POJOKSULSEL, MAKASSAR - Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis memberikan komentar ringan terhadap pidato tiga guru besar, yang dikukuhkan di Gedung Auditorium Kampus II, Kabupaten Gowa, Senin (9/2/2026).

Hamdan Juhannis pertama merespons pidato Prof Andi Achruh terkait pendidikan Islam di persimpangan zaman.

Menurut Hamdan Juhannis, pendidikan Islam justru sangat fasih melakukan proses adaptasi antara tradisi dan modernisasi.

"Transformasi PTKIN di bawah Anregurutta sangat luar biasa. UIN, MAN Insan Cendekia MAN unggulan referensi, sekolah Islam terpadu, semua bergerak," ungkap Prof Hamdan Juhannis.

Rektor UIN Alauddin Makassar juga menyorot pidato Prof. Indo Santalia terkait dialektika agama dan budaya perspektif Antropolog dan Islamolog.

Baca Juga: Pisah Sambut Kepala Kantor Kemenag Bulukumba, Abdul Rafik Kenalkan Tiga Prinsip Kepemimpinan

Pada kesempatan itu, ia mengajak para guru besar supaya lebih aktif menjelaskan istilah-istilah menjadi bahasa yang mudah dipahami masyarakat.

"Untuk menjadi guru besar yang membumi, istilah-stilah harus dipaparkan di kalangan akar rumput," katanya.

Ia juga menyampaikan ketertarikannya untuk membahas relasi antara dialegtika pola keberagamaan dengan tradisi budaya pop generasi Z.

Pada kesempatan itu, Hamdan Juhannis juga merespons pidato Prof. Abdul Rauf Muhammad Amin. Ia memberikan perhatian pada pengembangan kajian usul fikih yang tidak perlu lagi mengembangkan istilah Arab.

Setelah merespons pidato tiga guru besar, Rektor UIN Alauddin lalu menyampaikan pesan-pesan perenungan.

Baca Juga: Bupati Zadrak Tombeg Lantik 57 Pejabat Pemkab Tana Toraja Termasuk 10 Eselon II, Ini Daftarnya

Kali ini, Hamdan Juhannis menyampaikan pesan-pesan perenungan dari pola hidup burung albatros. Ia mengatakan, burung albatros menggunakan hidupanya lebih banyak terbang daripada hinggap.

"Menggunakan setengah otaknya untuk tidur dan setengahnya dipakai untuk bekerja," katanya.

Ia mengatakan, pola hidup burung albatros mengajarkan tentang waspada, hati-hati, tidak lalai dalam hidup.

"Secara sederhana guru besar sebagai guru kebijaksanaan sudah sepatutnya kita menjadi profesor albatros," katanya.

Ia mengajak kepada para guru besar untuk tidak tidur pulas. Namun tetap menjaga setengah kesadaran agar tidak tertinggal pada perkembangan zaman. ***