POJOKSULSEL, MAKASSAR - Tim peneliti dari Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) sukses menyelesaikan pembuatan pabrik briket ramah lingkungan. Proyek ini secara resmi diserahkan kepada PT Mahakam Celebes Energi dalam seremoni yang digelar di Kampus 2 PNUP, Jl. Moncongloe, Kecamatan Moncongloe, Maros, Jumat (10/10/2025).
Proyek pabrik briket oleh tim PNUP merupakan bagian dari program bertajuk Inovasi Teknologi Tepat Guna dalam Pemanfaatan Limbah Pertanian dan Perkebunan menjadi Biochar dan Briket Arang Ramah Lingkungan untuk Peningkatan Ekonomi Masyarakat Sulawesi Selatan. Dananya bersumber dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Kementerian Keuangan RI.
Koordinator Tim riset pengembangan pabrik briket, Baso Nasrullah, mengatakan proyek ini merupakan salah satu dari dua judul riset PNUP yang diterima dalam program kemitraan katalisator. Setelah melalui tahap perancangan dan uji coba, akhirnya mesin briket diserahterimakan kepada pihak pengguna.
"Alhamdulillah hasil uji coba di kampus kami memuaskan pihak PT Mahakam Celebes Energi, sehingga hari ini kami serahkan secara resmi," imbuhnya.
Baca Juga: UMI Resmikan Gelanggang Olahraga di Tanggal Cantik, Diiringi Zikir dan Pembacaan Barzanji
Pabrik briket ini dirancang mampu memproduksi antara 250–300 kg briket per jam. Namun dalam praktiknya, kapasitas ideal berada di angka 150–200 kg per jam untuk menjaga stabilitas operasional. Sehingga praktis bisa 1 ton briket bisa diproduksi per hari.
"Dalam pengujian, mesin ini mampu bekerja nonstop selama 4–5 jam. Tapi di atas itu perlu shutdown sementara karena suhu mesin meningkat," jelas Baso Nasrullah.
Proses produksi dimulai dari penghancuran bahan (crashing) hingga pembentukan briket. Proses yang memakan waktu paling lama adalah pengeringan, yang bisa dilakukan secara konvensional atau dengan bantuan mesin.
Mesin ini juga dirancang agar mudah dirawat. Menurut Baso, komponen utama hanya terdiri dari motor listrik dan gear box, sehingga perawatan lebih banyak pada pelumasan dan pembersihan rutin.
Baca Juga: Kenalkan Sitti Rugayya dan Fitriani, Penyumbang Medali Pertama Sulsel di Pornas Korpri Palembang
"Kami juga menyiapkan buku panduan perawatan untuk memudahkan pihak industri," tambahnya.
Meski hasil akhirnya memuaskan, Baso Nasrullah mengakui proses perancangan dan pembangunan pabrik tidak mudah. Tantangan muncul sejak tahap awal, termasuk keterbatasan waktu karena tim pengajar juga memiliki kewajiban akademik.
"Biasanya kami membuat prototype. Tapi kali ini kami langsung membuat produk final, dan itu jauh lebih menantang. Apalagi waktu kami terbatas," jelasnya.
Untuk menyiasati kendala tersebut, tim PNUP melibatkan siswa magang dari SMK Negeri 2 Parepare dan SMK Negeri 2 Makassar dalam proses produksi.
Perancangan hingga finalisasi alat berlangsung sejak Januari hingga Oktober 2025, atau sekitar 10 bulan. Selama proses berjalan, penyempurnaan terus dilakukan agar alat benar-benar siap digunakan di sektor industri.
"Kalau bicara sempurna 100 persen, tentu belum. Tapi kami tetap berkomitmen memberikan dukungan teknis jika di kemudian hari muncul kendala operasional," pungkas Baso.
Kabar menggembirakan datang dari PT Mahakam Celebes Energi. Produk briket dari pabrik ini rencananya akan diluncurkan secara resmi pada November 2025 dan langsung diekspor ke salah satu negara di Timur Tengah. ***




