POJOKSULSEL.com, MAKASSAR - BMKG Stasiun Klimatologi Maros memprediksi awal musim kemarau di Sulsel diprediksi terjadi mulai Bulan Juni 2024 mendatang.
Sedangkan untuk puncak musim kemarau di Sulsel diprediksi terjadi di Bulan Agustus mendatang.
BMKG Stasiun Klimatologi Maros juga menyebutkan, jika dibandingkan dengan rata-ratanya selama 30 tahun, awal musim hujan di Sulsel 2024 maju dari rata-ratanya.
Baca Juga: Muh Tonang Imbau Pegawai Kanwil Kemenag Sulsel Lakukan Hal Ini Sebagai Abdi Negara
Sementara itu, sifat hujan selama musim kemarau 2024 di Sulsel diperkirakan umumnya normal.
Awal musim kemarau di Sulsel Tahun 2024 diperkirakan April, terjadi di wilayah Kabupaten Bantaeng, Gowa, Jeneponto, dan Takalar.
Kemudian Mei dasarian II, awal musim kemaru diprediksi terjadi di Kabupaten Barru, Gowa, Makassar, Kota Maros, Pangkep, Takalar.
Baca Juga: Kakanwil Kemenag Sulsel, Muh Tonang Sidak 11 Satker di Hari Pertama Berkantor, Hal Ini Jadi Atensi
Lalu pada Juni dasarian III, awal musim kemarau terjadi di Kabupaten Barru, Bone, Gowa, Luwu, Luwu Utara, Maros, Pangkep, Palopo, Sinjai, Soppeng, Takalar, dan Tana Toraja.
Dan di Agustus dasarian I, awal musim kemarau terjadi di Kabupaten Bantaeng, Bulukumba, Bone, Enrekang, Gowa, Luwu Timur, Luwu Utara, Jeneponto, Sidrap, Sinjai dan Wajo.
Data tersebut dikutip Pojoksulsel.com dari dokumen Buletin Musim Kemarau 2024 Sulsel BMKG Stasiun Klimatologi Maros, Senin 1 April 2024.
Baca Juga: Selamat! Grab Terima Sertifikat Penetapan Program Kepatuhan Persaingan Usaha dari KPPU RI
Dampak Musim Kemarau
Musim kemarau adalah periode panjang tanpa hujan yang terjadi di beberapa daerah setiap tahunnya.
Ini adalah masa di mana curah hujan sangat rendah atau bahkan tidak ada sama sekali, yang dapat menyebabkan kekeringan dan masalah lainnya terkait air.
Musim kemarau sering kali memiliki dampak serius terhadap pertanian, persediaan air minum, kehidupan hewan, dan lingkungan secara keseluruhan.
Di beberapa tempat, musim kemarau dapat berlangsung selama beberapa bulan, menyebabkan tanaman mengering dan berkurangnya sumber daya air.
Ini juga bisa menjadi saat-saat sulit bagi petani, karena mereka mungkin harus bergantung pada irigasi atau sumber air lainnya untuk mempertahankan pertanian mereka.
Pemerintah dan masyarakat sering mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak musim kemarau, seperti pengelolaan air yang lebih baik, konservasi air, dan penyediaan bantuan kepada mereka yang terkena dampaknya.
Selain itu, pengembangan teknologi seperti sistem irigasi yang efisien juga dapat membantu mengatasi tantangan yang dihadapi selama musim kemarau.
***



