POJOKSULSEL, MAKASSAR - Widitra Darwis adalah mahasiswa Unhas yang meraih 2 medali emas pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional ke 37 (Pimnas 2024).
Widitra Darwis dapat medali emas pada kategori presentasi dan poster pada Pimnas 2024.
Karya Widitra Darwis yang menyumbang dua medali emas di Pimnas 2024, yaitu Dissolving Microneedle Patch Terinkorporasi ESAT6-CFP10: Strategi Baru Diagnostik Infeksi Laten Tuberkulosis,”
Baca Juga: Gus Yaqut Sebut Kemenag Tepat Dipimpin Prof Nasaruddin Umar: Tracknya Sudah Benar!
Widitra menjelaskan risetnya yang bertujuan mengembangkan ESAT6-CFP10 (EC) yang terinkorporasi dalam sediaan dissolving microneedle patch (DMNP-EC) untuk meningkatkan akurasi diagnostik infeksi laten tuberkulosis (ILTB) dengan prosedur yang lebih praktis.
Singkatnya, penelitian ini bertujuan untuk merancang formula yang bermanfaat untuk mengindentifikasi penyakit tuberkulosis pada tahapan infeksi laten.
“Alhamdulillah tim kami berhasil meraih dua medali pada poster dan presentasi. Kami mengikuti skema riset eksakta," kata Widitra dalam keterangan tertulis.
Baca Juga: Suhartina Bohari Ungkap 62 Titik Penilaian Piala Adipura Kategori Kota Kecil Kabupaten Maros
Ia menjelaskan, fokus riset penelitian tentang tuberkulosis, utamanya pada tahapan infeksi laten. Ada banyak tahapan dalam penyakit, salah satunya diagnosis.
"Pada TB, ini juga banyak tahapan infeksinya, dan fokus kami infeksi laten, yang mana orang bisa saja sudah terinfeksi, tapi terlihat sehat,” jelas Widiatra.
Keberhasilan Widitra ini tidak lepas dari dorongan dosen pembimbingnya yang juga Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Unhas Prof. dr. Muh. Nasrum Massi, Ph.D, Sp.MK(K).
Baca Juga: Potret Sulaiman Umar, Alumnus Kedokteran UMI Jabat Wamen Kehutanan di Kabinet Merah Putih
“Prestasi ini tidak lepas dari bantuan serta arahan yang diberikan pembimbing kami yang mengarahkan sejak awal Januari lalu, sehingga menghasilkan tulisan yang baik.” Ungkap Widiatra.
Widitra juga menambahkan, selama proses penyusunan penelitian yang dilakukan, tentunya terdapat suka dan duka yang dihadapi.
Namun, dengan kekompakan dan kerja sama tim yang baik serta dukungan dan arahan serta dosen pembimbing yang terus menyemangati. Kesulitan yang dihadapi bisa terselesaikan dengan baik.
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unhas ini mengakui riset ini masih ada kelemahan.
Tes diagnostik standar untuk ILTB, yaitu interferon-gamma release assay (IGRA) ini sulit untuk diterapkan di Indonesia karena prosedurnya yang kompleks, sedangkan tuberculin skin test (TST) sering kali memberikan hasil positif palsu.
Baca Juga: Prabowo Presiden RI ke Delapan: Semoga Membawa Harapan! Sebuah Catatan Kaprodi HTN UIN Alauddin
Riset ini diawali dengan formulasi dan karakterisasi fisik DMNP-EC, dilanjutkan dengan uji in vivo.
Hasil uji in vivo menunjukkan bahwa durasi 2 pekan merupakan waktu yang paling optimal dalam pembuatan model hewan ILTB.
Oleh karena itu, DMNP-EC terbukti memberikan akurasi yang lebih tinggi dengan prosedur yang lebih praktis, sehingga dapat menjadi strategi baru yang efektif untuk diagnostik ILTB.
Baca Juga: Sosok Prof Nasaruddin Umar, Pakar Tafsir Asal Sulsel Jabat Menteri Agama
Selain Widitra Darwis, tim Detec ini terdiri atas: Azzahra Aurelya Shodan Razak (Fakultas Kedokteran), Primadona Putricia Samuel (Fakultas Kedokteran), St. Namirah (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), Vira Yuniarty (Fakultas Farmasi). ***




