POJOKSULSEL, MAKASSAR - Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Selatan Anregurutta KH Baharuddin HS, menghadiahkan songkok guru kepada tokoh NU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin.
Pemberian songkok guru dari Anregurutta Baharuddin HS kepda Gus Rozin merepresentasikan identitas, kehormatan, sekaligus tradisi keulamaan yang diwariskan lintas generasi. Momen itu pun menjadi simbol penghormatan dan persaudaraan antara ulama NU dari dua daerah.
Bagi Gus Rozin, perjumpaan dengan ulama Sulawesi Selatan memiliki makna penting, terutama dalam menghadapi perjalanan NU memasuki abad kedua.
Menurutnya, NU tidak hanya dibangun melalui struktur organisasi. Ada kekuatan lain yang menjadi fondasi jam'iyyah, yakni silaturahmi ulama, hubungan kultural, tradisi pesantren, serta pertukaran pengalaman dan pengetahuan antardaerah.
Keragaman tradisi keulamaan tersebut menjadi kekuatan NU. Meski memiliki latar budaya yang berbeda, para ulama NU dipersatukan oleh nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah dan semangat khidmah.
Baca Juga: Devo Khaddafi Pimpin Perhumas Makassar 2026-2029, Ini Daftar Lengkap Pengurusnya
Pertemuan di Makassar itu sekaligus memperlihatkan bagaimana tradisi keulamaan Jawa dan Sulawesi Selatan dapat saling bertemu dan memperkuat satu sama lain.
Sebagai bentuk penghormatan dan balasan persaudaraan, Gus Rozin kemudian memberikan cendera mata kepada Anregurutta KH Baharuddin HS.
Cendera mata tersebut berupa sarung batik khas Jawa Tengah dan kitab karya KH MA Sahal Mahfudh.
Sarung batik membawa pesan tentang kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Jawa. Sementara kitab karya Kiai Sahal menjadi simbol warisan intelektual pesantren yang terus hidup dan menjadi bagian penting dalam perjalanan keilmuan NU.
Dengan demikian, pertukaran cendera mata tersebut memiliki makna lebih luas daripada sekadar pemberian barang.
Baca Juga: IJTI Sulselbar Soroti Nasib Jurnalis Minim Perlidungan dalam Milad ke-28
Songkok Guru dari Sulawesi Selatan dan kitab Kiai Sahal dari Jawa Tengah mempertemukan dua kekuatan tradisi NU: penghormatan kepada ulama dan kekayaan budaya dengan tradisi keilmuan pesantren.
Merawat Tradisi untuk Memperkuat NU
Gus Rozin memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan pesantren dan organisasi NU. Dalam pandangannya, tradisi keulamaan merupakan salah satu fondasi penting untuk memastikan NU tetap relevan menghadapi perubahan zaman.
Pemikiran dan keteladanan KH MA Sahal Mahfudh juga menjadi bagian dari perjalanan intelektual Gus Rozin. Warisan pemikiran Kiai Sahal tersebut terus menjadi bagian dari ikhtiar membangun NU yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya.
Dalam visi pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Rozin membawa gagasan tentang NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat.
Gagasan tersebut berangkat dari keyakinan bahwa transformasi NU memasuki abad kedua tidak boleh dimaknai sebagai upaya meninggalkan sejarah dan tradisi yang telah dibangun para ulama dan muassis NU.
Sebaliknya, perubahan perlu dilakukan dengan memperkuat fondasi tersebut sekaligus menerjemahkannya untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Mulai dari tantangan sosial, ekonomi, pendidikan, politik, teknologi hingga kebudayaan.
Baca Juga: Polisi Respons 3 Aduan Warga via Call Center Polri 110 di Makassar, Ini Kasusnya
Dalam konteks itu, menjaga marwah ulama dan pesantren menjadi bagian penting dalam perjalanan NU ke depan.
Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama. Pesantren juga menjadi ruang pengembangan ilmu, kaderisasi ulama, pembentukan karakter, sekaligus tempat lahirnya kepemimpinan masyarakat.
Karena itu, silaturahmi antara ulama Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah di Makassar juga memiliki arti strategis dalam memperkuat jaringan keulamaan dan pesantren di berbagai wilayah Indonesia.
Silaturahmi Ulama NU Didorong Jadi Kolaborasi
Bagi Gus Rozin, silaturahmi tidak seharusnya berhenti pada pertemuan dan simbol persaudaraan.
Baca Juga: KKN-T Nobel Indonesia Bantu 5 TPA di Pinrang, 104 Santri Terima Alquran
Hubungan antara ulama, pengurus NU, pesantren, dan warga NU di berbagai daerah perlu dikembangkan menjadi kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sejumlah bidang dapat menjadi ruang kolaborasi, mulai dari pertukaran pengalaman antarpesantren, penguatan pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, pemberdayaan ekonomi jamaah hingga pelestarian kebudayaan.
Dalam kerangka tersebut, pertemuan ulama NU Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan di Makassar menjadi simbol penting.
NU di abad kedua dituntut tetap berakar kuat pada tradisi ulama, namun pada saat yang sama mampu membangun jembatan antardaerah untuk melahirkan kolaborasi yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Songkok Guru yang diberikan Anregurutta KH Baharuddin HS kepada Gus Rozin menjadi simbol penghormatan terhadap tradisi keulamaan Sulawesi Selatan.
Sementara kitab karya KH MA Sahal Mahfudh yang diberikan Gus Rozin kepada Anregurutta Baharuddin menjadi simbol warisan intelektual pesantren Jawa Tengah.
Keduanya bertemu dalam satu pesan: merawat tradisi, memperkuat persaudaraan ulama, dan meneruskan khidmah untuk membangun NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat di abad kedua. ***




