POJOKSULSEL, MAKASSAR - Isu panas dan konsumsi energi di rumah-rumah tropis mendapat sorotan serius dari Mutmainnah, dosen Arsitektur UIN Alauddin Makassar.
Melalui riset panjang di Belanda, Mutmainnah berhasil meraih gelar Doktor (PhD) dari Eindhoven University of Technology (TU/e), Selasa, 6 Januari 2026.
Mutmainnah dinyatakan lulus setelah mempertahankan disertasinya dalam sidang promosi doktor terbuka yang dipimpin Prof. dr. ir. M.C.J. Hornikx.
Ujian akademik ini melibatkan tim penguji lintas negara dari TU/e Belanda, Tianjin University China, hingga Norwegian University of Science and Technology, Norwegia.
Disertasi yang diangkat Mutmainnah berjudul “Ceiling and Attic Ventilation to Improve the Indoor Thermal Environment of Residential Buildings in Hot-Humid Climates”.
Baca Juga: Hadiri Rakernas Gerakan Pramuka 2026, Kwarda Sulbar Siap Bersinergi
Penelitian ini menyoroti tantangan hunian di wilayah beriklim tropis lembap yang selama ini cenderung bergantung pada pendingin udara.
Menurut Mutmainnah, pola hidup manusia modern menjadi salah satu alasan utama pentingnya riset ini.
Aktivitas sehari-hari kini lebih banyak berlangsung di dalam ruangan, sementara desain bangunan belum sepenuhnya ramah iklim.
“Hampir seluruh aktivitas manusia dilakukan di dalam ruangan. Kalau bangunannya tidak dirancang dengan baik, dampaknya bukan hanya tidak nyaman, tapi juga boros energi,” ujarnya.
Perempuan asal Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) ini menilai ketergantungan pada AC di negara tropis seperti Indonesia membawa konsekuensi besar.
Baca Juga: Gubernur Sulsel Serahkan Santunan bagi Korban Kecelakaan ATR 42-500 Asal Luwu Timur
Selain meningkatkan konsumsi listrik rumah tangga, penggunaan pendingin udara juga tidak merata karena faktor ekonomi.
“AC bukan solusi yang bisa diakses semua orang. Karena itu, pendekatan desain bangunan harus dipikirkan sejak awal agar tetap nyaman tanpa ketergantungan energi tinggi,” jelasnya.
Melalui penelitiannya, Mutmainnah menawarkan strategi ventilasi pasif sebagai alternatif.
Ia mengkaji pemanfaatan plafon berperforasi serta ventilasi loteng (attic ventilation) yang terbukti mampu memperbaiki kenyamanan termal ruang dalam sekaligus menekan kebutuhan energi.
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan komprehensif menggunakan tiga metode utama.
Pertama, pengujian eksperimental melalui Atmospheric Boundary Layer Wind Tunnel.
Kedua, simulasi numerik Computational Fluid Dynamics (CFD) dengan perangkat lunak ANSYS Fluent.
Ketiga, analisis kinerja energi bangunan menggunakan Building Energy Simulation (BES) berbasis EnergyPlus.
Model bangunan yang digunakan dirancang menyerupai hunian nyata di iklim tropis lembap, dengan data cuaca Kota Makassar sebagai acuan.
Baca Juga: Pemkab Maros Beri Penghargaan TRC BPBD, DAMKAR dan SAR Gabungan
Studi ini menjadi yang pertama menggunakan model bangunan realistis—lengkap dengan atap pelana, bukaan, plafon, dan partisi internal—dalam pengujian wind tunnel.
Tim penguji menilai disertasi Mutmainnah memiliki keunggulan karena berhasil mengintegrasikan tiga metode analisis dalam satu studi terpadu, sesuatu yang masih jarang dilakukan dalam riset bangunan.
Selain memperdalam pemahaman tentang aliran ventilasi silang, penelitian ini juga menyediakan basis data penting untuk validasi simulasi CFD serta rekomendasi desain hunian yang lebih terjangkau dan adaptif terhadap iklim tropis lembap.
Hasil riset tersebut telah dipublikasikan dalam tiga jurnal internasional bereputasi dengan indeks Scopus Q1, termasuk Journal of Wind Engineering and Industrial Aerodynamics dan Building and Environment.
Penelitian ini juga telah dipresentasikan di sejumlah konferensi internasional di Prancis, Kanada, dan Swedia.
Baca Juga: Ini Daya Tampung Setiap Prodi di Unhas pada Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru 2026
Ke depan, Mutmainnah dijadwalkan kembali mempresentasikan hasil penelitiannya pada Indoor Air Conference di Singapura, Juni 2026.




