‎

DALAM dunia akademik, tidak jarang kita menyaksikan dinamika yang penuh dengan perdebatan, kritik, bahkan kekecewaan. Namun di balik hiruk-pikuk itu, sering kali ada sosok-sosok yang memilih bekerja dalam diam. Mereka tidak banyak berbicara, tidak banyak memprotes keadaan, tetapi terus bekerja hingga hasilnya berbicara dengan sendirinya.
‎
‎Salah satu sosok yang patut disebut dalam konteks ini adalah Muhammad Majdy Amiruddin. Namanya mungkin tidak selalu muncul dalam berbagai diskusi publik tentang pengembangan institusi. Namun jika menelusuri perkembangan publikasi ilmiah di IAIN Parepare, kontribusinya sulit untuk diabaikan.
‎
‎Di balik capaian Jurnal Banco yang kini terindeks Scopus, terdapat kerja panjang yang dilakukan dengan ketekunan dan kesabaran. Capaian ini bukan sekadar prestasi biasa, karena Banco tercatat sebagai jurnal pertama di IAIN Parepare yang berhasil menembus indeksasi Scopus. Bahkan lebih jauh, jurnal ini juga menjadi jurnal Perbankan Syariah pertama di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang memperoleh pengakuan internasional tersebut.

Baca Juga: Sepekan Tim SAR Sisir 11 Km Sungai Bilareng hingga Bendungan Karalloe, Lansia Belum Ditemukan
‎
‎Menariknya, capaian ini lahir di tengah situasi yang tidak sepenuhnya mudah. Dua bulan lalu, jurnal Banco justru mengalami penurunan peringkat dalam sistem akreditasi nasional, dari Sinta 4 menjadi Sinta 5. Bagi banyak pihak, kondisi ini tentu menimbulkan kekecewaan. Penurunan peringkat sering kali dipersepsikan sebagai kemunduran.
‎
‎Namun peristiwa ini justru memperlihatkan sisi lain dari kerja akademik yang sesungguhnya. Di tengah kekecewaan yang masih terngiang di banyak kalangan, tidak banyak yang mengetahui bahwa pada saat yang sama jurnal tersebut sebenarnya telah disubmit ke Scopus. Proses itu berjalan tanpa banyak pengumuman, tanpa kegaduhan, dan tanpa klaim yang berlebihan.
‎
‎Di sinilah letak pelajaran penting dari kisah ini. Muhammad Majdy Amiruddin tidak memilih merespons keadaan dengan keluhan atau perdebatan. Ia memilih tetap bekerja. Kerja yang tenang, konsisten, dan berorientasi pada kualitas.

Baca Juga: Gubernur Sulsel Fasilitasi Dialog Kepala Daerah dan Tokoh Luwu Raya Bersama Komisi II DPR RI
‎
‎Hasilnya kini mulai terlihat. Pengakuan internasional melalui indeksasi Scopus menjadi bukti bahwa reputasi akademik tidak selalu ditentukan oleh penilaian sesaat. Ia dibangun oleh kerja panjang yang sering kali tidak terlihat oleh publik.
‎
‎Kisah ini memberi pelajaran sederhana namun mendalam: ketika satu jalan tampak tertutup, sering kali ada jalan lain yang justru sedang terbuka. Namun jalan itu hanya bisa ditemukan oleh mereka yang tetap bekerja, bahkan ketika keadaan tidak sepenuhnya berpihak.
‎
‎Dalam dunia akademik yang sering dipenuhi oleh wacana dan perdebatan, sosok seperti Muhammad Majdy Amiruddin mengingatkan kita bahwa kemajuan institusi kadang justru lahir dari kerja-kerja sunyi, kerja yang tidak banyak terdengar, tetapi meninggalkan jejak yang nyata.
‎
‎Penulis: Muhammad Ali Rusdi Bedong