POJOKSULSEL, MAKASSAR - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terus menggenjot upaya menemukan kasus tuberkulosis (TBC) lebih dini. Salah satu langkah yang kini diperkuat adalah skrining langsung ke masyarakat menggunakan portable X-Ray, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko tinggi tertular.
Strategi jemput bola ini menjadi bagian dari Active Case Finding (ACF) atau penemuan kasus secara aktif yang dijalankan melalui Gerakan Temukan, Obati, Sampai Sembuh (TOSS TBC).
Targetnya, penderita TBC bisa diketahui sejak awal sehingga segera mendapatkan pengobatan dan tidak lagi menjadi sumber penularan di lingkungan sekitarnya.
Baca Juga: Korban Meninggal KM Nurul Salsa yang Teridentifikasi Bertambah Jadi Tiga, 14 Penumpang Masih Dicari
Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, dr. Evi Mustikawati Arifin, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) sekaligus mendukung target Eliminasi TBC Nasional 2030.
"Deteksi dini sangat penting untuk mencegah penularan lebih lanjut sekaligus memastikan penderita mendapatkan pengobatan sedini mungkin," ujar dr. Evi.
Baru 14 Ribu Kasus Ditemukan
Data Dinas Kesehatan Sulsel hingga 19 Juli 2026 menunjukkan, dari estimasi 45.556 kasus TBC yang harus ditemukan tahun ini, baru 14.463 kasus positif yang berhasil terdeteksi.
Baca Juga: Dua Korban KM Nurul Salsa Berhasil Diidentifikasi, DVI Biddokkes Polda Sulsel Ungkap Identitasnya
Karena itu, Pemprov Sulsel terus memperluas cakupan skrining agar semakin banyak penderita dapat ditemukan sebelum kondisinya semakin parah atau menularkan penyakit kepada orang lain.
Sejauh ini, layanan skrining menggunakan portable X-Ray telah digelar di Kota Makassar, Kabupaten Pangkep, Gowa, Soppeng, dan Kota Palopo.
Di Makassar, pemeriksaan menyasar personel Satpol PP Pemprov Sulsel yang memiliki mobilitas tinggi. Sementara di empat daerah lainnya, sasaran utama adalah kontak serumah dan kontak erat pasien TBC, karena kelompok ini memiliki risiko penularan paling besar.
Skrining Lebih Cepat Tanpa Harus ke Puskesmas
Menurut dr. Evi, penggunaan portable X-Ray membuat proses pemeriksaan jauh lebih praktis karena petugas dapat mendatangi langsung lokasi sasaran tanpa masyarakat harus lebih dulu datang ke fasilitas kesehatan.
Pendekatan tersebut dinilai mampu mempercepat penemuan kasus sekaligus memperluas jangkauan layanan di berbagai wilayah.
Bagi warga yang hasil skrining menunjukkan dugaan TBC, pemeriksaan akan dilanjutkan dengan Tes Cepat Molekuler (TCM) sebagai standar nasional untuk memastikan diagnosis sebelum pasien menjalani pengobatan.
"Diharapkan semakin banyak kasus ditemukan pada tahap awal sehingga rantai penularan dapat diputus, angka keberhasilan pengobatan meningkat, dan target Eliminasi TBC Nasional Tahun 2030 dapat tercapai," kata dr. Evi.
Baca Juga: Tak Hanya Soal Gizi, Mahasiswa KKN Unhas Ingatkan Hak Anak Jadi Kunci Cegah Stunting
Ribuan Desa Siaga TBC
Pemprov Sulsel juga memperkuat pengendalian penyakit melalui pembentukan 2.451 desa dan kelurahan siaga TBC yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.
Keberadaan desa siaga tersebut diharapkan mampu memperkuat edukasi masyarakat, mempercepat pelaporan kasus, hingga mendampingi pasien menjalani pengobatan sampai sembuh.
Dinas Kesehatan Sulsel menegaskan keberhasilan eliminasi TBC tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan fasilitas kesehatan, tenaga medis, kader kesehatan, pemerintah daerah, serta partisipasi aktif masyarakat.***




