POJOKSULSEL, MAKASSAR - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama atau PWNU Sulawesi Selatan menegaskan pentingnya mencari jalan tengah dalam menyikapi dinamika internal yang sedang berlangsung di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sikap tersebut diambil demi menjaga persatuan dan keutuhan jam’iyah NU di tengah perbedaan pandangan yang muncul.

PWNU Sulawesi Selatan memilih berdiri pada prinsip tawasuth atau moderasi, dengan tidak memihak pada salah satu kubu dalam polemik yang berkembang di internal PBNU.

Bagi PWNU Sulawesi Selatan, menjaga keseimbangan dan keteduhan organisasi jauh lebih penting dibanding memperuncing perbedaan.

Sikap ini, menurut PWNU Sulsel, sejalan dengan nilai dasar Nahdlatul Ulama yang sejak awal menjunjung tinggi persatuan, musyawarah, dan keharmonisan internal. Penyelesaian persoalan dinilai harus ditempuh melalui dialog yang bijaksana, bukan lewat konfrontasi yang berpotensi memecah belah warga NU.

Baca Juga: PUPR Sulbar Fokuskan 5 Langkah Teknis Hadapi Lonjakan Natal dan Tahun Baru, Apa Saja?

Wakil Sekretaris PWNU Sulawesi Selatan, Muhajirin, mengungkapkan bahwa langkah kehati-hatian tersebut bukan tanpa dasar.

Ia menyebut, pada 16 Desember lalu telah digelar pertemuan yang melibatkan unsur Syuriyah dan Tanfidziyah PWNU Sulsel di kediaman Anregurutta Rais Syuriyah.

"Dalam pertemuan itu, kami sepakat untuk menunggu keputusan yang bisa diterima oleh semua pihak dan membawa kemaslahatan bagi jam’iyah,” ujar Muhajirin.

Menurutnya, sikap menahan diri ini merupakan bentuk kedewasaan organisasi dalam menghadapi dinamika internal.

Baca Juga: 15 Ruas Jalan Lintas Empat Kabupaten di Sulsel Diperbaiki dengan Skema MYC Mulai 2026

PWNU Sulsel juga mengimbau seluruh struktur organisasi, jamaah, dan kader NU di Sulawesi Selatan agar mengedepankan prinsip tasamuh atau toleransi dalam menyikapi perbedaan pendapat.

Muhajirin menekankan, perbedaan pandangan merupakan keniscayaan dalam tradisi Ahlusunnah wal Jama’ah. Ikhtilaf, kata dia, justru menjadi kekayaan intelektual yang harus disikapi dengan kearifan, bukan dijadikan sumber konflik.

“Mengutip arahan Ketua Tanfidziyah PWNU, ini adalah sikap institusional yang kami harapkan bisa diterima dan dijalankan oleh seluruh warga Nahdlatul Ulama,” tuturnya.

Baca Juga: Rektor UMI Respons Tiga Pidato Guru Besar, Prof Hambali Thalib Sampaikan Gagasan Penting

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga akhlakul karimah dalam merespons berbagai wacana pemikiran, terlebih jika pandangan tersebut datang dari para ulama. Etika dan adab, menurutnya, harus tetap menjadi fondasi utama dalam berdiskusi.

Lebih jauh, Muhajirin menegaskan bahwa seluruh elemen NU perlu menunjukkan kedewasaan berorganisasi dengan terus menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah pluralitas pemikiran.

“Keberagaman pendapat itu keniscayaan. Tapi harus dikelola dengan kearifan dan saling menghormati, bukan justru dijadikan alasan untuk saling menjauh,” tegasnya.

Melalui sikap moderat ini, PWNU Sulawesi Selatan menegaskan kembali bahwa keutuhan jam’iyah Nahdlatul Ulama berada di atas kepentingan kelompok atau individu mana pun.

Baca Juga: STAIN Majene Tampilkan Wajah Baru Kampus Sambut Mahasiswa 2026

Organisasi mengajak seluruh warga NU untuk kembali fokus pada misi besar NU dalam membina umat serta menjaga tradisi Islam yang moderat, toleran, dan inklusif.

PWNU Sulsel pun optimistis, dengan pendekatan dialog yang konstruktif dan penuh kebijaksanaan, dinamika internal yang terjadi di tubuh NU dapat diselesaikan tanpa meninggalkan luka berkepanjangan bagi organisasi.

***