POJOKSULSEL, MAKASSAR - BMKG Wilayah IV Makassar mengungkap suhu udara yang terasa sangat panas di siang hari selama bulan Oktober 2025 di Sulawesi Selatan (Sulsel), adalah bagian dari masa transisi dari musim kemarau ke musim hujan.

Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Agusmin Hariansah, mengatakan, perubahan pola suhu dan curah hujan selama bulan Oktober merupakan tanda peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.

Peralihan dari musim kemarau ke musim hujan ditandai dengan fenomena suhu udara di siang hari terasa sangat panas, namun menjelang sore hari berubah menjadi hujan deras.

Selain itu, kata Agusmin Hariansah, panas yang menyengat di siang hari juga dipicu oleh perubahan pola monsun Asia yang mulai aktif namun masih tertahan oleh sisa musim kemarau.

Baca Juga: 70 Peserta Guncang CitraCosmetic Citraland Hertasning, CBD Hadirkan Pesta Kebugaran Berbalut Horor

"Diperkuat oleh kelembapan udara tinggi dan gelombang atmosfer," kata Agusmin Hariansah.

Sulawesi Selatan dilanda fenomana MJO

BMKG Wilayah IV Makassar mencatat peningkatan curah hujan signifikan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan dalam dua hari terakhir.

Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV Makassar, Rizky Yudha Pahlawan mengatakan, peningkatan curah hujan pada dua hari terakhir ini diakibatkan oleh fenomena global Madden-Julian Oscillation (MJO).

"Jadi memang untuk dua hari terakhir ini kami lihat ada fenomena global MJO yang bergerak masuk ke wilayah Indonesia di kuardan IV menyebabkan wilayah di Indonesia mendapat peningatan curah hujan termasuk di wilayah Sulawesi Selatan," kata Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV Makassar, Rizky Yudha Pahlawan saat diwawancarai, Seni (27/10/2025).

Baca Juga: UPT SPF SMPN 20 Makassar Gelar Workshop Deep Learning untuk Tingkatkan Mutu Pembelajaran

Dilansir laman Perpustakaan BMKG, Madden Julian Oscillation (MJO) merupakan suatu gelombang atau osilasi non seasonal yang terjadi di lapisan troposfer yang bergerak dari barat ke timur dengan periode osilasi kurang lebih 30-60 hari. Fenomena ini sangat berdampak terhadap kondisi anomali curah hujan di wilayah yang dilaluinya.

Rizky Yudha Pahlawan Yudha Pahlawan mengatakan, kondisi cuaca di Sulawesi Selatan umumnya hujan dengan intensitas ringan hingga lebat. Bahkan di beberapa wilayah dalam kategori curah hujan sangat lebat bahkan ekstrem.

"Curah hujan dengan kategori ekstrem atau curah hujan lebih dari 150 millimeter per hari ini terpantau di Kabupaten Barru," katanya.

Ia menjelaskan, untuk wilayah lainnya masih dalam kategori sedang hingga sangat lebat, seperti di Makassar, Maros, Pangkep, wilayah Sulsel bagian utara hanya kategori sedang hingga lebat.

Rizky Yudha Pahlawan menjelaskan, peningkatan curah hujan dalam beberapa hari ke depan masih berpotensi dengan intensitas ringan hingga sedang.

Dirinya memetakan, intensitas hujan sedang khususnya tejadi di wilayah Sulawesi Selatan bagian utara dan sebagian wilayah Sulawesi Selatan bagian selatan seperti Bantaeng, Bulukumba, dan Sinjai.

"Fenomena MJO masih beberapa hari ke depan masih terjadi di Indonesian dan terus menjauhi wilayah Indonesia ke wilayah Timur," katanya. ***