POJOKSULSEL, MAKASSAR - Sejarah baru di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Alauddin Makassar. Prof Dr Andi Miswar adalah perempuan pertama yang meraih gelar guru besar di FAH.
 
Andi Miswar menjadi profesor bidang tafsir UIN Alauddin Makassar. Ia melengkapi daftar 60 dosen yang menerima KMA Guru Besar dalam rumpun ilmu agama  di Kantor Kemenag, Jakarta Barat, pada Kamis, 18 Januari 2024.
 
Sementara dari UIN Alauddin Makassar, Andi Miswar meraih jabatan fungsional tertinggi sebagai profesor bersama 5 dosen lainnya di awal tahun 2024.
 
Melansir, https://uin-alauddin.ac.id/, Andi Miswar merasa bersyukur atas penpaian gelar tertinggi dalam bidang akademik.
 
 
Ia berharap agar prestasi yang dicapainya dapat menjadi motivasi bagi dosen-dosen dan mahasiswa FAH UIN Alauddin Makassar untuk terus berprestasi dan berkontribusi dalam dunia ilmu pengetahuan.
 
"Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar senantiasa berkomitmen untuk memberikan kontribusi terbaik dalam bidang akademis," kata Andi Miswar.
 
"Prestasi ini bukan hanya milik saya pribadi, tetapi juga milik seluruh civitas academica fakultas ini. Semoga keberhasilan ini dapat menjadi awal dari pencapaian yang lebih besar di masa depan," tambahnya.
 
 
Andi Miswar merupakan perempuan kelahiran Belawa, Kabupaten Wajo.
 
Pada data daftar pegawai UIN Alauddin Makassar, Andi Miswar meraih gelar doktor di UIN Alauddin Makassar pada tahun 2014.
 
Ia juga menyelesaikan progran S2 UIN Alauddin tahun 2007 dan alumni program sarjana IAIN Alauddin tahun 1994.
 
 
Andi Miswar sekolah di SD Aisyiyah selesai tahun 1983, MTs Muhammadiyah selesai tahun 1986, dan SMA Muhamadiyah selesai tahun 1989.
 
Diketahui, sebanyak 6 dosen UIN Alauddin Makassar meraih gelar profesor di awal tahun 2024. Mereka melengkapi daftar 76 profesor yang dimiliki PTKIN terbesar di Indonesia Timur itu.
 
Adapun 6 dosen UIN Alauddin Makassar yang meraih gelar guru besar di tahun 2024, yaitu:
 
Prof Dr Andi Miswar sebagai Profesor Tafsir FAH UIN Alauddin Makassar. 
 
 
Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar Prof Dr Muhaemin sebagai Profesor Pemikiran Islam.
 
Prof Dr Firdaus Muhammad sebagai Profesor Komunikasi Politik Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar. Firdaus Muhammad adalah mantan Dekan FDK.
 
Prof Dr KH Hamzah sebagai Profesor Akidah dan Pemikiran Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Ia juga adalah Ketua Tanfidziyah NU Sulsel.
 
Prof Dr Muhammad Sabri sebagai Profesor Ilmu Agama dan Filsafat. Sabri saat ini menjabar sebagai Direktur Pengkajian Kebijakan Pembinaan Ideologi Pancasila.
 
 
Masih dari FSH UIN Alauddin Makassar ada Prof Dr Achmad Musyahid sebagai Profesor Ilmu Agama.
 
Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis mengatakan,.UIN Alauddin Makassar adalah salah satu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dengan jumlah guru besar terbanyak.

Hal itu disampaikan Prof Hamdan Juhannis, merespons penetapan guru besar enam dosen UIN Alauddin Makassar di awal tahun 2024 melansir uin-alauddin.ac.id.

"Ini akan memperkuat posisi akademik UIN Alauddin Makassar dan menjadi salah satu PTKIN jumlah guru besar terbanyak," kata Prof Hamdan Juhannis.
 
Baca Juga: Rata-rata Pendapatan Masyarakat Luwu Timur Rp7 Juta Per Bulan, Pj Gubernur Bahtiar Minta Saudagar Tana Luwu Pulang Kampung

Prof Hamdan Juhannis mengatakan, penetapan 6 guru besar baru di UIN Alauddin Makassar, akan semakin memperkuat disiplin keilmuan dan penguatan akreditasi.

Ia mengatakan, guru besar akan memberikan kontribusi positif pada akreditasi institusi. Selain itu, guru besar akan menciptakan iklim akademik yang semakin kondusif karena memiliki keahlian pada bidangnya.
 
Prof Hamdan Juhannis mengatakan, semakin bertambahnya profesor di UIN Alauddin Makassar, adalah program akselerasi guru besar.
 
Baca Juga: Peringatan Dini Awas Untuk Wilayah Gowa, Maros, Pangkep, Curah Hujan Sangat Tinggi Hingga 31 Januari 2024

Ia menyebut, penambahan guru besar tersebut merupakan kegembiraan dan kemewahan bagi UIN Alauddin Makassar.

Karena itu, Prof Hamdan Juhannis berharap hadirnya guru besar bisa mendorong dosen berstatus Lektor Kepala untuk segera meraih guru besar. ***