POJOKSULSEL, MAKASSAR - Dua wakil dekan di Universitas Hasanuddin (Unhas) dikukuhkan sebagai guru besar.
Dua wakil dekan yang dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Hasanuddin, yaitu Prof Dr Ida Leida Maria, dan Prof Dr dr Rina Masadah.
Dua wakil dekan di Universitas Hasanuddin itu dikukuhkan sebagai guru besar pada Kamis (5/12/2024).
Baca Juga: Zudan Arif Fakrulloh Minta Masyarakat Lapor SPBU Kosong ke Pemda, TNI Polri Siap Bantu Pertamina
Prof Ida Leida Maria dikukuhkan sebagai guru besar bidang Ilmu Epidemiologi Sosial dan Genetik, dengan nomor keanggotaan 537.
Prof Rina Masadah dikukuhkan sebagai guru besar bidang llmu Patologi Anatomik Onkologi, dengan nomor keanggotaan 538.
Prof Ida Leida Maria yang merupakan guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, adalah Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Vokasi Unhas.
Baca Juga: UMP Sulsel 2025 di Atas Rata-rata Nasional, Prof Zudan: Terima Kasih Dewan Pengupahan
Sementara itu, Prof Rina Masadah adalah Wakil Dekan Bidang Publikasi, Pengabdian Masyarakat, dan Urusan Internasional Fakultas Kedokteran Unhas.
Prof Ida Leida Maria
Dalam kesempatan tersebut, Prof Ida memberikan penjelasan tentang "Epidemiologi Sosial dan Genetik Sebagai Solusi Masalah Kesehatan Masyarakat".
Dalam kesempatan tersebut, Prof Ida menjelaskan epidemiologi sosial merupakan cabang yang mempelajari distribusi sosial kesehatan dan determinan sosial kesehatan.
Cabang ini mempelajari pengaruh faktor sosial dan distribusi sosial terhadap kesehatan.
Ini juga berperan dalam menganalisis faktor sosial seperti kemiskinan, akses terhadap pendidikan, dan kondisi lingkungan memengaruhi kesehatan, sedangkan epidemiologi genetik fokus pada memahami peran faktor genetik dalam kerentanan penyakit.
Sementara itu, Epidemiologi genetik yang lahir pada tahun 1960 sebagai penggabungan dari populasi statistic matematika dan genetik klasik menetapkan bahwa komponen efek genetik berkaitan dengan dampak lingkungan yang mencakup semua aspek non genetik.
Untuk itu, dapat menjelaskan keterkaitan antara faktor genetik dengan faktor resiko lainnya untuk memecahkan masalah genetic sosial pada masyarakat.
Baca Juga: Jufri Rahman Puji Sistem BKN Mitigasi Peluang Kecurangan pada Tes PPPK 2024
“Ke depan, teknologi genetik dan rekayasa sosial dapat memprediksi seseorang atau sekelompok orang yang memiliki risiko tinggi atau tidak. Hal ini akan mengubah teknik analisis risiko kesehatan yang selama ini digunakan," kata Prof Ida.
'Jika saat ini distribusi variasi penyakit hanya bisa dilihat dari perilaku manusia, maka suatu hari bisa dilihat dari blue print atau DNA kelompok manusia yang bersangkutan,” jelas Prof Ida.
Dinamisnya masalah kesehatan terlihat pada masalah kesehatan global, permasalahan kesehatan gobal seperti penyakit menular baik yang baru muncul maupun muncul kembali, resistensi antibiotic serta permasalahan penyakit tidak menular, kesehatan ibu dan anak, akses ke pelayanan kesehatan dan kualitas layanan kesehatan.
Baca Juga: PWNU Sulsel dan 24 PCNU Kompak Tolak MLB NU, Begini Penegasan KH Hamzah Harun
Dalam konteks ini, epidemiologi sosial dan genetic dapat bersinergi memberikan pendekatan yang lebih holistic dalam memahami interaksi kompleks antara factor sosial, lingkungan, dan genetic terhadap risiko kesehatan.
Prof Rina Masadah
Paparan terakhir disampaikan oleh Prof Rina berkaitan dengan penelitian yang dilakukan mengenai “Peran Penting Patologi Anatomik dalam Bidang Onkologi untuk Mengoptimalkan Strategi Diagnosis dan Pengobatan Penyakit Kanker”.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Rina memberikan gambaran awal tentang patologi anatomi yang merupakan cabang ilmu kedokteran yang berfokus pada studi perubahan structural dan fungsional jaringan akibat penyakit, termasuk penyakit kanker.
“Pemeriksaan patologi anatomi memiliki peran yang sangat penting dalam diagnosis dan terapi kanker. Melalui berbagai jenis pemeriksaan seperti histopatologi serta pemeriksaan patologi anatomi memberikan informasi detail tentang jenis, stadium, subtype dan karakteristik melekuler dari tumor,” jelas Prof Rina.
Baca Juga: Jusuf Kalla Calon Tunggal Ketua Umum Palang Merah Indonesia, Kembali Diminta Pimpin PMI
Secara umum, pemeriksaan patologi anatomi juga mendukung pemantauan respons terapi serta deteksi dini resistensi, yang memungkinkan penyesuaian terapi secara dinamis sesuai perubahan yang terjadi pada tumor.
***




