POJOKSULSEL, MAKASSAR - UIN Alauddin Makassar masuk dalam top 10 Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTKIN) berdasarkan Webometrics Ranking of World Universities Februari 2026.

UIN Alauddin Makassar menempati rangking 6 lingkup PTKIN dan peringkat 81 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di tingkat nasional dan urutan ke-3 di Sulawesi Selatan.

Dalam daftar sepuluh besar PTKIN nasional versi Webometrics 2026, UIN Sunan Gunung Djati Bandung berada di peringkat pertama, diikuti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Raden Intan Lampung, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Alauddin Makassar, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, UIN Raden Fatah, UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), dan UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten.

Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, menyebut hasil tersebut sejalan dengan arah transformasi kampus yang terus didorong menuju rekognisi global.

Menurut Hamdan Juhannis, peringkat yang diraih bukan sekadar deretan angka, melainkan refleksi dari kerja kolektif seluruh sivitas akademika dalam meningkatkan visibilitas dan dampak keilmuan kampus di level internasional.

Baca Juga: Kemenag Sulsel Gelar Rukyatul Hilal Ramadan 1447 H di Kampus Unismuh 17 Februari

“Transformasi dari local menuju global recognition yang kita canangkan mulai menunjukkan hasil. Ini adalah buah dari kerja bersama dalam memperkuat peran keilmuan dan eksistensi UIN Alauddin di ruang global,” ujar Hamdan Juhannis dalam keterangan tertulis.

Ia menjelaskan, penguatan publikasi ilmiah, keterbukaan akses terhadap hasil riset, serta optimalisasi kanal digital kampus menjadi faktor penting yang mendorong peningkatan posisi tersebut.

Ke depan, universitas akan terus mendorong kolaborasi riset dan penyebaran pengetahuan secara terbuka kepada publik.

Sementara itu, Ketua Pemeringkatan Universitas UIN Alauddin Makassar, Dr. Ridwan Kambau, menjelaskan bahwa Webometrics merupakan sistem pemeringkatan universitas dunia yang menggunakan pendekatan multidimensi. Penilaiannya tidak hanya bertumpu pada riset, tetapi juga jejak digital dan keterbukaan akses akademik.

“Webometrics dirancang untuk melihat kinerja universitas secara menyeluruh. Kehadiran digital, pengaruh akademik, keterbukaan, hingga visibilitas global menjadi bagian dari indikator penilaian,” kata Ridwan Kambau.

Baca Juga: Ini Nama-Nama 13 Camat di Kota Makassar yang Baru Dilantik Munafri Arifuddin

Ia menambahkan, Webometrics merupakan inisiatif independen berbasis riset yang mengedepankan transparansi dan bersifat non-komersial.

Pendekatan ini, kata dia, membuat evaluasi perguruan tinggi menjadi lebih adil dan tidak semata-mata bergantung pada jumlah publikasi ilmiah.

Ridwan Kambau juga menegaskan bahwa web dalam konteks Webometrics tidak dipandang sekadar sebagai etalase informasi.

Lebih dari itu, web menjadi saluran utama pembelajaran, diseminasi riset, serta keterlibatan publik dengan institusi pendidikan tinggi.

“Yang dinilai bukan situs webnya, tetapi universitasnya. Kinerja web dijadikan proksi untuk melihat dampak institusional di dunia nyata,” jelasnya.

Adapun metode penilaian Webometrics menggunakan model komposit yang telah dinormalisasi agar evaluasi berlangsung seimbang.

Indikator tersebut meliputi visibilitas berdasarkan jumlah domain eksternal yang merujuk ke institusi sebesar 50 persen, transparansi melalui jumlah kutipan dari 310 peneliti teratas di Google Scholar sebesar 10 persen.

Serta keunggulan riset melalui artikel yang masuk 10 persen teratas paling banyak disitasi periode 2019–2023 di basis data Scopus/Scimago sebesar 40 persen. ***