POJOKSULSEL.com, MAKASSAR - Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin menyebutkan, kemarau ekstrem yang terjadi di Sulsel mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla seluas 284,45 Hektare.

Menurut Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin, luas kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla mencapai 284,45 Hektare tersebut berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sulsel hingga awal Oktober 2023 ini.

Bahtiar Baharuddin melanjutkan, luas kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla mencapai 284,45 Hektare tersebut terjadi di sembilan kabupaten di Sulsel.

Baca Juga: Basli Ali Ingin Hari Pariwisata Sedunia Jadi Momentum Pengembangan Destinasi Wisata Baru

Antara lain di Kabupaten Luwu Timur seluas 55,5 hektare, Jeneponto seluas 37,19 hektare, Tana Toraja 13,8 hektare, Toraja Utara 40 hektare.

Selanjutnya Kabupaten Gowa 37,6 hektare, Maros 22 hektare, Enrekang 20 hektare, Soppeng 20 hektare, Sidrap 10 hektare dan Kabupaten Bantaeng 28,36 hektare.

Kebakaran paling luas terjadi pada Areal Penggunaan Lain (APL) yang mencapai 185,59 hektare.
Sementara untuk kawasan hutan, kebakaran tercatat seluas 98,86 hektare.

Baca Juga: Wabup Saiful Arif Bacakan Pendapat Akhir Bupati Tentang Ranperda Perubahan APBD 2023

Hal ini disampaikan Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin saat memimpin Rapat Koordinasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kantor Gubernur Sulsel, Makassar, Kamis 12 Oktober 2023.

"El Nino memicu perubahan pola cuaca di seluruh dunia, termasuk di Sulsel. Salah satu dampak utama dari El Nino adalah peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan," kata Bahtiar Baharuddin.

Bahtiar Baharuddin melanjutkan, kebakaran hutan dan lahan bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga berdampak besar pada kesehatan masyarakat, ekonomi, dan kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Bupati Basli Ali Apresiasi Dedikasi Prajurit TNI Kodim 1415 Kepulauan Selayar

Sebagian besar kebakaran hutan dan lahan di Sulsel, kata Bahtiar Baharuddin, disebabkan pembakaran sampah dan pembukaan lahan dengan cara membakar.

"Kita tidak bisa tinggal diam. Pemerintah harus mengambil tindakan konkrit untuk mencegah dan mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota serta seluruh kalangan masyarakat harus mengambil peran dalam menangani permasalahan tesebut," bebernya.

Bahtiar Baharuddin pun memerintahkan melakukan langkah-langkah proaktif mencegah kebakaran hutan dan lahan di Sulsel semakin meluas.

Baca Juga: Festival Takabonerate 2023 Target Gaet Seribu Pengunjung

Salah satunya dengan pengendalian operasional dalam sistem Satgas Patroli Terpadu di tingkat wilayah diperkuat dengan masyarakat.

Selain itu, dia memerintahkan mengintensifkan program edukasi masyarakat; mendorong praktik-praktik berkelanjutan dalam pengelolaan lahan mencakup penghijauan dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan; menciptakan peta risiko kebakaran hutan dan lahan untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang rentan.

Selain itu, membangun sistem peringatan dini yang dapat memberikan informasi cepat tentang potensi kebakaran hutan dan memastikan informasi peringatan dini mudah diakses oleh masyarakat.

Baca Juga: RS Andi Makkasau Terima Tim Visitasi Dinkes Pemprov Sulsel

"Kita tidak boleh lupa bahwa ini adalah masalah yang memengaruhi nyawa manusia, satwa liar, dan ekosistem kita. Ini juga merugikan ekonomi kita, terutama dalam sektor pertanian dan pariwisata," pungkas Bahtiar Baharuddin.

***