POJOKSULSEL, MAKASSAR - Muhammad Al Hindawi, santri kelas 12 Pondok Pesantren Al Imam Ashim Makassar, baru sekitar lima bulan mempelajari cybersecurity secara otodidak.

Namun, dalam waktu singkat tersebut, Muhammad Al Hindawi yang juga seorang hafiz Alquran 30 juz itu berhasil menemukan celah keamanan kritis pada sistem milik National Aeronautics and Space Administration (NASA).

Tak hanya NASA, Muhammad Al Hindawi juga menemukan celah keamanan pada sistem University of Melbourne, Australia.

Baca Juga: 39 Daerah Irigasi Direhabilitasi, 54 Ribu Hektare Sawah di Sulsel Ditarget Bisa Tanam hingga 3 Kali

Temuan tersebut dilaporkan melalui program resmi Vulnerability Disclosure Program (VDP) pada platform Bugcrowd dan telah mendapatkan validasi dari tim keamanan masing-masing institusi.

Hingga kini, Muhammad Al Hindawi tercatat menemukan dua celah keamanan kritis pada sistem NASA dan satu celah keamanan kritis pada University of Melbourne.

Atas laporan tersebut, Al Hindawi menerima Letter of Recognition (LOR) dari NASA. Sementara University of Melbourne memberikan konfirmasi validasi melalui tim Cyber Operations.

Baca Juga: Persiapan Muswil Perdana ILUNI UI Sulsel Dimatangkan, Panitia Konsolidasi Alumni Universitas Indonesia

Muhammad Al Hindawi mengatakan ketertarikannya terhadap cybersecurity dikembangkan secara mandiri.

Ia memanfaatkan berbagai tutorial di YouTube dan mempelajari laporan penelitian keamanan siber yang dipublikasikan para peneliti di Bugcrowd.

“Saat melakukan pemetaan (recon), awal mulanya saya menggunakan Subfinder untuk mengumpulkan subdomain, lalu mengecek status response code-nya menggunakan httpx. Dari sana, baru saya cari sistem yang rentan terkena SQL injection,” ujar Muhammad Al Hindawi, Selasa (15/9/2026) dikutip laman Kemenag Sulsel.

Baca Juga: Menteri Keuangan Berganti, Pengamat Dorong APBN Berpegang pada Prinsip Asitinajang

Proses tersebut menjadi bagian dari cara Muhammad Al Hindawi mempelajari bagaimana mengidentifikasi potensi kerentanan pada sebuah sistem.

Ia kemudian melaporkan temuan yang diperoleh melalui mekanisme resmi yang disediakan dalam program Vulnerability Disclosure Program.

Sebelum menemukan celah keamanan pada sistem NASA dan University of Melbourne, Al Hindawi juga pernah menemukan kerentanan pada sistem milik Pondok Pesantren Al Imam Ashim, tempatnya menimba ilmu.

Di tengah aktivitasnya sebagai santri, Muhammad Al Hindawi juga dikenal sebagai hafiz Alquran 30 juz.

Kemampuannya di bidang cybersecurity dikembangkan di luar pendidikan formal teknologi informasi. Ia belajar secara mandiri dengan memanfaatkan sumber pembelajaran yang tersedia di internet.

Baca Juga: Jalan MYP Sulsel Dikebut, Enam Paket Proyek Masuk Beragam Tahapan Berikut Rinciannya

Temuannya terhadap sistem NASA dan University of Melbourne kemudian mendapat validasi resmi dari masing-masing institusi.

Kisah Al Hindawi menjadi gambaran bahwa pembelajaran cybersecurity dapat dilakukan secara otodidak dengan memanfaatkan berbagai sumber pengetahuan dan praktik keamanan siber.

Dari lingkungan pesantren di Makassar, ia mengembangkan kemampuan tersebut hingga mampu berkontribusi dalam program pelaporan kerentanan yang melibatkan institusi berskala internasional. ***