POJOKSULSEL, MAKASSAR - Pakaian berhias manik-manik atau yang kerap disebut busana blink-blink yang dikenakan sebagian jemaah haji asal Bugis dan Makassar saat pulang dari Tanah Suci kembali menjadi perbincangan publik.
Tidak sedikit yang menilai penampilan mencolok tersebut sebagai bentuk pamer kemewahan usai menunaikan ibadah haji. Namun anggapan itu dibantah oleh salah seorang jemaah haji asal Kabupaten Gowa, Hj. Dahliah.
Jemaah haji yang tergabung dalam Kloter 09 Debarkasi UPG Makassar itu menegaskan bahwa penggunaan pakaian berhias swarovski saat kepulangan dari Tanah Suci merupakan bentuk rasa syukur, bukan untuk menunjukkan status atau kekayaan.
“Tidak ada sama sekali rasa sombong dan ingin pamer. Ini bentuk rasa syukur karena sudah kembali dengan selamat,” ujar Hj. Dahliah di Aula Arafah Asrama Haji Sudiang Makassar, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, tradisi mengenakan pakaian indah saat pulang haji sudah lama melekat dalam budaya masyarakat Bugis-Makassar. Busana tersebut menjadi simbol kebahagiaan setelah berhasil menunaikan rukun Islam kelima.
Baca Juga: Bupati Luwu Luncurkan Program Jaga Desa, Perkuat Fordes Matappa sebagai Wadah Aspirasi 21 Desa
“Pulang dengan tampilan pakaian begini bukan berarti pamer. Tidak ada sama sekali maksud riya. Tidak ada itu,” katanya.
Hj. Dahliah mengungkapkan, pakaian yang dikenakannya saat tiba di Makassar bahkan telah dipersiapkan jauh sebelum keberangkatan ke Arab Saudi.
“Pakaiannya memang dibeli di Makassar sebelum berangkat. Memakai pakaian ini semata-mata karena ekspresi rasa syukur saja,” ujarnya.
Perempuan asal Kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa itu juga mengajak masyarakat untuk tidak terburu-buru memberikan penilaian negatif terhadap tradisi yang telah berlangsung turun-temurun tersebut.
“Saya rasa ini kembali ke pribadi masing-masing, tergantung niatnya. Saya bahagia, saya bersyukur, jadi saya pakai,” tuturnya.
Baca Juga: Peminat UMPTKIN di IAIN Kendari Melonjak, Prof Amin Suyitno Titip Pesan Penting ke Rektor
Di Sulawesi Selatan, penyambutan jemaah haji yang kembali dari Tanah Suci dikenal berlangsung meriah. Keluarga dan kerabat biasanya menyiapkan penyambutan khusus sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur atas kepulangan jemaah dalam keadaan sehat.
Kondisi itu membuat sebagian jemaah memilih mengenakan pakaian terbaik saat kembali ke kampung halaman dan bertemu keluarga.
Dalam ajaran Islam, mengenakan pakaian yang indah tidak dilarang selama tidak disertai niat untuk menyombongkan diri atau merendahkan orang lain. Islam juga mengajarkan bahwa Allah menyukai keindahan, namun tetap menekankan pentingnya kesederhanaan dan ketulusan niat.
Karena itu, bagi sebagian masyarakat Bugis-Makassar, tradisi mengenakan pakaian “blink-blink” saat pulang haji lebih dipandang sebagai ekspresi budaya dan rasa syukur atas kesempatan menunaikan ibadah haji, bukan sebagai simbol kemewahan atau ajang pamer. ***




