat dan penggiat lingkungan di sepanjang Jeneberang," kata Doktor Bahar.(***)