POJOKSULSEL, MAKASSAR - Teater Kampus Universitas Hasanuddin (TKU) kembali menggelar kegiatan rutin tahunan bertajuk Harmonisasi Alam Prosesi Penerimaan Calon Anggota (PPCA) 2025.
Kegiatan TKU Unhas berlangsung selama tiga hari, mulai 30 Mei hingga 1 Juni 2025 di Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Peserta dari berbagai fakultas di Universitas Hasanuddin (Unhas) mengikuti prosesi ini. Tidak hanya berkemah, para calon anggota juga menjalani berbagai pelatihan dasar seni peran, mulai dari olah tubuh, napas, vokal, hingga rasa.
Baca Juga: Lebaran Kurban: Proklamasi Kemanusiaan
Mengusung konsep berkemah di alam terbuka, Harmonisasi Alam menjadi momen berharga bagi 58 dari 68 peserta yang lolos tahap workshop untuk saling mengenal dan mempererat hubungan.
Kegiatan diisi pula dengan outbound untuk membangun kekompakan antarpeserta. Prosesi berlangsung penuh antusias, apalagi hujan turun saat malam puncak, menambah keseruan suasana.
Sebanyak enam kelompok pementasan tampil menunjukkan kreativitas mereka melalui berbagai tema menarik, di antaranya “Sorai” (Kelompok 1), “Runyam Nan Ruam” (Kelompok 2), “Surat dari Alam” (Kelompok 3), “Primata” (Kelompok 4), “Tanah Tanpa Hujan” (Kelompok 5), dan “Kopi Susu Kakek” (Kelompok 6).
Baca Juga: Unsulbar Buka Pendaftaran Jalur Mandiri Prodi Kedokteran, Simak Besaran UKT dan Biaya IPI
Selain pertunjukan teater, kegiatan ini juga diramaikan dengan tarian yang memukau, seperti Tari Gang Rambulo yang dibawakan TKU Junior Putra dan Tari Pancasila oleh TKU Junior Putri. TKU Junior sendiri merupakan sebutan bagi anak-anak dari para senior Teater Kampus Unhas yang telah berkeluarga.
Tak ketinggalan, penampilan puisi tunggal dari Adinda Ale’ (TKU Junior Putra) serta beberapa puisi bertema PPCA dan UKM Teater berjudul “Nyatakan Hadirmu” yang dibawakan warga TKU ikut menyemarakkan suasana. Rangkaian acara pun semakin meriah dengan berbagai pementasan tambahan dari panitia, pengurus, dan anggota TKU lainnya.
Ketua Panitia PPCA 2025, Meilani Nas, berharap semangat kebersamaan yang terjalin selama kegiatan ini bisa terus terjaga.
"Harapannya, semangat kekeluargaan dan kebersamaan yang terjalin selama kegiatan ini dapat terus terjaga hingga ke depannya. Tetap jaga lingkaran," ujarnya.
Ia menambahkan, setelah ini, para calon anggota TKU akan menggarap pertunjukan yang akan dipentaskan dalam produksi karya selanjutnya.
Peserta Fatimah Az Zahra Atsil, dari kelompok yang menampilkan tema Primata yang berperan sebagai narator menjelaskan, bahwa naskah yang ditulis dan disutradarai oleh Arya Muzaqi Tamam terinspirasi dari kisah Lutung.
Cerita komedi berjudul “Primata” dimana menceritakan tentang pencarian penerus tahta oleh raja dan ratu Kerajaan Uhuk yang memiliki dua orang anak dan memberi syarat bahwa siapapun yg menikah duluan , pasangan mereka akan meneruskan tahta tersebut.
Sofia sang kakak dengan watak baik hati tidak setuju dan ragu akan keputusan Sang Ayah karna merasa terlalu dini bagi mereka. Namun berbeda dengan Amber, sang adik yang sombong yang merasa sudah sangat siap untuk hal ini.
Baca Juga: Wali Kota Parepare Tasming Hamid: Pancasila Adalah Pemersatu Bangsa
"Lalu mereka pun memulai pencariannya dan mereka berdua bersaing untuk membuktikan siapa yang sebenarnya pantas untuk mendapatkan cinta dan tahta itu," Sebut mahasiwi Pendidikan Kedokteran Umum ini.
Zahra menjelaskan, bahwa perempuan dijadikan komoditas politik. "Dalam naskah Putri dijadikan alat untuk memilih siapa yang layak naik tahta," jelasnya.
Ini juga mengangkat isu patriarki dan politik tubuh perempuan, di mana peran perempuan dibungkus dalam narasi cinta, tapi sebenarnya dijadikan alat legitimasi untuk kekuasaan laki-laki.
Baca Juga: Sulbar Tertinggi Nasional, Gorontalo dan Sulsel Masuk 5 Besar Pengesahan Kopdes Merah Putih
Salah satu pengandegangan cerita ini, saat penampilan sang penjaga yang mengawal raja memakai headlamp merah menyala berkedip-kedip yang menyuratkan penyalahgunaan kekuasaan oleh pemerintah.
"Penyalahgunaan yang biasa menggunakan fasilitas oleh aparat negara untuk kepentingan pribadi sama seperti jalan yang dipaksa terbuka untuk (rombongan pejabat) pemerintah," ucapnya.
Mahasiswa lainnya, Afrizal, mengaku pengalaman ini menjadi yang pertama sekaligus berkesan baginya.
Baca Juga: UIN Alauddin Makassar Peringati Hari Lahir Pancasila, Soroti Tantangan Ideologi di Era Global
"Bagi saya pribadi, ini pertama kali saya masuk dunia teater. Di sini saya belajar banyak sekali tentang teater yang sangat bermanfaat untuk saya pribadi," ungkap mahasiwa jurusan Pariwisata ini.
"Salah satu kegiatan yang paling seru, bermain lumpur saat hujan, Hal yang paling berkesan sekali, terasa seperti saudara tanpa ada batasan, tertawa bersama yang membuat semua makin dekat. Semoga bisa bersama terus sampai produksi karya selanjutnya. Saya sangat bergembira," pungkasnya.
Sebagai UKM, Teater Kampus Unhas konsisten menjaga tradisi regenerasi anggotanya melalui PPCA. Kegiatan ini menjadi ruang belajar seni sekaligus mempererat solidaritas mahasiswa lintas fakultas di Universitas Hasanuddin. ***
Teater Kampus Universitas Hasanuddin TKU gelar PPCA 2025 di Hutan Pendidikan Unhas, Maros, pada 30 Mei–1 Juni. Bertajuk Harmonisasi Alam, kegiatan ini menggabungkan pelatihan teater, berkemah, dan pementasan seni.




