POJOKSULSEL, MAKASSAR – Sebanyak 100 siswa dari berbagai SMA Negeri di Sulawesi Selatan (Sulsel0 resmi menjalani program Karantina Tahfiz selama 20 hari.

Program Karantina Tahfiz bagi pelajar SMA digelar Pemerintah Provinsi Sulsel sebagai upaya memperkuat literasi dan karakter keagamaan pelajar sekolah umum.

Kegiatan Karantina Tahfiz siswa SMN di Sulsel berlangsung dalam dua angkatan dan ditempatkan di dua titik, yaitu Gedung Kartini Makassar dan Whiz Prime Makassar.

Para peserta akan mengikuti pembinaan intensif bersama para pembimbing tahfiz, ustaz, dan ustazah yang telah disiapkan.

Baca Juga: Daftar 10 SDN di Kota Makassar Diganjar Penghargaan Sekolah Adiwiyata Mandiri dan Nasional 2025

Pada sesi pembukaan, hadir Kabid Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Sulsel, H. Muhammad Yunus.

Muhammad Yunus menegaskan bahwa kesempatan ini harus disambut dengan syukur, mengingat masih banyak pelajar hingga pegawai yang belum memiliki kemampuan membaca Alquran secara benar.

Menurutnya, kondisi itu perlu menjadi perhatian bersama. Ia menilai kolaborasi pemerintah, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci dalam memperbaiki literasi qurani di tengah tantangan zaman.

Ia mengatakan, program Karantina tahfiz tidak hanya menjadi ruang untuk menambah hafalan, tetapi juga moment penting bagi para siswa untuk memperbaiki diri secara spiritual.

Baca Juga: Pelunasan Haji Sulsel Baru 21 Persen, Ikbal Ismail Ingatkan Jemaah Haji Batas Akhir 23 Desember

Dukungan serupa disampaikan Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sulsel, Ishak Iskandar, yang hadir mewakili Gubernur Sulsel untuk membuka kegiatan.

Ishak Iskandar menilai program ini adalah langkah strategis pembentukan karakter generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral.

Ia menyebut pendidikan berbasis Alquran sebagai pondasi penting pembangunan SDM Sulsel di masa depan.

Pemprov Sulsel berharap penguatan nilai keislaman dapat menjadi tameng bagi pelajar dari berbagai persoalan sosial seperti penyalahgunaan narkoba, judi online, hingga pergaulan bebas yang semakin mengkhawatirkan.

Ketua MUI Sulsel, Prof. KH. Najmuddin AS, yang juga memberi sambutan, turut memberikan dorongan kepada para peserta agar memanfaatkan karantina ini sebaik-baiknya.

Menurut KH Najmuddin, kecintaan kepada Alquran harus tumbuh sejak muda dan dipelihara sepanjang hidup.

Ia mengingatkan bahwa menghafal Alquran membawa kemuliaan bukan hanya bagi penghafalnya, tetapi juga bagi kedua orang tua yang ikut mendapatkan derajat tinggi di sisi Allah SWT.

Selama 20 hari, peserta akan mengikuti rangkaian materi yang mencakup tahfiz, tahsin, pendalaman tajwid, serta pembinaan adab.

Baca Juga: Enam Dosen UMI Raih Guru Besar di Akhir 2025, Termasuk 2 Profesor Perempuan. Ini Nama-Namanya

Pendampingan intensif ini tidak hanya menargetkan peningkatan hafalan, tetapi juga pembentukan karakter Qurani yang tercermin dalam akhlak dan keseharian mereka. ***