POJOKSULSEL, MAKASSAR - Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI) menggelar Indonesian Actuaries Summit 2026 (IAS'26) di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 18-20 Juni 2026.

Indonesian Actuaries Summit merupakan tahun ke-9 yang digelar oleh Persatuan Aktuaris Indonesia. Kota Makassar menjadi lokasi terjauh perhelatan kegiatan tahunan PAI.

Tidak hanya itu, Indonesian Actuaries Summit di Kota Makassar juga mencatatkan peserta terbanyak dengan diikuti 1.000 lebih peserta dari berbagai kalangan, mulai aktuaris, regulator, akademisi, mahasiswa hingga pelaku industri jasa keuangan.

Mengusung tema "Breaking Boundaries, Building Futures", IAS'26 menjadi wadah diskusi mengenai perluasan peran profesi aktuaris di berbagai sektor serta tantangan industri keuangan yang terus berkembang.

Ketua Persatuan Aktuaris Indonesia, Paul Setio Kartono, mengatakan tema tersebut menjadi ajakan bagi para aktuaris untuk tidak lagi terbatas pada peran konvensional, melainkan mengambil bagian dalam pembangunan ekosistem keuangan yang lebih tangguh dan kompetitif.

Baca Juga: Gapembi Sulsel Minta BGN Tinjau Ulang Kebijakan Penghentian MBG Saat Libur Sekolah

"Melalui IAS'26, kami ingin mengajak para aktuaris melampaui batas konvensional profesi dan berkontribusi membangun ekosistem keuangan yang tangguh, kompetitif, dan visioner. Kami juga mendorong peningkatan profesionalisme guna menjaga kepercayaan publik terhadap profesi aktuaris," ujar Paul Setio Kartono.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Seminar Edukasi Keuangan yang dihadiri sekitar 500 peserta, terdiri atas mahasiswa, pengurus lembaga keuangan daerah, dan masyarakat umum.

Sementara acara puncak berupa seminar profesi aktuaris diikuti 400 peserta secara luring dan 130 peserta secara daring dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam forum tersebut, sejumlah isu strategis menjadi pembahasan utama, di antaranya Professional Conduct for Appointed Actuaries: Ethics, Accountability and Integrity, adaptasi terhadap perubahan lingkungan bisnis, implementasi PSAK 408 dan IFRS 17, peran aktuaris dalam bisnis rumah sakit, BPJS Kesehatan, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan analitik data dalam industri asuransi.

Menurut Setio Kartono, konferensi tahunan tersebut menjadi sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman antara anggota profesi, praktisi industri, regulator, serta civitas akademika guna mendorong pengembangan ilmu aktuaria di Indonesia.

Baca Juga: Peringkat Dunia Unhas Naik 111, Ini Rangking Terbaru Universitas Hasanuddin Versi QS WUR 2027

"Diselenggarakannya IAS di Makassar juga menjadi simbol pertumbuhan dan konektivitas Indonesia Timur dalam pengembangan industri jasa keuangan nasional," kata Setio Kartono.

Setio Kartono menambahkan, para aktuaris telah menyelesaikan penyusunan laporan keuangan perusahaan asuransi dan reasuransi berdasarkan standar PSAK 117. Namun, sejumlah tantangan masih menanti profesi tersebut dalam beberapa tahun ke depan.

"Tantangan berikutnya antara lain implementasi AI, penerapan PSAK 408, penerapan Insurance Capital Standard (ICS) atau RBC 2, hingga pelaporan perubahan iklim (climate change reporting)," jelasnya.

Sebelum pelaksanaan IAS'26, PAI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Universitas Hasanuddin (Unhas) lebih dulu menggelar Seminar Edukasi Keuangan bertema "Generasi Melek Finansial: Menata Dana Pensiun di Tengah Disrupsi dan Risiko Keuangan" pada Rabu (17/6/2026) di Auditorium Fakultas Kedokteran Unhas, Kampus Tamalanrea, Makassar.

Kegiatan tersebut menghadirkan Rifnal Alfani dari OJK yang membawakan materi tentang literasi keuangan dan kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal. Sementara dari PAI, Awal P. Kurnianto memaparkan materi mengenai jaminan keberlanjutan dana pensiun di masa depan.

Selain seminar, PAI juga menandatangani nota kesepahaman dengan Universitas Hasanuddin dan Universitas BJ Habibie terkait kerja sama pertukaran informasi dan penguatan program pengajaran di bidang aktuaria.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat pengembangan sumber daya manusia di bidang aktuaria sekaligus meningkatkan literasi keuangan masyarakat di tengah dinamika industri keuangan yang semakin kompleks.

***