POJOKSULSEL, MAKASSAR - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai diantisipasi serius oleh Polda Sulsel,

Kapolda Sulsel Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro mewanti-wanti Karhutla dalam menghadapi puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada Agustus hingga September 2026. Ia minta seluruh jajaran Polda Sulsel tidak menunggu api muncul untuk bertindak.

Penegasan kepada jajaran Polda Sulsel disampaikan Djuhandhani Rahardjo Puro saat memimpin Apel Gelar Pasukan Kesiapan Menghadapi Karhutla di Lapangan Upacara Mapolda Sulsel, Selasa (11/8/2026).

Menurut Djuhandhani Rahardjo Puro, kondisi kemarau yang berpotensi lebih panjang harus dihadapi dengan kesiapsiagaan sejak dini.

Deteksi terhadap titik rawan kebakaran, patroli rutin, hingga kesiapan peralatan pemadaman menjadi langkah yang harus dipastikan sebelum situasi berkembang menjadi bencana.

Baca Juga: Kepala Bapenda Maros Ferdiansyah Raih Tiga Penghargaan, Ada Satyalancana Karya Satya 30 Tahun

"Pencegahan dini, deteksi dini, dan pelaksanaan patroli secara rutin jauh lebih efektif daripada mengandalkan upaya pemadaman setelah kebakaran terjadi,” tegas Djuhandhani Rahardjo Puro.

Kapolda mengatakan, potensi peningkatan risiko Karhutla tidak bisa dipandang sebagai persoalan satu instansi. Kondisi kekeringan membutuhkan respons terpadu antara pemerintah daerah, TNI-Polri, BPBD, instansi teknis, masyarakat hingga pihak swasta.

Terlebih, fenomena El Nino berpotensi memperpanjang periode kering dan meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah Sulsel. Kondisi itu menjadi perhatian karena lahan yang mengering lebih mudah terbakar dan api berpotensi meluas jika tidak segera ditangani.

Berdasarkan prediksi BMKG, karakteristik musim kemarau 2026 di Sulsel tergolong tidak normal. Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September.

Karena itu, Djuhandhani meminta seluruh jajaran memperkuat mitigasi dan patroli terpadu di wilayah yang dinilai rawan. Koordinasi lintas sektoral juga diminta dilakukan secara intensif agar setiap potensi kebakaran dapat ditangani sedini mungkin.

Baca Juga: 4.144 Lembar Rupiah Palsu Dimusnahkan di Sulsel, BI Bongkar Cara Lawan Uang Palsu

“Jangan sampai kita baru bergerak ketika api sudah membesar. Kesiapan personel, sarana dan prasarana harus dipastikan sejak sekarang,” menjadi penekanan dalam kesiapsiagaan menghadapi ancaman Karhutla.

Tak hanya personel, kesiapan peralatan juga menjadi perhatian. Mesin pompa, kendaraan operasional, peralatan pemadaman hingga alat pelindung diri harus dipastikan berada dalam kondisi siap digunakan ketika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Apel tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda Sulsel, Kepala BNNP Sulsel, Wakapolda Sulsel, Kepala Basarnas Sulsel, Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, serta kepala dinas dan instansi terkait di tingkat Provinsi Sulsel dan Kota Makassar.

Djuhandhani menegaskan, sinergi antarlembaga menjadi kunci menghadapi potensi Karhutla. Pemerintah, TNI-Polri, BPBD, masyarakat peduli api, dunia usaha dan masyarakat diminta bergerak dalam satu pola penanganan.

Langkah tersebut dinilai penting bukan hanya untuk mencegah meluasnya kebakaran, tetapi juga menekan dampak Karhutla terhadap lingkungan, kesehatan, aktivitas sosial hingga perekonomian masyarakat. ***