POJOKSULSEL, MAKASSAR - Kabar duka datang di Senin subuh. Beredar di media sosial meninggalnya Dr Arqam Azikin S.sos, M.Si pada pukul 04.30 Wita di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Tamalanrea, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Semua sahabat dan orang yang mengenal Arqam Azikin berduka. Dosen Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar itu meninggalkan cerita manis dan kenangan yang tak terlupakan.

Kiprahnya saat masih mahasiswa sebagai aktivis di Kampus Merah, Universitas Hasanuddin (Unhas), meninggalkan catatan emas. Masuk tahun 1990 di Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Arqam Azikin tumbuh sebagai aktivis yang idealis.

Baca Juga: Link Download Kalender 2025, Lengkap Libur Nasional dan Cuti Bersama, Ada Vector, PNG, dan Hijriah

Kenangan tak terlupakan pun dirasakan oleh sahabatnya, Rusman Madjulekka. Dalam catatannya, Rusman Madjulekka menulis kisah bersama sang sahabat yang telah lebih dulu melanjutkan perjalanan.

Berikut catatan Rusman Madjulekka untuk Almarhum Arqam Azikin:

SALAM TERAKHIR
(Mengenang sahabat Arqam bin Azikin)

“T'rimalah salamku
Yang terakhir kali
Ku akan pergi jauh
Kucoba untuk mengerti dirimu
dan kuberjanji melangkah di jalanNya…”

*

Syair ini cukup populer di era tahun 80-an hingga awal 90-an. Anda pun bisa menebak. Itu penggalan syair bait terakhir dari lagu “salam terakhir” yang dipopulerkan penyanyi lawas Ikang Fawzi. Tapi anda tidak bisa menebak “salam terakhir” yang betul-betul terakhir dari seseorang yang meninggalkan kita untuk selamanya.

“Maafkan kalau ada salah saya. Jangan lupa sampaikan salam buat teman-teman,” kata Dr.Arqam Bin Azikin, S,sos, M.Si melalui Anil Hukma dkk, kawan satu angkatan 90 di jurusan komunikasi Fisip Unhas yang membesuknya di RS khusus Dadi Makassar, Sulawesi Selatan belum lama ini. Tapi saat itu, kata Anil, kondisinya sudah sangat lemah.

Pesan itu terasa biasa dan lazim juga disampaikan oleh komunitas teman lainnya. Yang juga sempat membesuknya. Saat itu tak lupa Arqam, begitu biasa ia dipanggil, menceritakan anaknya yang sudah mahasiswa.Dan beberapa kenangan lainnya, tak luput dari ingatannya meski mulai menurun.

Tiba-tiba hari senin (2/12/2024) dinihari masuk pesan whatsapp: “Innalilahi Wainnalilahi Rojiun…telah meninggal dunia barusan saudara dan sahabat kita Arqam Azikin dan rencana dikebumikan di kota kelahirannya Parepare.”

Kabar duka itu sungguh menyesakkan dada. Terutama bagi kami yang sama-sama mahasiswa satu angkatannya saat di Unhas dulu. Karena sebelumnya kami masih berharap dirinya yang sudah lama terbaring di RS melawan penyakitnya, bisa segera pulih kembali.

Setelah beberapa hari berselang dari waktu pesan salam yang disampaikan Arqam tersebut, baru kita sadar bahwa sesungguhnya itulah “salam terakhir” yang betul-betul terakhir dari seorang sahabat rasa saudara yang dikenal aktif, lincah, dan rajin menjalin silaturahim.

Ke daerah mana pun ia bepergian, tak pernah lupa ia mengontak kawan lamanya semasa mahasiswa. Begitu pun yang bertandang ke Makassar, ia selalu meluangkan waktu mengundang bertemu. Dijamu aneka menu khas setempat. Tak lupa berfoto.

Sejak mahasiswa Arqam Azikin dikenal sebagai aktivis. Baik di organisasi himpunan/jurusan maupun senat fakultas. Begitu juga di level universitas. Ia bersama kawan-kawannya tercatat menginisiasi pendirian UKM Liga Film Mahasiswa (LFM) Unhas.

Tampilan fisiknya sederhana, badan ceking, dibalut jeans, baju kemeja dalaman kaos oblong serta bersepatu kets dan rambut gondrong sebahu. Membuatnya gampang dikenal di kalangan kampus.

Ia juga penggemar berat musisi legendaris Iwan Fals. Semua lagu ciptaannya yang bernuansa protes dan kritik kebijakan masa orde baru itu, dihapalnya. Bukan hanya itu, lantunan suaranya pun beda-beda tipis dengan penyanyi aslinya. Lagu bertajuk “Bento” dan “Orang-orang harus dibangunkan” yang paling sering didendangkannya.

“Pernah almarhum diminta sama senior tampil menyanyikan lagu dihadapan ribuan mahasiswa baru 90-an. Ia tampil percaya diri. Memompa semangat perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan,” kenang Herwin, kawan satu angkatan dengan almarhum di Fisip Unhas.

Selembar kertas putih kutarik. Lalu kugoreskan catatan diatasnya:

“Kabar duka lewat WA
sungguh menyesakkan dada
ditinggalkan seorang sahabat
seorang yang selalu bersemangat
masa mahasiswa yang sama kita lalui
dengan canda tawa
Selamat jalan, brother!”

Jakarta, 2 Desember 2024
Rusman Madjulekka (***)