MAKASSAR, SULSEL.POJOKSATU.ID - Dinamika menjelang Musyawarah Daerah (Musda) XV DPD Realestat Indonesia (REI) Sulawesi Selatan 2026 kembali memanas.
Wakil Ketua DPD REI Sulsel, Rezza Pratama Said, bersama lebih dari 100 perusahaan pengembang anggota DPD REI Sulsel menyatakan sikap tidak menghadiri dan tidak mengikuti pelaksanaan Musda REI Sulsel 2026.
Keputusan tersebut diambil setelah Tim Rezza bersama para pemilik suara pendukung menggelar rapat evaluasi menyikapi perkembangan kesepahaman yang sebelumnya dibangun menjelang Musda.
Hal itu disampaikan Master Campaign Tim Rezza Pratama Said, Mustajab Mudji Djurumiah, dalam konferensi pers di Mercure Hotel, Jalan AP Pettarani, Makassar, Selasa (6/10/2026) malam.
Mustajab mengatakan keputusan tersebut merupakan sikap kolektif setelah pihaknya mengevaluasi perkembangan kesepahaman yang telah dibangun sebelum pelaksanaan Musda.
Menurut dia, proses konsolidasi sebelumnya dilakukan untuk menjaga keutuhan organisasi REI Sulsel.
Salah satunya melalui pertemuan antara Rezza Pratama Said dan Ketua Dewan Kehormatan DPD REI Sulsel, H Andi Idris Manggabarani, pada Kamis (24/9/2026).
Sehari berselang, Jumat (25/9/2026), pertemuan kembali digelar dengan difasilitasi Sekretaris Jenderal DPP REI, Raymond Ardan Arfandy.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Wakil Ketua Umum DPP REI, H M Arief Mone, serta H Badris Salam.
Dalam pertemuan itu, kata Mustajab, dicapai kesepahaman bahwa Rezza Pratama Said tidak melanjutkan proses pendaftaran sebagai calon Ketua DPD REI Sulsel.
Sebagai bagian dari kesepahaman, unsur Tim Rezza disebut akan mendapat ruang strategis dalam kepengurusan DPD REI Sulsel berikutnya. Di antaranya posisi sekretaris serta keterlibatan anggota Tim Rezza dalam struktur kepengurusan.
“Rezza sudah menunaikan seluruh bagiannya dengan tidak mengembalikan formulir pendaftaran serta menyampaikan pernyataan terbuka yang menempatkan persatuan organisasi di atas kepentingan kontestasi,” kata Mustajab.
Menurutnya, kesepahaman itu bahkan dikukuhkan dengan salam komando di hadapan pimpinan DPP REI.
Berpegang pada kesepahaman tersebut, Rezza kemudian tidak mengembalikan formulir pendaftaran sebagai calon Ketua DPD REI Sulsel hingga batas waktu yang telah ditentukan.
Namun, Tim Rezza menilai kesepahaman tersebut tidak berjalan sebagaimana yang telah disepakati.
Mustajab mengungkapkan, pada Sabtu (3/10/2026), H Badris Salam menyampaikan bahwa komitmen yang sebelumnya disepakati tidak dapat diwujudkan sebagaimana kesepahaman pada 25 September 2026.
Perubahan sikap tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi Tim Rezza bersama para pemilik suara pendukung.
Hasil evaluasi itu berujung pada keputusan untuk tidak mengikuti Musda XV DPD REI Sulsel 2026.
“Setelah dilakukan evaluasi, Tim Rezza bersama para pemilik suara pendukung secara kolektif memutuskan untuk tidak mengikuti pelaksanaan Musda REI Sulawesi Selatan 2026,” tegasnya.
Mustajab menekankan, keputusan tersebut bukan keputusan pribadi Rezza Pratama Said.
Menurutnya, sikap itu merupakan keputusan kolektif yang diambil bersama lebih dari 100 perusahaan pengembang anggota DPD REI Sulsel.
Tim Rezza menilai pembatalan kesepahaman pada 25 September sebagai pengingkaran terhadap komitmen yang sebelumnya menjadi dasar keputusan Rezza untuk tidak melanjutkan pencalonan.
Mereka menganggap telah menunaikan bagian dari kesepakatan dengan itikad baik. Namun, komitmen yang menjadi dasar keputusan tersebut disebut tidak diwujudkan.
“Bagi kami, persoalan ini bukan semata soal kontestasi Ketua REI Sulsel. Ada komitmen yang menjadi dasar bagi Rezza untuk mengambil keputusan tidak melanjutkan proses pencalonan,” ujarnya.
Mustajab menilai seorang calon pemimpin organisasi harus mampu menjaga komitmen yang telah dibuat, terlebih kesepahaman tersebut dibangun dalam forum yang melibatkan pimpinan DPP REI.
“Kepemimpinan berdiri di atas kata yang ditepati. Ketika kata tidak lagi dapat dipegang, integritas kepemimpinan itu sendiri patut dipertanyakan,” katanya.
Tim Rezza juga menyoroti posisi pimpinan DPP REI dalam proses kesepahaman tersebut.
Mereka menyebut kesepahaman itu difasilitasi dan disaksikan langsung oleh Sekretaris Jenderal DPP REI Raymond Ardan Arfandy serta Wakil Ketua Umum DPP REI H M Arief Mone.
Karena itu, menurut Mustajab, persoalan tersebut tidak semata menyangkut hubungan antara Tim Rezza dan pihak yang sebelumnya membuat kesepakatan.
“Kesepahaman tersebut difasilitasi dan disaksikan langsung oleh pimpinan DPP REI. Karena itu, bagi kami persoalan ini juga berkaitan dengan marwah organisasi dan bagaimana komitmen yang dibangun di tingkat organisasi dihargai,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, Tim Rezza menilai pelaksanaan Musda tidak lagi mencerminkan semangat musyawarah, kebersamaan, dan kepercayaan yang semestinya menjadi fondasi organisasi.
Meski memilih tidak menghadiri Musda, Tim Rezza menegaskan tetap menghormati seluruh anggota REI Sulsel serta mekanisme organisasi.
Keputusan tersebut disebut sebagai sikap kolektif yang diambil secara sadar, solid, dan bertanggung jawab.
“Kami tetap menghormati seluruh anggota dan mekanisme organisasi. Sikap ini kami ambil sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kesepahaman yang sebelumnya menjadi dasar keputusan kami,” ungkap Mustajab.
Ia memastikan perjuangan untuk menghadirkan REI Sulsel yang bersatu, profesional, transparan, dan berintegritas tidak berhenti meski Tim Rezza memilih tidak mengikuti Musda.
Perjuangan tersebut, kata dia, akan dilanjutkan melalui ruang-ruang pengabdian lainnya.
“Perjuangan menghadirkan REI Sulawesi Selatan yang bersatu, profesional, transparan, dan berintegritas akan terus kami lanjutkan melalui ruang-ruang pengabdian lainnya,” tandasnya





